DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
101


__ADS_3

Setelah melewati beberapa minggu berada di klinik dan hanya berbaring, finally Revan sembuh meski masih harus kontrol setiap seminggu sekali sampai sembuh total.


"Seneng kan Lo, dah pulang." kata Randi yang pagi ini membantu Revan membereskan semua barang yang ada di ruang inap Revan.


Memang setelah membicarakan dengan Ander minggu lalu, sikap Randi sudah mulai biasa dengan Revan. Tak lagi mendiamkan Revan seperti saat awal Randi tau jika Revan akan menikahi Rania.


"Gue udah nggak sabar." kata Revan.


"Pokonya terus semangat, jangan menyerah." kata Randi.


Randi merasa ada yang aneh dengan sikap om Vano akhir akhir ini. Jika biasanya om Vano akan mengajaknya bercanda setiap kali memasuki ruangan Revan namun sekarang Om Vano hanya memeriksa Revan saja dan langsung keluar tanpa ada ocehan menyebalkan seperti biasanya.


Membuat Randi bertanya tanya, Apa sebenarnya om Vano sudah tahu jika Revan menghamili Rania lantas kecewa atau Om Vano tak merestui hubungan mereka?


Entahlah, Randi tak ingin memikirkan itu. Melihat wanita soleha nan cantik yang kini sedang berdiri didepan klinik sedang menunggu angkot lewat membuat otak Randi beralih dengan cepat.


"Hee, gimana kalau Lo turun trus naik taksi aja?" tawar Randi membuat Revan melotot ke arah Randi tak percaya.


"Gila Lo ya? gue baru aja sembuh. bisa bisanya nyuruh gue turun." kesal Revan.


Revan menatap ke arah depan hingga Ia tau alasan Randi ingin dirinya turun dari mobil, "Dasar sodara laknat Lu." Tanpa menunggu lagi Revan keluar dan membanting pintu mobil Randi kasar.


"Sorry Van, tapi masa depan gue lebih penting." kekeh Randi langsung saja melajukan mobilnya dan berhenti tepat didepan gadis soleha nan cantik seperti Risha.


Risha mengerutkan keningnya kala Randi keluar dan berjalan mendekat.


"Nungguin angkot neng?" tanya Randi membuat Risha hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Yuk bareng abang aja, naik angkot abang." kata Randi menbuat Risha terkekeh. terdengar lucu saja Randi memanggil Risha neng.


"Nggak usah mas, bentar lagi angkotnya datang." tolak Risha sopan.


"Eh didalam agama islam kan nggak boleh nolak rejeki ya?" kata Randi "Kalau abang nganter eneng pulang kan sama aja rejeki neng dapet tumpangan gratis." rayu Randi.

__ADS_1


"Didalam agama juga nggak boleh, laki laki sama perempuan berduaan sebelum sah , takut menimbulkan fitnah bang." balas Risha membalas Randi membuat Randi terkekeh.


Benar benar mengemaskan wanita yang ada didepan nya ini, selalu saja tersipu setiap kali bicara dengan nya dan tak berani menatapnya lama seperti kebanyakan wanita wanita lain yang selalu saja mencari perhatian dirinya.


"Ngode nih minta di sah in?" goda Randi membuat pipi Risha seketika merona malu.


"Bu-bukan gitu bang, hanya saja-"


"Kalau bukan gitu berarti mau dong abang anterin pulang. kalau nggak mau berarti memang ngode maunya diajak nikah dulu." kata Randi yang lantas membuat Risha menghela nafas panjang dan terpaksa mengiyakan permintaan Randi.


"Dasar tukang maksa." gerutu Risha saat memasuki mobil membuat Randi terkekeh mendengarnya.


"Eh eneng gimana kalau kita sarapan dulu, kan semaleman udah kerja pasti sekarang laper banget nih." kata Randi mengingat Risha masih mendapat jatah shift malam dan baru pulang pagi ini.


Namun jawaban dari Risha membuat Randi tercenggang,


"Maaf mas, eh maaf bang, saya puasa."


"Puasa sunnah, setiap senin sampai kamis." kata Risha yang hanya diangguki oleh Randi.


"Saya turun didepan gang sana saja bang, soalnya kos saya masuk gang dan nggak bisa masuk mobilnya." kata Risha menunjukan sebuah gapura yang tak jauh dari tempat mereka sekarang.


"Kamu ngekos?"


Risha mengangguk, "Saya bukan orang sini."


"Oke, biar aku anterin kamu jalan kaki."


"Eh nggak perlu bang?"


"Kenapa?"


"Takut menjadi fitnah orang yang lihat." jawab Risha malu malu.

__ADS_1


"Beneran besok tak ajak ke kua nih." kata Randi gemas membuat Risha hanya tersipu.


"Padahal aku mau lihat kos kamu, biar kapanpun aku kangen bisa nyamperin kamu." kata Randi saat mobilnya sudah berhenti disamping gang yang dimaksud Risha.


"Jangan datang bang, soalnya kos saya itu ketat peraturan, nggak boleh bawa pulang cowok." jelas Risha.


"Berarti kalau nggak ketat peraturan boleh dong." goda Randi membuat Risha lagi lagi tersipu dan entah sudah berapa kali Randi membuat Risha tersipu.


"Saya keluar dulu bang, terimakasih sudah mengantar saya."


"Eh tunggu dulu dong," Randi hendak menahan lengan Risha namun dengan cepat Risha menghindar agar Randi tak menyentuh Risha "Maaf." ucap Randi tak enak.


"Apa lagi bang?"


"Minta nomer kamu."


"Tapi saya nggak punya whatsapp."


Randi melonggo, benarkah Risha tak memiliki nomer whatsapp? dijaman secanggih ini?


"Bohong nih pasti?" Randi tak percaya membuat Risha menghembuskan nafas pelan lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Hp saya jadul, mana bisa buat chat whatsapp." kata Risha sambil tersenyum "Udah ya bang, Assalamualaikum." ucap Risha lalu keluar dari mobil.


"Waalaikumsalam." balas Randi masih terkejut melihat ponsel Risha. Ponsel jadul yang pernah jaya pada masanya dulu.


Hingga Randi terpikirkan sebuah ide membuat Risha tertarik padanya.


Randi segera melajukan mobilnya meninggalkan gang sempit yang mungkin akan menjadi tempat yang akan sering dikunjungi dirinya nanti.


Bersambung....


jangan lupa like vote dan komen....

__ADS_1


__ADS_2