DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
64


__ADS_3

Hampir setengah hari Ander duduk di ruangan nya namun tak mendapatkan hasil apapun. Yang Ia lakukan hanya memarahi para karyawan yang datang ke ruangan nya. Padahal mereka tak melakukan kesalahan fatal.


"Gila cokk, tuh si boss kenapa dah!" Airin membanting berkas yang baru saja Ia bawa keruangan Ander namun tak diterima oleh Ander malahan dirinya yang kena omel.


"Paling nggak dapet jatah, gue tadi juga diomelin." keluh Rena yang berada disampingnya.


"Yang bikin kesel itu dia nggak marahin kerjaan gue tapi dia ngomelin muka gue!"


"Kok bisa?" Rena mengerutkan keningnya heran.


"Airin kamu kenapa pakai lipstik tebel banget? pake bedak juga tebel banget? mau merayu saya? jangan harap saya tertarik karena istri saya jauh lebih cantik dari kamu." Airin menirukan suara Ander membuat Rena terpingkal.


"Gue tau istrinya dia itu cantik parah, cuma nggak usah bandingin sama gue lah. gue juga ogah ngerayu bos killer macam dia." Airin masih terlihat kesal sementara Rena tak henti hentinya terpingkal.


"Nggak usah ngetawain gue bisa nggak sih? rese lo ah!"


"Sorry sorry, abis lucu banget."


"Palingan si Bos lagi ada masalah sama istrinya jadi ya gitu deh."


"Ya tapi kan nggak di lampiasin ke kita juga kali."


Ekhemm... Suara deheman membuat Airin dan Rena terkejut dan langsung terdiam.


"Kalian mau kerja apa mau ngerumpi?" tanya Ran yang tak sengaja mendengar omelan Airin dan Rena.


"Maaf mas, lagi kesel soalnya."


"Mas? kamu pikir saya suami kamu." ketus Ran lalu meninggalkan Airin dan Rena yang melonggo.


"Anjir banget, nggak bosnya, asistennya sama aja ngeselin nya."


"Udah udah, lanjut kerja aja dari pada kena marah lagi." kata Rena mengingatkan.


...


Sebelum memasuki ruangan Ander, Ran menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya. mendengar gerutuan para karyawan dikantor membuat dirinya bersiap juga mendengar omelan Ander.


"Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. oke Ran lakukan saja." gumam Ran yang akhirnya membuka knop pintu dan tadaaa... Mata Ander sudah menatapnya tajam dari meja kerjanya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ander sedikit menyentak.


"Maaf Tuan, saya tadi dipanggil pukul 11.55 dan sekarang pukul 11.58. hanya 3 menit untuk perjalanan Tuan."


"Harusnya kamu itu standby, 1 menit sudah datang jika aku panggil."

__ADS_1


Ran hanya melongo, "Jika saja dirinya jin, setan atau sebagainya yang bisa menghilang mungkin hanya membutuhkan waktu 1 detik saja tapi dirinya manusia butuh jalan, naik lift masih jalan lagi jadi bagaimana bisa Ander hanya memberinya waktu 1 menit." Batin Ran menggeleng tak percaya.


"Kenapa malah bengong? kamu pikir saya mengaji kamu buat begong?" sentak Ander membuyarkan lamunan Ran.


"Ti-tidak Tuan, maaf."


"Sekarang kamu beli nasi padang trus anter ke toko istriku." pinta Ander.


"Jika Non Eliya tidak ada di toko bagaimana Tuan?"


Ander menepuk jidatnya kesal dengan kebodohan Ran, "Carilah, kamu cari dimanapun Eliya sampai ketemu dan tau jika aku membelikan nasi padang untuknya.".


"Ba-baik Tuan." Ran berjalan keluar dari ruangan Ander.


...


Ran keluar dari mobil membawa satu bungkus nasi padang kesukaan Eliya,


"Pasti cari mbak Eliya ya?" tanya salah satu karyawan toko yang langsung diangguki Ran.


"Mbak Eliya nya nggak masuk tuh."


"Kamu tau alamat rumahnya?"


"Kan mbak Eliya tinggal di apartemen."


"Ngapain mas? mau ngelamar ya? padahal mbak Eliya udah punya suami."


Ran memutar bola matanya malas melihat kegenitan karyawan toko itu.


"Udah kasih aja." ketus Ran.


"Nggak usah galak galak lagi mas! ganteng ganteng kok galak!" ketus karyawan toko itu lalu menuliskan alamat dikertas dan memberikan pada Ran.


"Makasih." Ran segera berjalan keluar tak lagi mengubris gerutuan karyawan toko itu.


Dasar aneh, tadi genit sekarang kek mak lampir batin Ran.


....


Sementara itu, Alex masih tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar. Itu suara Ander, benar benar nyata suara Ander dan kenapa Ander melakukan itu semua.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Alex yang sebenarnya sangat malu dan merasa tak enak dengan Sandi. Alex yang meminta Sandi untuk menjodohkan putrinya dengan Ander, berharap Ander bisa menjaga Eliya dengan baik namun kenyataan nya, Ander benar benar mengecewakan nya.


"Setelah Eliya pulang ke rumah saya mencari tau apa yang terjadi di toko, dan orang toko mengatakan jika ada seseorang yang datang akhirnya saya melihat rekaman cctv."

__ADS_1


"Dan saya menjadi tau permasalahan ini berawal dari wanita yang datang itu."


"Wanita yang datang itu dekat dengan Ander bahkan dengan Revan dan Randi. saya pernah melihatnya beberapa kali."


"Jadi apa Ander Memiliki hubungan spesial dengan wanita itu?" Alex menyela ucapan Sandi.


"Tidak tuan, justru Ander menolak cinta wanita itu. mungkin itu penyebab wanita itu ingin merusak hubungan Ander dan Eliya."


"Malam nya saya mengikuti Ander yang ternyata pergi ke kafe wanita itu karena Ander sudah tau yang memberikan rekaman ini pada Eliya adalah Wanita itu."


"Disana Ander terlihat marah bahkan mengancam wanita itu lalu pergi meninggalkan rekaman ini dimeja. jadi saya bisa mengambil rekaman ini dan tau masalah apa yang kini mereka hadapi."


"Hanya kesalahpahaman masa lalu, membuat mereka seperti ini." Sandi mengakhiri penjelasan nya.


"Apa ini kesalahan kita?"


Sandi mengangguk "Sepertinya ini kesalahan kita karena dulu menghukum Ander terlalu berat tidak sepadan dengan apa yang dia lakukan."


"Lalu sekarang apa rencanamu?" tanya Alex.


"Menurut saya, lebih baik kita jangan terlalu ikut campur. saya percaya jika mereka saling mencintai akan kembali dengan sendirinya."


"Apa kamu yakin? bahkan Ander saja mengatakan jika ingin meninggalkan Eliya dan anaknya."


"Tidak, itu tidak akan terjadi karen sebenarnya Ander sudah mulai mencintai Eliya." jelas Sandi membuat Alex mengerutkan keningnya heran.


"Jika Ander belum mencintai Eliya dan ingin melanjutkan rencananya, Ia tak akan mungkin sepanik itu saat Eliya tau rekaman nya bahkan Ander rela menurunkan gengsinya datang kerumah semalam."


"Kerumah?" Alex masih belum paham.


"Ya datang kerumah, niatnya mungkin ingin menemui Eliya dan menjelaskan semuanya namun saya pikir belum waktunya."


"Jadi kau usir dia?" bukan nya marah, Alex justru terkekeh dengan pengakuan Sandi.


"Bukan mengusir Tuan, saya hanya menyuruhnya pulang, padahal jika dilihat sebenarnya dia ingin menginap." mengingat semalam Sandi langsung tertawa.


"Ya dia memang harus diberi sedikit pelajaran." kata Alex masih terbahak.


"Sementara kita diamkan saja keduanya, karena saya mempunyai rencana untuk membalas perbuatan wanita itu."


Alex mengangguk setuju, "Kau benar, kita harus membalas perbuatan wanita itu. jadi apa rencanamu?"


Sandi hanya tersenyum membayangkan rencana apa yang akan Ia berikan pada Rania.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...


__ADS_2