DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
96


__ADS_3

"Kamu hamil?" tanya Revan menatapi tespack yang masih diperutnya.


Rania mengangguk pelan, sejujurnya Rania takut mengatakan ini pada Revan, takut jika Revan tak mau mengakuinya namun kenyataanya semua itu tidaklah terjadi.


"Jadi sebentar lagi aku akan menjadi ayah?" tanya Revan dengan senyuman mengembang membuat hati Rania mendadak menghangat.


Revan bangkit untuk duduk, "Hati hati." kata Rania.


Revan lalu meminta Rania duduk diranjangnya membuat Rania hanya bisa menuruti permintaan Revan.


Mereka kini sudah duduk berhadapan dan tanpa diduga Revan mengelus perut Rania yang masih rata. Lagi lagi perlakuan Revan membuat hati Rania menghangat.


"Kamu akan tetap melanjutkan nya kan?" tanya Revan tiba tiba membuat Rania sedikit tersinggung. "Aku janji setelah aku sembuh akan segera menikahimu."


"Apa aku sejahat itu dimatamu, sampai harus membuang calon anak ku sendiri?" Rania menatap kesal ke arah Revan membuat Revan malah terkekeh.


"Jangan marah, aku hanya bertanya. lagipula bukankah kamu sendiri yang selalu mengatakan jika tidak akan pernah bisa mencintaiku. aku hanya tidak ingin kamu terpaksa menjalaninya denganku." jelas Revan membuat Rania menunduk.


"Maafkan aku." kata Rania.


Revan mengenggam 5 buah tespack lalu memberikan pada Rania "Aku pasti tanggung jawab." kata Revan menggenggam tangan Rania "Tunggu sampai aku sembuh."


Tanpa disadari Rania tersenyum "Kamu percaya jika ini anakmu?"


"Memangnya dia bukan anak ku?"


Rania memukul kaki Revan yang tak sakit, "Tentu saja anakmu, kamu pikir aku melakukan dengan semua orang!"


Revan terkekeh, "I believe you and i got you dear."


Rania tersenyum, tangan mereka berdua masih saling mengenggam. Sudah lama Rania tak merasakan ini semua. kehangatan hatinya, dulu Ia hanya bisa merasakan ini saat dirinya dekat dengan Ander saja namun nyatanya waktu merubah segalanya.


"Cepat sembuh." kata Rania yang langsung diangguki oleh Revan.


"Apa kamu sudah tak sabar ingin menikah denganku sekarang?" goda Revan dengan raut wajah bahagia, "Aku juga sudah tidak sabar membayangkan adegan malam pertama kita apakah lebih pa-aduhh."


"Dasar mesum!" kata Rania memukul lengan Revan yang lecet saking kesalnya mendengar ucapan Revan, tidak bukan kesal tentu saja Ia malu.


Revan terkekeh, "Jangan marah, kamu bahkan lebih liar saat diranjang." kata Revan membuat pipi Rania merona memerah malu.


Mereka berbincang sambil sesekali tertawa hingga ada ketukan pintu dari luar, ternyata Ander dan Eliya yang kini memasuki ruangan Revan.

__ADS_1


"Apa Gue menganggu kebahagiaan kalian?" tanya Ander berjalan mendekat sambil terus mengandeng tangan Eliya membawa mendekat juga.


"Ganggu banget, ngapain Lo kesini?" tanya Revan ketus sementara Rania terlihat kembali memasukan tespack yang Ia pegang.


"Tuh sayang, dengerin respon sodara songgong. kita baik baik mau jengukin malah digalakin." adu Ander pada Eliya.


"Eh gue malesnya sama elo, kalau sama Eliya mah gue fine fine aja." balas Revan membuat Eliya terkekeh sementara Ander menggerutu sebal.


"Bagaimana kabarnya? apa sudah membaik?" tanya Eliya pada Revan.


"Sudah, sekarang sudah boleh turun ke kamar mandi juga."


"Syukur jika sudah membaik." Eliya terlihat ikut senang.


"Sudahkan? sekarang lebih baik kita pulang." ajak Ander membuat Eliya mendelik kesal ke arahnya. Baru beberapa menit disini Ander sudah mengajaknya pulang.


"Kenapa buru buru? aku bahkan belum mengusir kalian." kata Revan dengan nada bercanda.


Ander bukannya tak ingin berlama lama disini, namun melihat ada Rania, Ia sedikit tak nyaman mengingat Rania pernah memiliki masalah dengan nya.


"Ya sudah, kita pamit pulang ya. semoga lekas sembuh." kata Eliya setelah Ander terus menatapinya dengan tatapan memohon.


Revan mengangguk, dan mereka berdua pun akhirnya keluar dari ruangan Ander.


"Iya... aku tau."


"Lagipula, bagaimana jika Ia mengodaku didepan istriku? aku tak ingin istriku ini kembali marah karena melihatku digoda wanita lain."


"Percaya dirimu terlalu tinggi." kata Eliya lalu berjalan meninggalkan Ander lebih dulu.


Mungkin untuk saat ini Eliya tidak terlalu mengkhawatirkan orang ketiga dirumah tangganya. melihat sikap Ander yang begitu menyayangginya dan juga sebentar lagi mereka akan punya Baby, rasanya tak ada alasan Ander untuk bisa berpaling. Eliya mempercayai Ander sepenuhnya.


"Sayang tunggu aku." Ander terkekeh dan mengejar Eliya hingga keduanya lagi lagi menjadi bahan tontonan semua orang yang ada di klinik.


...


Malam harinya Randi berjaga, bergantian dengan Riska yang harus pulang kerumah. Randi menatap aneh ke arah Revan yang sedari tadi mengulas senyum seolah sedang bahagia.


Tak mengubris Revan, Randi malah memilih keluar untuk mencari seseorang, ya seseorang yang tak lain adalah Risha yang mendapat jatah shift malam karena harus mengontrol keadaan Revan. itu tugas resmi dari bos besar Vano.


"Mas? butuh sesuatu?" tanya Risha menatap ke arah Randi yang mendekatinya.

__ADS_1


Randi tersenyum lalu menggeleng "Cuma mau mastiin aja kalau kamu nggak diculik orang, cantik banget soalnya takut ada yang khilaf trus nyulik kamu." kata Randi yang seketika membuat wajah Risha merona.


"Udah makan malam?"


Risha melirik ke arah jam dan tersenyum "Udah bukan malam malam lagi ini, sarapan harusnya."


Randi terkekeh, mengingat ini sudah pukul 12 malam.


"Lho mau kemana?" tanya Randi saat Risha bangkit dan berjalan meninggalkan nya.


"Ke mushola, mau ikut mas?" balas Risha yang lantas membuat Randi mengaruk kepalanya.


Mushola? Randi saja bahkan lupa kapan terakhir dirinya sujud diatas sajadah.


...


Randi kembali keruangan Revan dan melihat Revan masih terjaga.


"Habis dapet apa Lo dari tadi senyum kayak orang waras?" heran Randi mengambil botol air dan hendak meminumnya.


"Dapet anak." Randi mengerutkan keningnya mendengar jawaban nyleneh Revan.


"Gue bakal nikahin Rania."


Seketika air yang baru saja Randi teguk langsung disemprotkan ke wajah Revan saking terkejutnya.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen...


.Terimakasih buat kalian semua yang sudah mengikuti cerita ini sampai sejauh ini.


btw ini ceritanya udah mau end lhoo... dulu awalnya aku pngen bkin Randi dijebak juga di sini cuma kyk nggak nyambung aja... beda sama Ander dan Revan yang mereka dijebak karena ada alasannya, sementara Randi kyk enggak ada jadi aku mutusin buat bikin cerita Randi sendiri... pasti kalian juga tau lah Randi jodohnya bakal sama siapa..... hehe


Dan buat Revan sama Rania, emng mereka itu udah aku pasangin sejak awal, kayak Eliya dan Ander bedanya cuma kalau Revan dan Rania ini bnyk masalah rumit nggak kyk ander dan Eliya yang hnya salah paham aja.


duh duh malah jadi kemana2😁


Gini gengs, aku tu mau minta saran dari kalian... kira kira judul yang pas buat Randi sama Risha apa ya? menurut kalian nih...


Sekali kali minta saran readers boleh kan ya wkwkw .

__ADS_1


makasih buat yang mau jawab...


__ADS_2