
Ran menghentikan motornya didepan toko bunga. Buru buru Nana turun karena takut teman teman nya melihat dan akan membuat kesalahpahaman lagi.
Namun saat Nana hendak memberikan helm pada Ran, suara klakson mobil dibelakang motor Ran mengejutkan keduanya.
Dan Nana semakin terkejut saat melihat mobil Ander dan Eliya yang berada dibelakangnya. berbeda dengan Ran yang terlihat santai.
"Ak-aku masuk dulu." kata Nana sedikit gugup namun baru ingin melangkah pergi, hoodie yang Ia kenakan ditarik oleh Ran hingga dirinya tertahan tak bisa berjalan.
"Apaan sih." kesal Nana pada Ran, apalagi melihat Eliya sudah ingin turun dari mobil.
"Cium tangan dulu sebelum masuk," pinta Ran yang membuat Nana melotot kesal ke arahnya.
"Gila ya Lo, yang bener aja!"
"Ya udah, nggak bakal dilepasin." ujar Ran dengan nada santai membuat Nana semakin kesal namun akhirnya Nana menuruti Ran. Dari pada Ia di sini lebih lama lebih baik Ia menuruti Ran dan segera pergi.
Nana mengambil tangan Ran yang sudah di ulurkan ke arahnya, Ia lalu mencium tangan Ran dan entah mengapa membuat Nana menjadi tersipu malu sendiri. Ran yang melihat wajah merah tomat Nana hanya bisa mengulum senyum.
Perlahan Ran akan membuat Nana jatuh cinta padanya pikir Ran.
Setelah mencium tangan Ran, Nana segera berbalik namun baru saja ingin melangkah, suara nyaring Eliya terdengar memanggilnya.
"Na... tunggu."
Dengan sangat terpaksa Nana menghentikan langkahnya, berbalik lagi dan melihat Eliya dan Ander yang berjalan mendekat.
"Pagi Tuan... Nona" sapa Ran ramah namun Ander hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa membalas sapaan Ran sementara Eliya tersenyum lebar ke arah mereka.
"Jadi begini ya, dibelakang kami kalian berhubungan ya. huh kau tau Ran, kau sudah membuat Ander sa-"
"Sudahlah, jangan bahas lagi!" kata Ander pada Eliya. saat ini Ander memang sedang sangat malu pada Eliya dan Ran karena telah salah menuduh mereka.
Ran sebenarnya ingin terbahak melihat wajah Ander saat ini tapi Ia masih sangat waras untuk melakukan itu semua, jadi Ran hanya mengulum senyum.
"Apa maksud senyuman mu itu? kau nengejek ku?" bentak Ander pada Ran membuat Eliya mencubit pinggang Ran.
"Bisa bisanya kamu memarahinya setelah kemarin salah menuduhnya." kata Eliya dengan nada kesal ke arah Ander.
Ander hanya menunduk, Ran menahan tawanya sedangkan Nana hanya berdiri menatap ketiganya bingung dengan apa yang mereka debatkan.
"Apapun itu, aku senang jika kalian ternyata berhubungan jadi pria posesif yang ada disampingku ini tidak lagi mencemburui aku." sindir Eliya.
__ADS_1
"Ta-tapi mbak, saya sama Ran nggak-"
"Ya udah yuk masuk, kasian yang lain udah pada nungguin di dalam." Ajak Eliya tanpa menunggu ucapan Nana selesai.
Setelah mencium punggung tangan Ander, Eliya segera mengampit lengan Nana dan mengajaknya masuk toko.
Kini tinggalah Ander dan Ran, Yang tadinya Ander menunduk kini giliran Ran yang menunduk karena Ander memandangi Ran dengan pandangan yang tak biasa.
"Maaf, sudah salah paham." ucap Ander yang membuat Ran mendongak dan menatap ke arah Ander dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa? kau masih ingin mengejek ku?" kesal Ander membuat Ran mengulum senyum geli. baru saja meminta maaf sudah kesal lagi.
"Ti-tidak Tuan, tidak apa apa. Saya yang tidak menjelaskan sejak awal hingga menyebabkan kesalahpahaman seperti ini."
"Ya, kau memang bersalah juga, seandainya kau menjelaskan sejak awal, aku tak akan salah paham dan tak akan menuduh Eliya hingga menyebabkan kami bertengkar!" tukas Ander membuat Ran terkejut dan melonggo kearahnya.
"Dasar menyebalkan!" batin Ran.
"Sudahlah, lupakan saja. lebih baik sekarang kau bekerja saja."
"Sa-saya tidak jadi libur Tuan?" tanya Ran penuh keheranan.
"Motor saya gimana Tuan?" tanya Ran sebelum Ander berbalik dan ingin memasuki mobil.
"Kau bisa menitipkan di sini, lagipula motor butut ini. tidak akan ada yang mengambil." kata Ander lalu memasuki mobil membuat Ran mengeram kesal.
"Dasar menyebalkan. gagal sudah rencanaku hari ini." gerutu Ran mulai membawa motornya memasuki parkiran toko.
Niatnya siang nanti Ran ingin mengajak Nana makan siang, lalu malam setelah pulang bekerja Ia ingin mengajak Nana jalan jalan namun karena bos labil sialan nya itu, Ran terpaksa membatalkan rencana nya itu.
Ran memasuki mobil Ander setelah selesai memarkirkan motornya, Ia sempat melirik ke arah Ander yang sedang sibuk dengan ponselnya, segera memasang seatbelt dan mulai melajukan mobilnya.
"Ternyata seleramu bagus juga ya." celetuk Ander kala mereka sudah setengah perjalanan.
"Maksud Tuan?"
"Kau bisa melihat wanita cantik juga, kupikir kekasihmu akan terlihat buruk rupa." kekeh Ander.
"Tu-tuan tidak menyukai Nana kan?" tanya Ran dengan polosnya.
"Apa maksudmu menyukainya? bahkan istriku lebih cantik dari kekasihmu itu!" bentak Ander tak terima, Ran hanya bisa menghela nafas lagi. Salah lagi kan dia.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, karena Tuan mengatakan pacar saya cantik, saya pikir Tuan nenyukainya."
"Lalu jika aku mengatakan kamu tampan apa aku juga menyukai mu begitu?" ketus Ander masih tak terima membuat Ran ingin terkikik geli.
"Tidak Tuan, maafkan saya."
"Buang jauh jauh pikiranmu itu, jadi pria jangan terlalu posesif!" kata Ander yang lagi lagi membuat Ran melongo.
Jika dia disebut posesif, lalu sebutan apa yang pantas untuk Ander? Dewa posesif kah? huh dasar bos super menyebalkan batin Ran.
....
Sesuai dengan permintaan Vano, Siang ini Revan mengambil bekal makan siang Papa nya kerumah dan mengatarkan ke klinik Papanya.
Revan keluar dari mobil, sedikit kagum melihat kesuksesan sang Papa membangun klinik sebesar ini.
Jika saja dirinya tidak menyukai otomotif mungkin Ia akan menerima tawaran Papa nya dulu untuk mengurus klinik ini bersama. Namun Revan juga sangat bersyukur karena Papa nya tidak memaksa kehendak jadi dirinya bisa menjadi apapun yang dia mau.
Revan memasuki klinik, seperti biasa dirinya selalu disambut hangat dan centil oleh para suster yang ada disana.
Ya suster diklinik Papa nya memang terkenal cantik serta muda namun Revan sama sekali tak pernah tertarik dengan mereka.
Revan berjalan menuju ruangan Papa nya, melihat ada seseorang yang duduk dimeja depan ruangan sang Papa, Revan tak mengubris karena Ia sedikit asing dengan wanita itu.
Namun saat Revan memegang gagang pintu dan ingin masuk wanita itu berdiri dan memandangnya aneh.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya wanita berhijab yang kini menbuka masker nya terlihat jelas wajah wanita itu sangat cantik.
"Lo baru di sini?" tanya Revan membuat wanita itu mengangguk.
"Pak Vano masih memeriksa pasien, jika ingin bertemu seharusnya anda membuat janji lebih dulu." kata Wanita itu. suaranya terdengar lembut membuat Revan tanpa sadar menatap wanita itu lama.
"Halo," wanita itu mengerakan tangan nya ke depan mata Revan yang malah melamun sambil menatapnya.
"Apa Gue harus nunggu disini dulu kalau mau ketemu bokap sendiri? nggak usah modus deh jadi cewek meskipun Lo cantik gue nggak tertarik." kata Revan membuka pintu dan memasuki ruangan Vano, sementara asisten pribadi Vano hanya bisa melongo menatap tak percaya mendengar ucapan Revan.
"Bokapnya baik, kenapa anaknya nyebelin banget sih." Wanita itu menghentakan kakinya ke lantai dengan kesal lalu kembali ke mejanya.
Bersambung....
jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1