
Entah ada apa dengan Ander, seharian ini Ia uring uringan dikantor membuat Semua karyawan kantornya geleng geleng kepala menghadapi Ander yang begitu sensitif.
Hanya salah sedikit saja sudah mendapat amukan dari Ander, padahal biasanya tidak pernah.
"Gila, cakep sih tapi killer banget!"
"Fix, semalem nggak dapet jatah kayaknya. ngamuk trus!"
Gerutuan para karyawan tak sengaja didengar oleh Ran yang sedang lewat.
Ran hanya menghela nafas, mengingat apa yang membuat Tuan nya begitu kesal hari ini.
Hanya karena Nona nya tak mencium tangan Tuannya saja bisa seperti ini apalagi Nona nya memiliki pria idaman lain, Ran benar benar tidak bisa membayangkan.
"Tuan memanggil saya?" tanya Ran yang kini sudah berada di ruangan Ander.
"Carikan aku makan siang!" balas Ander ketus, sama sekali tak menatap Ran.
"Apa Tuan tidak ingin makan siang bersama Nona?" tanya Ran membuat Ander mendelik ke arahnya.
"Tidak! dia sudah membuatku kesal hari ini."
"Tapi Nona bilang ingi-"
"Sudah ku bilang tidak! kenapa kau ini."
Ran kembali menghela nafas, "Maafkan saya Tuan, jika seperti itu saya akan menghubungi Nona jika Tuan tidak ingin makan siang dengannya."
"Apa maksudmu?"
"Baru saja Nona menawarkan diri ingin makan siang bersama Tuan, namun jika Tuan menolak saya akan mengatakan pada Nona dan-"
"Ayo berangkat sekarang!" Dengan cepat Ander sudah berdiri didepan Ran.
"Kemana Tuan?"
"Kau bilang Nona ingin makan siang bersamaku!" ketus Ander lalu berjalan mendahului Ran.
Ran hanya bisa menahan tawanya, rasanya ingin Ran tertawa sekeras kerasnya melihat sifat kekanakan Tuannya yang sudah bucin namun masih tak mengakui kebucinannya.
....
Ander dan Ran tengah dalam perjalanan menuju toko bunga milik Eliya, tak lupa mereka mampir membeli nasi padang kesukaan Eliya.
Sesampainya disana Ander segera keluar membawa dua porsi nasi padang. Matanya mencari cari dimana Eliya, hingga seorang karyawan toko menghampirinya.
"Tuan mencari Nyonya?"
"Ya, dimana dia?"
"Nyonya sedang berada diruangannya."
Ander mengangguk dan berjalan menuju ruangan Eliya. Sesampainya disana Ia melihat Eliya tengah terlelap di sofa.
"Apa dia lelah?" batin Ander.
Ander meletakan nasi padang di meja lalu duduk di pinggir sofa. Ia amati wajah cantik istrinya yang kini tengah mengandung anaknya itu.
"Cantik..." gumam Ander ingin mengelus pipi Eliya namun keburu Eliya bangun dan terkejut dengan kedatangan Ander.
__ADS_1
"Ayo makan, aku sudah lapar." ajak Ander mengeluarkan dua bungkus nasi padang.
Sementara Eliya menatap ke arah Ander penuh keheranan.
"Apa dia menyesali sikapnya tadi pagi?" batin Eliya.
"Kenapa melamun? ayo kita makan."
Eliya terkejut, "Ba-baiklah. aku akan ambil piring dan sendok dulu."
Eliya segera bangkit dan keluar untuk mengambil Sendok dan piring di pantry.
"Wah, nasi padang." Eliya tersenyum girang menatap nasi padang kesukaan nya itu.
Segera Ia membuka kertas bungkus dan memindahkannya di piring.
Mereka berdua pun mulai makan, namun baru satu suapan Ander merasakan perutnya sangat mual hingga Ia menghentikan makan nya.
"Kenapa dimuntahkan?" tanya Eliya yang mengikuti Ander berlari ke kamar mandi yang ada di ruangan Eliya "Padahal rasanya Enak."
"Entahlah, rasanya mual."
Eliya segera mengambilkan air putih untuk Ander.
"Kenapa kamu harus menyiksa Dad seperti ini sih nak." gerutu Ander yang kini sudah kembali duduk di sofa.
Eliya hanya mengulum senyum mendengar gerutuan Ander.
"Katanya kalau istrinya lagi hamil yang ngidam suaminya, besok anaknya bakal sayang banget sama bapaknya."
"Mitos," balas Ander meneguk sisa air putih yang ada di gelas lalu meletakan dimeja.
"Mau makan apa?" tanya Eliya yang belum sempat menghabiskan makanannya.
Eliya mengangguk lalu menghabiskan makanannya, semetara Ander segera bangkit untuk menghampiri Ran.
"Belikan aku bubur kacang hijau."
Ran menatap ke arah Tuan nya, berharap Ia sedang salah dengar. "Dimana Ia bisa mendapatkan penjual kacang hijau di siang bolong begini?" batin Ran.
"Kenapa malah melonggo? apa kau tidak dengar!"
"Ba-baik Tuan."
Ran segera memasuki mobilnya sebelumnya Ia sempat mendengar ucapan Ander, "Jangan lama lama!"
Ran memutar bola matanya malas lalu melajukan mobilnya pergi dari toko Eliya.
Ander segera kembali ke ruangan Eliya dan melihat piring Eliya sudah kosong di nikmati si empunya.
"Nambah lagi?" tawar Ander menutup pintu ruangan lalu duduk di sofa.
"Punya kamu aja aku habisin ya?" tanya Eliya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Ander mengangguk setuju, "Habisin kalau kamu mau."
Eliya segera mengambil piring Ander dan menyantap isi piringnya tanpa sisa.
"Aku baru tahu kamu makan nya banyak." cibir Ander usai Eliya menghabiskan sepiring nasi padang miliknya.
__ADS_1
"Efek hamil, bawaan nya laper trus."
"Yang penting sehat dua duanya." Ander mengelus perut Eliya membuat Eliya kembali gugup dan jantung nya terasa berdetak cepat.
Pintu ruangan diketuk menganggu romansa keduanya, dengan malas Ander bangkit dan membuka pintunya.
"Kenapa lama sekali!" ketus Ander kala Ran yang mengetuk pintu membawa sebungkus kacang hijau pesanan nya.
"Maaf Tuan, nyari dulu soalnya."
"Alasan!"
"Udahlah, kamu tuh kenapa sih marah marah trus. yang penting udah dapet kan?" Eliya berdiri dan hendak keluar mengambil mangkuk untuk Ander, tak tega melihat Ran di marahi hanya karena kesalahan sepele.
"Seneng kamu ya dibelain! udah sana pergi." usir Ander.
"Baik Tuan." tak menunggu lama Ran segera pergi dari sana.
...
"Kenapa sih harus marah sama bawahan sampai segitunya?" Eliya memindahkan kacang hijau di mangkuk.
"Biar dia disiplin, kerja cepat dan nggak lemot kalau di suruh apa apa!"
Eliya berdecak, "Tapi ya liat liat dong, siang gini pasti susah nyari bubur kacang hijau."
Ander hanya memutar bola matanya malas dan segera menikmati kacang hijaunya.
"Apa ini bawaan dedek bayi nya apa cuma perasan aku aja sih mas. kamu akhir akhir ini berubah."
Uhuk ... uhuk... Ander terbatuk batuk mendengar pengakuan Eliya.
"Be-berubah gimana?"
"Gampang banget marah sama emosi, kemarin kemarin kamu kan baik banget sama aku." keluh Eliya.
"Dasar bodoh, ya iyalah aku harus bersikap kayak gini karena sebentar lagi aku bakal ninggalin kamu." batin Ander.
"Berarti sekarang nggak baik gitu?" tanya Ander membuat Eliya panik takut Ander salah paham dengan maksudnya.
"Ng-nggak gitu mas. kamu sekarang agak emosian aja, nggak cuma sama aku tapi juga sam-"
"Dahlah, kamu bikin aku nggak nafsu makan." Ander meletakan mangkuk yang masih berisi kacang hijau di meja lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Eliya.
Eliya menatap punggung Ander dengan perasaan sedih.
Ander keluar dari toko, seharusnya Ia merasa senang sekarang karena berhasil membuat Eliya sedih namun entah mengapa berbanding balik dengan perasaannya yang tidak karuan. Antara rasa bersalah dan tak tega melihat raut wajah sedih Eliya.
"Shit, sialan!" Ander menutup pintu mobil sekeras mungkin membuat Ran terkejut.
"Tu-tuan..."
"Apa? senang kan kamu dibelain sama Nona trus!" ketus Ander menatap Ran tajam.
"Oh astaga apa lagi ini." batin Ran.
Niatnya Ran ingin mengembalikan mood Tuan nya malah membuatnya semakin buruk.
Selamat datang di neraka mu Ran.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN....