DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
22


__ADS_3

Rania sibuk berkutat didapur milik neneknya, memasak makan siang untuk dirinya dan neneknya.


"Kok tumben banyak banget masaknya?" tanya Mbah Mirah kala menghampiri Rania di dapur.


"Masa sih nek banyak? ya udah nanti kalau sisa banyak kita kasih ke tetangga aja ya Nek?" usul Rania yang langsung diangguki Mbah Mirah.


Rania tersenyum lebar, yeah Ia memang sengaja memasak banyak untuk diberikan pada Tiga berandal terutama untuk ehem Ander, pria yang sudah beberapa hari ini mengosak asik pikirannya.


Dan malam harinya, Rania kembali ingin pergi ke rumah Ander untuk memasak disana lagi meskipun tadi Ander tidak meminta namun ini inisiatif dari Rania sendiri.


"Lho kamu mau kemana malem malem gini?" tanya Nek Mirah.


"Masih jam 7 nek, Rania pergi ketemu temen temen ya nek?"


"Ya sudah tapi jangan pulang malem malem ya. Anak gadis nggak baik pulang malem." jelas Nek Mirah.


"Iya Nek, siap." Rania hendak keluar rumah,


"Eh sebentar, apa tadi kamu ngasih makan siang sama anak anak itu?" tanya Nek Mirah membuat Rania terkejut.


Dari mana Nenek tau? batin Rania.


"Eh, emm tadi Bu Tejo nggak ada dirumah Nek, jadi makanan yang tadi Rania siapin dirantang Rania kasih ke Ander sama adik adiknya." jelas Rania sedikit gugup.


Nek Mirah terlihat menghembuskan nafas lelah, "Kamu jangan terlalu bantuin mereka."


"Lho, kenapa Nek?" Rania tentu terkejut mendengar Neneknya mengatakan hal seperti itu. Padahal biasanya Nek Mirah terkenal dermawan dan sangat baik. Jangankan hanya makanan apapun yang Nek Mirah miliki jika para tetangga sedang membutuhkan pasti akan diberikan.


"Mereka itu sedang dihu- pokoknya jangan bantuin mereka." jelas Nek Mirah memotong penjelasnya membuat Rania semakin penasaran.


"Sedang apa Nek?" Rania tak menyerah.


"Ya pokoknya jangan bantuin mereka lagi." jelas Nek Mirah yang langsung pergi meninggalkan Rania yang masih sangat penasaran.


Rania hanya menghembuskan nafas panjang, .


Lalu sekarang bagaimana? apa dia harus tetap pergi atau menuruti neneknya?


Rania pun akhirnya mengurungkan niatnya pergi dan memilih memasuki kamarnya. Ia tak ingin membantah neneknya.


Sementara tiga berandal kini tengah sibuk main game offline, dikarena kan di kampung ini tidak ada sinyal maka mereka memilih memainkan game online untuk menghibur mereka, tak ada hiburan lain di sini selain game offline yang ada di ponsel mereka.


"Arg, sial. gue kalah lagi." Revan membanting pelan ponselnya di kursi samping Ia duduk.


"Ck cuma main tetris aja kalah terus." ejek Randi yang kini sudah meletakan ponselnya.


"Tertris juga butuh perjuangan, Btw Elo nggak tidur? biasanya kan tidur paling cepet gegara kecapekan!" Revan tak mau kalah dan mengejek kakaknya.


Bugh... Randi menendang kaki Revan dan menggerutu "Sialan!" yang membuat Revan terkekeh.


Andee hanya geleng kepala melihat tingkah Revan dan Randi lalu kembali melanjutkan main game nya.


"Eh tumben nih tuh cewek nggak kesini?" celetuk Revan tiba tiba.


"Siapa? Rania maksud Lo?"

__ADS_1


"Iya siapa lagi?"


"Udah naksir Lo? segala ditanyain!" goda Randi.


"Kagak lah, gue penasaran aja biasanya kan udah kesini udah pasang wajah manis didepan Ander!"


"Ck, ngapa gue dibawa bawa sih!" kesal Ander menghentikan main game nya.


"Ya kan emang gitu,"


"Trus Lo cemburu?" tanya Ander sengit.


"Idih, nggak banget lah ya. ambil sana!"


"Gue nggak doyan!" balas Ander santai.


"Dia kan doyan nya si ugly!" Randi menimpali.


Plak... Ander menampar pipi Randi pelan,


''Sakit bang..." Randi memeganggi pipi yang baru saja ditampar Ander.


"Makanya kalau ngomong yang bener!"


"Lagian Lo tuh aneh bang, udah dideketi cewek banyak gitu kenapa nggak dicantolin salah satu kan lumayan." kata Randi masih mengelus elus pipinya.


"La Lo juga, kenapa nggak dicantolin satu?"


Randi tertawa,


Plak...


Bughh...


"Kalau ngomong yang bener." Randi dan Ander meninggalkan Revan setelah memukul dan menampar Revan.


"Sialan kalian."


.....


Paginya seperti biasa mereka langsung beraktifitas di kandang milik mbah Mirah.


Sudah beberapa hari bekerja disana, kini mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan mereka.


"Ngerasa ada yang aneh nggak sih?" tanya Revan kala mereka berjalan pulang ke rumah.


"Aneh apa emang?"


"Tuh Si Rania, kok tumben seharian nggak nonggol? biasanya kan selalu standby buat kita."


"Etciee... kangen." goda Randi.


"Ck, kagak lah. gue cuma penasaran bukan kangen."


"Ya emang agak aneh sih, apa kita ada salah sama dia?" kini Ander ikut menimpali.

__ADS_1


Randi mengendikan bahunya "Tau deh, udah ah nggak usah dibahas nggak penting. Sekarang lebih baik kita cari makan gue udah laper."


"Betul banget, tapi nggak usah masak. sumpah masakan Lo nggak enak banget." celetuk Revan.


"Brisik Lo! gitu aja Lo habisin!" kesal Ander.


"Ya dihabisin lah, mubadzir makanan dibuang."


"Banyak bacot!"


Revan tertawa renyah.


....


"Bagaimana? apa ada kabar dari mereka?" tanya Alex pada Sandi saat perjalanan pulang.


"Kabar mereka sangat baik Tuan, Mereka sangat menikmati hukuman dan bekerja dengan baik disana." jelas Sandi.


Alex mengendurkan dasinya dan menghela nafas lelah.


"Aku merindukan putraku, segera akhiri hukumannya dan jemput mereka." ucap Alex.


"Tuan yakin?"


"Ya, mereka pasti sudah banyak mendapatkan kesusahan disana. sudah cukup mereka pasti tak akan mengulangi kesalahan yang sama." jelas Alex.


"Baiklah Tuan, jadi kapan saya menjemput mereka?"


"Lusa, jemput dan bawa mereka pulang." pinta Alex.


"Baiklah Tuan."


"Bagaimana kabar Ibu mertua mu? apa masih sakit?" tanya Alex. mengingat beberapa hari Sandi terlihat galau karena berpisah sementara dengan Nisa dan Eliya.


Bukan berpisah karena bercerai namun berpisah karena Nisa dan Eliya harus merawat mertuanya yang kini tengah sakit.


Liburan kali ini Eliya memang meminta ijinnya untuk pergi kerumah neneknya namun disana malah mendapati Sang Nenek sakit membuat Nisa khawatir dan ikut pergi kesana, alhasil Sandi harus berpuasa karena berpisah dari Nisa membuatnya galau dan tidak bersemangat beberapa hari ini.


"Masih Tuan, Nisa dan putri saya sedang merawat beliau disana."


"Hahahaha, lalu kau kesepian?" ejek Alex membuat Sandi kesal namun Ia tahan, tentu saja Sandi tahan lagian mana berani Sandi membalas ejekan dari Tuan nya itu.


"Tidak masalah Tuan, saya masih bisa menahannya."


"Benarkah? aku pernah mengalaminya selama 40 hari dan rasanya sangat luar biasa. bagaimana dengan mu?" goda Alex.


"Dasar mesum, bisa bisanya menanyakan hal semacam itu padaku!" batin Sandi kesal.


"Saya baik baik saja Tuan."


"Hahaha, ya kau harus baik baik saja jika masih ingin bersama istrimu." ucap Alex yang membuat Sandi mengerutkan keningnya binggung.


"Dan, aku sangat kagum pada putrimu. dia tumbuh menjadi gadis baik dan penyanyang."


Sandi tersenyum lebar "Terimakasih Tuan."

__ADS_1


__ADS_2