DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
113


__ADS_3

Hari ketiga menempati rumah baru, kini Revan dan Rania sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Revan sudah berangkat ke bengkel sementara Rania masih bersiap. Tadinya Revan ingin menunggu Rania sekaligus mengantar Rania ke kafe namun Rania menolak karena ingin berangkat sendiri menaiki mobil kesayangannya.


Meskipun sebenarnya Revan khawatir namun apalah daya Revan jika Rania memaksa.


"Non berangkat sendiri?" tanya Bik Rum melihat Rania sudah rapi.


"Iya Bik, Buat makan malam nanti masakin ca bayam sama cumi balado ya bik." pinta Rania.


"Siap Non, eh Non lagi hamil muda kenapa nggak minta antar saja? takut kenapa napa kalau nyetir sendiri." kata Bik Rum mengingatkan.


"Tenang aja bik, aku setrong kok." Rania terkekeh. "Ya udah Bik aku brangkat dulu ya."


"Iya Non hati hati." Bik Rum terlihat cemas.


Rania segera melajukan mobil kesayangan nya menuju kafe yang jaraknya lumayan jauh dari rumah baru yang Ia tinggali.


Sesampainya dikafe, Rania disibukan dengan banyak pekerjaan karena Ia sudah beberapa hari tidak datang ke kafe. Para karyawan kafe nya pun senang karena Rania kembali. setelah sebelumnya Mama Rania yang menguasai kafe dan sekarang kafe itu sudah kembali milik Rania.


Tanpa Rania sadari, sudah hampir pukul 12 siang. sudah waktunya untuk makan siang. Rania merenggangkan kedua tangannya, Ia ambil ponsel yang ada dimeja, hendak menghubungi Revan namun pintu ruangan terbuka dan sudah ada Revan disana.


Rania tersenyum, menyambut suaminya "Padahal baru mau aku telepon." Rania mempelihatkan ponselnya.


"Udah kangen banget nih?" goda Revan yang langsung saja mengecup kening Rania.


Rania hanya mencibir,


"Mau makan siang apa?" tanya Revan sambil mengenggam tangan Rania.


''Lagi pengen bakso nih." balas Rania cepat karena memang dirinya sedang ingin makan bakso.


''Oke siap Tuan putri, ayo kita beli bakso terenak di daerah sini."


Rania terkekeh, "Emang kamu tau tempatnya?"


"Udah yokk, ikut aja." Revan masih mengenggam tangan Rania dan mengajaknya keluar.


Mobil Revan berhenti disebuah taman, dimana samping taman itu terlihat penjual bakso gerobakan yang ramai pembeli.


''Katanya nggak boleh makan pinggir jalan." cibir Rania mengingat saat dirinya ngidam seblak Revan sempat protes makanan pinggir jalan.


''Ini makanan pinggir jalan yang beda dari yang lain sayang, yokk."


Keduanya pun keluar dari mobil, Revan segera memesan bakso langganan nya itu, sementara Rania mencari tempat duduk yang masih kosong.


"Panas ya?" tanya Revan saat Rania mengibaskan tangannya.


''Nanti dijamin bakal ketagihan deh." kata Revan lagi yang hanya diangguki Rania.


Sebenarnya Rania juga menyukai makanan pinggir jalan, hanya saja terkadang Rania memilih yang sepi dan tidak terlalu ramai seperti ini. jika terlalu ramai membuat Rania kurang nyaman.

__ADS_1


Pesanan bakso sudah datang, keduanya segera menyantap bakso yang masih hangat itu.


"Enak kan?" tanya Revan melihat Rania makan begitu lahapnya.


Rania mengangguk, "Pantas aja ramai ya."


Revan balas mengangguk, "Nanti kalau mau nambah bilang sama aku."


"Oh ya nanti malem kayaknya bakal pada datang ke kafe." kata Revan.


"Siapa?


"Biasa Ander sama Randi. tau tuh tumben banget mereka ngajakin kumpul."


Rania hanya berohh ria saja.


"Kamu udah nggak apa apa kan ketemu sama Ander?"


Rania tersenyum, " Nggak lah, semua udah berlalu juga."


Revan kembali mengenggam tangan Rania, "Makasih sayang, udah mau nerima aku." kata Revan membuat Rania tersipu malu.


"Apa sih, malu dilihat orang." kata Rania yang sontak membuat Revan menoleh kesamping dimana orang orang tengah menatapnya.


Tepat pukul 7 malam, Ander mengajak Eliya ke kafe Rania. terlihat sekali perut Eliya yang sudah membuncit membuat Rania mengelusi perutnya tak sabar menunggu perutnya juga membuncit seperti itu.


"Apa kabar?" tanya Eliya ramah saat keduanya sedang berjabat tangan.


"Kita duduk disana ajalah, gabung sama bapak bapak nggak bakal paham apa yang mereka omongin." ajak Eliya yang langsung diangguki oleh Rania. Mereka berdua duduk dimeja samping meja Ander dan Revan.


"Perut kamu udah keliatan buncit banget." kata Rania saat keduanya sudah duduk.


Eliya mengangguk, "3bulan lagi."


"Nggak kerasa cepet banget ya."


Eliya kembali mengangguk, "Kamu mau program hamil juga?" tanya Eliya yang sontak membuat Rania terdiam.


"Aku malah udah hamil," batin Rania.


"Eh nggak usah dijawab, maaf kalau aku bikin kamu nggak nyaman." kata Eliya merasa tak enak melihat raut wajah Rania yang berubah.


"Nggak apa apa, aku juga udah hamil kok." balas Rania sambil memaksakan senyum.


"Alhamdulilah, congrats yaa." Eliya mengenggam tangan Rania dan terlihat ikut senang mendengar kehamilan Rania.


"Ak-aku minta maaf." kata Rania membuat Eliya terkejut dan menatap Rania heran.


"Minta maaf kenapa?" Eliya bingung karena merasa Rania tak mengatakan apapun yang menyakitinya.

__ADS_1


"Maaf karena dulu pernah bikin masalah sama kamu dan Ander."


Eliya tersenyum "Semua udah berlalu, kita lupakan saja dan nikmati kebahagiaan kita sekarang."


"Kamu beneran udah maafin aku?" tanya Rania lagi yang langsung diangguki oleh Eliya.


"Jadi sekarang kita temenan?" tanya Rania terlihat senang.


Eliya mengangguk, Ia juga terlihat sangat senang.


Sementara dimeja para bapak,


"Randi nggak kesini?" tanya Ander.


"Baru otewe katanya." Revan memperlihatkan ponsel isi pesan Randi.


Ander mengangguk, "Gimana nikah? enak? main trus nih keliatan muka Lo mesum." goda Ander yang hanya didengusi Revan.


"Masih belum sempet, capek gegara pesta kemarin."


"Ck, cemen!" ejek Ander.


Revan tak mengubris, sejujurnya Revan juga ingin melakukan setiap saat namun mengingat kondisi Rania yang hamil muda juga peringatan keras dari sang Papa membuat Revan lebih menahan diri. agar Rania juga calon anaknya selalu sehat dan aman.


Randi datang dengan wajah murung, Ia langsung duduk dan menyeruput minuman milik Revan.


"Anjir, minuman gue woy!"


"Pesen lagi lah, ribet amat jadi orang." ketus Randi kembali meneguk isi gelas hingga habis.


"Lo kenapa dateng dateng kok ketus?" tanya Ander heran.


"Palingan ditolak sama Risha." ejek Revan.


"Siapa Risha?" tanya Ander yang memang belum mengenal Risha.


"Asisten bokap gue." balas Revan yang langsung diangguki Ander.


'"Nggak usah sok tau!" ketus Randi lagi.


"Gue lagi kesel sama maanger gue, bisa bisanya dia ngasih kerjaan terus. mau libur sehari aja ngomel nggak henti henti." curhat Randi yang langsung membuat Ander dan Revan terkekeh.


"Kirain ditolak sama Risha." ejek Revan lagi.


Randi terdiam, setelah pertemuan diresepsi saat pernikahan Revan, Randi memang belum bertemu lagi dengan Risha membuat Randi tiba tiba ingin menemui Risha lagi.


Wanita soleha calon pendamping masa depan batin Randi tersenyum mengingat Risha.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


jangann like vote dan komen..


jangan lupa juga follow akun author yaa


__ADS_2