
Eliya terlihat berkali kali duduk, saat meyalami semua tamu undangan. wajah Eliya yang sedikit pucat membuat Ander sedikit khawatir.
"Jika lelah, pergi ke kamar saja biar aku sendiri yang menyalami semua tamu." bisik Ander.
"Aku baik baik saja."
"Tapi kamu terlihat pucat."
Eliya menggeleng pelan, "Aku masih kuat."
"Batu," ketus Ander merasa perintahnya tak digubris oleh Eliya.
"Congrats..." Suara Rania, Ia menyalami Ander sebelum akhirnya berpindah pada Eliya.
"Kamu... " Eliya terlihat mengingat siapa wanita yang ada didepannya itu.
"Kita pernah bertemu disupermarket, Aku Rania. Ingat?"
"Ah ya wanita ramah itu." gumam Eliya.
"Kalian saling mengenal?" Ander terlihat bingung menatap keduanya.
"Ya kami pernah bertemu."
"Jadi kamu juga mengenalnya?" tanya Eliya pada Ander.
"Ya kami cukup dekat." ucapan Rania sontak membuat Ander sedikit kesal begitu juga dengan Eliya yang terlihat tak suka dengan pengakuan Rania.
"Tidak sedekat itu." bisik Ander di telinga Eliya, Ander tak ingin Eliya salah paham.
"Aku tak tau jika suamiku dekat dengan wanita lain. dia tidak pernah bercerita tentangmu."
Sontak ucapan Eliya membuat Rania kesal, Niatnya ingin memanasi Eliya namun nyatanya Eliya tidak selemah itu.
"Hey ayolah, antrian dibelakang masih banyak." suara seseorang dari belakang Rania membuat Rania segera pergi dari situ membuat Ander maupun Eliya tersenyum puas.
"Apa kalian sedekat itu?" Bisik Eliya dengan nada tak suka membuat Ander ingin tertawa keras karena tau istrinya sedang cemburu.
"Tidak, kami hanya berteman biasa, apa kamu tidak percaya?"
Eliya segera gugup, "Bu-bukan begitu. aku hanya bertanya."
Setelah acara selesai, Eliya dan Ander segera pergi ke kamar pengantin mereka. Yah meskipun sudah satu bulan berakhir nyatanya Alex masih berbaik hati menyediakan kamar pengantin layaknya pasangan yang baru saja resmi dan juga tiket honeymoon berharap mereka bisa segera memberikan cucu.
"Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Eliya saat Ander baru saja keluar dari kamar mandi.
"Siapa?" Ander mengeryit heran, Ia benar benar tak mengerti dengan maksud Eliya.
"Ra-rania, sejak kapan kamu mengenalnya?" tanya Eliya dengan nada gugup.
__ADS_1
"Oh astaga, jadi masih masalah Rania?" Ander tersenyum geli lalu mendekati Eliya yang duduk di pinggir ranjang.
"Jadi apa istriku ini cemburu?" goda Ander membuat Eliya mendelik tak terima lalu menyangkalnya.
"Ti-tidak! aku tidak cemburu. aku hanya bertanya."
Ander kembali terkekeh, "Benarkah?"
"Ck, aku mau pipis." Eliya bangkit lalu berjalan cepat ke kamar mandi.
Ander tertawa puas, "Semuanya terlihat semakin mudah."
Sementara didalam kamar mandi, Eliya yang sudah mandi lebih dulu dari Ander kini hanya duduk di closet duduk sambil merutuki kebodohannya.
"Bodoh, seharusnya aku tak menanyakan itu." gerutu Eliya sangat malu karena Ia ketauan cemburu.
Cukup lama Eliya duduk di closet hingga akhirnya Ia bangkit dan keluar, berharap Ander sudah tidur. Dan senyum Eliya mengembang kala melihat Ander berbaring memunggunginya.
"Sepertinya sudah tidur." batin Eliya.
Dengan gerakan pelan, Eliya berbaring disamping Ander. namun baru saja Ia berbaring, Ander sudah berbalik dan memeluknya membuat Eliya terkejut.
"Ak-aku pikir kamu sudah tidur."
"Apa yang kamu lakukan di kamar mandi? kenapa lama sekali?" tanya Ander sambil mengecupi pipi Eliya lalu berpindah ke leher Eliya menimbulkan rasa geli.
"Oh aku kira malu karena ketahuan cemburu." goda Ander membuat Eliya mendelik karena ketahuan cemburu.
"Ti-tidak, aku memang buang air besar." sangkal Eliya membuat Ander tersenyum lalu memeluknya.
"Kamu harus cemburu karena kamu istriku."
Deg... entah mengapa ucapan Ander membuat Eliya bertambah gugup. Jantungnya berdetak kencang dan wajahnya mulai memanas.
Cup, satu kecupan mendarat di bibir Eliya.
"Sebenarnya aku ingin malam ini, tapi karena kita sama sama lelah jadi lebih baik kita istirahat saja." kata Ander yang hanya di angguki Eliya.
"Kamu masih belum menjawab," kata Eliya ragu.
"Masih Rania lagi?" Ander menghela nafas tak percaya. Wanita jika sudah ingin tau sesuatu pasti mengejarnya pikir Ander.
Eliya mengangguk, "Aku tidak pernah melihatnya bersamamu."
Ander tersenyum geli, "Aku mengenalnya sudah lama. waktu dikampung."
"Ah jadi waktu kamu dihukum dulu?"
Entah mengapa membahas masalah hukuman membuat Ander kesal dan langsung mengingat tentang balas dendamnya.
__ADS_1
Ander hanya membalas anggukan karena Ia tiba tiba kesal.
"Tapi katanya kamu dekat dengan nya?" Eliya masih penasaran.
"Tidak, aku hanya teman biasa. sudahlah aku mau tidur." kata Ander membalikan badan dan sedikit menjauh dari Eliya membuat Eliya heran.
"Apa dia marah?" batin Eliya melihat Ander yang mendadak kesal.
Hingga pukul 2 dini hari, Eliya sama sekali belum bisa memejamkan matanya padahal Ia sudah mendengar dengkuran dari Ander yang artinya suaminya yang lebih dulu terlelap sementara dia masih terang benderang tidak segera terpejam.
"Apa mereka pernah memiliki hubungan khusus?" batin Eliya mengingat sikap Ander yang langsung marah saat Ia menanyai masalah Rania.
Eliya menghela nafas, Jika benar Ander dan Rania pernah memiliki hubungan khusus, Ia tentu saja sedikit minder karena jika dari fisik Rania jauh lebih sempurna dari dirinya.
Rania wanita kekinian yang wajahnya kinclong dengan skincare yang mahal sementara dirinya hanya wanita biasa yang jarang sekali mengenakan make up.
"Kenapa juga aku harus merasakan perasan seperti ini." batin Eliya kesal dengan dirinya sendiri lalu kembali mencoba memejamkan mata.
Hingga 15 menit Ia memejamkan mata namun tak kunjung terlelap, akhirnya Eliya bangun dan keluar duduk di blankon sambil menikmati pemandangan malam yang sangat indah.
Sementara Ander yang sedari tadi belum tertidur hanya pura pura tertidur bisa merasakan keresahan Eliya.
Sebenarnya Ander ingin membiarkan saja dan harusnya juga Ia merasa senang karena berhasil membuat Eliya sedikit patah hati dengan sikapnya namun entah mengapa Ander justru ikut merass resah dan tak tenang apalagi melihat Eliya sekarang duduk di blankon dengan raut wajah sedih membuat Ia benar benar tak tega.
Perasaan sialan macam apa ini! batin Ander kesal lalu menghampiri Eliya.
Eliya terkejut saat sebuah tangan besar merengkuh tubuhnya dari belakang.
"Kenapa masih belum tidur?" tanya Ander membuat Eliya kembali gugup.
"Ak-aku pikir kamu sudah tidur."
"Mana bisa aku tidur jika tak ada istriku di sampingku." kata Ander seketika membuat wajah Eliya memanas.
"Kamu masih memikirkan tentang Rania?"
Eliya mengangguk namun seketika Ia mengeleng membuat Ander tersenyum.
"Aku dan dia tidak pernah memiliki hubungan spesial, hanya berteman biasa jadi jangan khawatirkan masalah apapun."
"Benarkah?" tanya Eliya dengan raut wajah berbinar membuat Ander gemas.
Ander mengangguk membuat Eliya tersenyum lega dan memeluknya.
"Kenapa juga aku harus melakukan ini, seharusnya aku biarkan saja." batin Ander merutuki dirinya sendiri.
Entahlah, seharusnya Ander senang melihat Eliya sedih namun faktanya justru Ia merasa lega dan bahagia melihat Eliya kembali tersenyum sudah tidak salah paham lagi.
BERSAMBUNG....
__ADS_1