
Karena menahan rasa malu, Ander bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Eliya, meskipun Eliya menolak namun Ander memaksa. sementara Lisa menatap keduanya bingung berbeda dengan Nando yang malah terkekeh melihat tingkah malu Ander.
"Pak, pak Ander..." Suara Naya terdengar mengikuti langkah Ander dari belakang membuat Ander menghentikan langkahnya namun tangan nya masih mengenggam tangan Eliya.
"Ada apa?"
"Meeting nya kan belum selesai pak? tadi katanya ke toilet kok lama sekali." protes Naya membuat Ander ingat tujuan dirinya kemari adalah meeting dengan klien nya namun sekarang malah berakhir seperti ini.
Tadinya memang Ander meninggalkan meeting dengan alasan pergi ke toilet padahal Ander ingin menemui Eliya namun karena terlalu kesal dan hanya fokus memikirkan Eliya, Dirinya melupakan meeting penting ini.
"Ah iya, katakan pada mereka jika aku mendadak sakit dan harus pulang." kata Ander yang membuat Naya melonggo.
"Dan kamu harus bisa menghandel semuanya, aku percayakan padamu." kata Ander lagi dan langsung menarik tangan Eliya membawanya keluar.
"Ta-tapi pak..." belum sempat Naya protes, Ander sudah tak terlihat lagi.
"Gila nih bos, bisa bisanya ninggalin meeting penting kek gini. sial banget dah gue." gerutu Naya lalu kembali ke meja nya dimana para klien nya sedang menunggu jawaban persetujuan dari Ander.
...
Ander membuka pintu mobil untuk Eliya, dengan malas Eliya memasuki mobil Ander dan diikuti oleh Ander.
"Tuan... Nona..." Ran yang berada didepan cukup terkejut melihat kedua majikan nya berada dimobil bersamaan.
"Antarkan ke apartemen." Eliya menatap ke arah Ander,
"Tidak, aku tidak mau ke apartemen." protes Eliya.
"Kita harus bicara dan menyelesaikan semuanya." kata Ander tegas membuat Eliya seketika gugup.
"Ta-tapi di toko masih membutuhkan ku."
"Biarkan Ran yang mengantikanmu disana."
"Sa-saya Tuan?" Tentu Ran terkejut harus mengantikan tugas Eliya di toko bunga.
"Kenapa? kau tidak mau? mau kupecat saja?"
Dengan helaan nafas panjang akhirnya Ran mengiyakan perintah dari Ander meski sebenarnya Ia tidak mau melakukan nya namun apalah daya jika sudah diancam akan dipecat lebih baik Ia menurut saja.
"Baiklah Tuan..."
"Ta-tapi aku.."
"Tapi apalagi? kita harus segera menyelesaikan ini sayang."
Kata sayang yang keluar dari mulut Ander membungkam bibir Eliya hingga membuat Eliya diam dan menurut.
__ADS_1
"Benar, ini memang harus segera diselesaikan." batin Eliya menatap ke arah luar.
Mobil melaju, ketiganya sama sama diam hingga suara Ander membuyarkan lamunan Eliya dan Ran.
"Berhenti di sini."
"Kenapa?" tanya Eliya heran karena mereka belum sampai di apartemen.
"Kau turun, naik taksi dan pergi ke toko bunga, biar aku yang mengemudi." kata Ander pada Ran.
Awalnya Ran ingin protes namun melihat pelototan mata Ander akhirnya Ia mengalah, toh ini juga mobil milik Ander, Ran bisa apa.
Ran akhirnya turun, Ander mengajak Eliya pindah dikursi depan dan Eliya menurut kemudian mobil melaju meninggalkan Ran di pinggir jalan.
"Dasar bos sialan." gerutu Ran kala mobil Ander sudah tak terlihat lagi.
Dengan terpaksa Ran menghentikan sebuah taksi dan pergi ke toko bunga.
...
Mobil Ander berhenti disebuah taman, Ander mengajak Eliya turun dan duduk di pinggir danau yang ada di taman itu.
"Ada yang ingin kamu makan?" tanya Ander.
Eliya hanya menatap Ander kesal, seharusnya Ia sekarang sedang menikmati rujak yang ada dimeja makan tadi namun gara gara Ander Ia bahkan tak sempat mencicipi rujaknya.
"Tidak ada..."
Ander mengenggam tangan Eliya, "Maafkan aku..."
"Maaf sudah berniat akan menyakitimu, aku hanya... itu hanya sifat kekanakan ku saja tapi percayalah, sekarang aku sudah melupakan semuanya bahkan aku tak lagi memiliki niat seperti itu."
"Jadi... mau kah kamu memaafkan ku dan memulai semuanya dari awal lagi?"
Tanpa Eliya sadari air mata Eliya mulai menetes membuat Ander semakin merasa bersalah.
"Ken-kenapa kamu melakukan itu?" tanya Eliya dengan suara bergetar.
"Aku dulu hanya kesal padamu..."
Eliya menatap heran ke arah Ander "Kau bersalah jadi kau pantas mendapatkan hukuman."
"Tidak, justru karena aku tidak bersalah dan mendapatkan hukuman yang tidak adil menumbuhkan dendam itu padamu."
Eliya berhenti menangis dan malah terkekeh, "Bagaimana bisa kau menyebut tidak bersalah saat kamu membully anak anak culun disekolah!"
"Itu hanya untuk menutupi saja, percayalah aku tidak seburuk itu." jelas Ander yang masih membuat Eliya terkekeh tak percaya.
__ADS_1
"Jelas jelas waktu itu aku melihatmu mendorong-"
"Aku tidak mendorong gadis itu, aku hanya menghindari pegangan tangan nya dan dia jatuh. apa itu salahku?" Ander mulai kesal karena Ia tak diberi waktu untuk menjelaskan dan Eliya malah semakin memojokan nya.
"Aku hanya menakut nakuti mereka, aku tidak pernah kasar, memukul bahkan menyakiti mereka, itu semua ku lakukan karena aku ingin menutupi-"
"Menutupi kenakalanmu?" sela Eliya sinis.
"Astaga, dengarkan aku dulu." Ander benar benar kesal.
"Aku, Randi dan Revan setiap bulan menyisihkan uang saku kami untuk membantu keluarga mereka yang menjadi target sasaran kami."
Eliya malah terkekeh, "Dan kamu malah membully mereka? apa karena kalian merasa sudah membantu mereka jadi bisa seenaknya membully mereka?"
Ander meremas rambutnya, Sungguh tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada Eliya.
"Kami hanya tak ingin orang orang tau jika kami suka membantu dan akan membuat orang orang datang pada kami dan bermuka dua didepan kami."
Eliya cukup tercengang,
"Itulah sebabnya, kami tidak ingin terlihat baik didepan orang dan hanya kenakalan saja yang selalu diperlihatkan, semata mata hanya ingin melihat orang yang benar benar butuh bantuan."
"Percayalah, aku tak pernah menyakiti mereka." Ander kembali mengenggam tangan Eliya.
Eliya terdiam cukup lama, sepertinya Ia kini paham apa yang membuat Ander menjadi begitu benci padanya hingga memiliki dendam seperti ini.
Semua karena Eliya sendiri, Eliya yang tak tau apa masalah mereka dan Eliya juga yang menyarankam hukuman berat untuk mereka.
"Jadi ini salahku? aku yang membuatmu seperti ini? aku-"
Ander mendekap Eliya, "Apa kamu sudah mengerti sekarang kenapa aku seperti ini? aku benar benar tak bisa menahan egoku, maafkan aku."
"Maafkan aku, aku yang bersalah, aku sudah membuatmu menderita." kata Eliya dengan tatapan bersalah bahkan matanya mulai memerah ingin kembali menangis.
"Tidak, ini bukan salahmu sayang. kita hanya salah paham."
"Jadi bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi? aku janji akan menjadi suami yang baik untuk mu dan Ayah yang baik untuk baby kita."
Eliya mengangguk lalu memperat pelukan nya.
"Woy jangan mesum disini dong."
Teriakan seseorang dari belakang membuat Ander dan Eliya terkejut namun setelahnya mereka terkekeh.
BERSAMBUNG...
Tuh gays... nggak cuma Ander kok yang salah, Eliya juga salah...
__ADS_1
jadi jangan bully Ander lagi yaaa hehehe
jangan lupa like vote dan komen...