
Dengan wajah gusar Bianca memasuki ruangan dimana sudah ada Alex dan Vano didalam yang sudah menunggunya.
Mereka memang sering mengadakan pertemuan untuk membahas saham yang mereka tanam diperusahaan Bianca, bisa dibilang saham antar keluarga.
"Ya ampun bang, anak tambah gede bikin pusing aja." keluh Bianca yang baru saja duduk dikursinya.
Alex dan Vano sudah tau permasalahannya karena mereka melihat berita Randi yang berpacaran dengan Keisya artis dan juga anak pengusaha.
"Emang beritanya beneran? sialan banget tuh emang anak Lo!" ketus Vano tiba tiba membuat Alex dan Bianca menatapnya heran. bukankah seharusnya yang emosi Bianca, dan kenapa Vano malah ikut emosi seperti itu pikir Alex dan Bianca.
"Kenapa malah Lo yang emosi?" tanya Alex heran.
"Ya gimana gue nggak emosi, dia udah nyakitin karyawan gue!" kata Vano masih terdengar ketus.
"Karyawan?" Bianca masih terlihat bingung.
"Iya asisten perawat gue dideketin sama Randi. Gue pikir Randi serius eee nggak taunya." kata Vano kesal "Kurang apa coba di Risha, udah soleha, cantik, wanita baik baik." jelas Vano membuat Alex menyerigai sementara Bianca baru paham.
"Barusan call Randi katanya dia dijebak," kata Bianca membela Randi.
"Ck, goblok banget anak Lo!"
"Eh santai dong ngomongnya!" Bianca ikut emosi.
"Nggak bisa santai gue, anak Lo udah bikin Risha nangis." kata Vano menatap tajam Bianca "Tau gini gue nikahin aja si Risha." celetuk Vano membuat Bianca dan Alex sama sama terkekeh.
"Gaya Lo bang mau nikah lagi, suruh tidur diluar nangis Lo!" ejek Bianca.
"Diem Lo! urusin tuh anak Lo udah bikin anak orang nangis." ketus Vano.
"Ck, emang bener bener deh. bikin pusing." keluh Bianca "Tau sendiri kan bang emaknya Keisya itu yang dulu pernah jebak mas Rangga sampai sempet bangkrut." kata Bianca mengingat dulu Lisa mama nya Keisya yang juga seorang pebisnis pernah bermain curang hingga membuat Rangga sempat bangkrut namun akhirnya sekarang bangkit lagi.
Alex tersenyum "Memang Risha anak mana?"
...
Randi menutup pintu apartemen Silla dengan kasar. beruntung para wartawan itu tak mengejarnya sampai sini karena mereka juga tak tahu tempat tinggal Silla.
__ADS_1
"Dah puas Lo?" tanya Randi dengan raut wajah emosi menatap Silla.
"Gue pikir nggak sampai kayak gini, semua nggak sesuai apa yang ada diperjanji-"
"Persetan dengan perjanjian. Gue mau lo batalin kontraknya!" bentak Randi membuat Silla tersentak dan berjalan mundur.
"Lo tau kan Ran, akibat dari pembatalan kontrak itu?" tanya Silla mengingatkan.
"Gue, sama sekali nggak peduli. lebih baik karir gue hancur dari pada gue harus jadi boneka."
"Jadi baiknya Lo batalin perjanjian itu. masalah uang pinalti nanti gue transfer." kata Randi.
Randi berjalan ingin keluar dari apartemen Silla,
"Sorry Ran." Randi berhenti sebentar mendengarkan ucapan Silla lalu kembali berjalan keluar.
Randi memasuki mobilnya, Ia benar benar sudah tak peduli lagi dengan karir keartisan nya. Toh kalaupun memang Ia harus berhenti jadi artis Ia bisa saja menerima tawaran sang Papa dan semuanya beres.
Selama ini Ia jadi artis bukan karena gila dengan uang nya namun karena dirinya mencari hiburan dan untuk mengembangkan bakat terpendamnya.
Randi memarkirkan mobilnya didepan klinik Vano, Ia harus segera menemui Risha sebelum Risha semakin salah paham dan tak mempercayainya.
"Risha pulang mas." kata Nindi teman Risha yang kemarin sempat berfoto dengan nya. terlihat sekali wajah Nindi tidak seramah kemarin membuat Randi menebak pasti terjadi sesuatu pada Risha.
"Pulang?" Randi melirik jam tangan nya, bahkan masih terlalu siang untuk pulang.
"Memangnya ini sudah jam pulang?" tanya Randi heran.
"Tadi disuruh pulang sama dokter Vano." balas Nindi cuek.
"Lagian ngapain sih nyari Risha, bukan nya sudah punya itu tu artis cantik centil si Keisya." cibir Nindi.
"Jadi sekarang Risha ada di kostnya?" tanya Randi tak mengubris cibiran Nindi.
"Ya mana aku tau," balas Nindi acuh dan langsung melenggang pergi meninggalkan Randi yang masih menunggu jawaban.
Randi ke ruangan Vano namun disana kosong, tak ada Vano. didalam ruangan, Randi mencoba menghubungi Risha namun sayangnya ponsel Risha tidak aktif. karena kesal akhirnya Randi keluar dari ruangan Vano. baru sampai didepan pintu, Ia melihat Vano berjalan menuju ruangan nya.
__ADS_1
"Om..." sapa Randi yang sama sekali tak digubris oleh Vano, malah memasuki ruangan nya membuat Randi mengikuti dari belakang.
"Maaf lagi nggak nerima tamu." kata Vano tanpa melihat Randi.
"Om nggak usah bercanda deh."
"Om? kamu siapa ya? aku nggak kenal." kata Vano menatap Randi dengan tatapan bingung membuat Randi hanya bisa melongo.
"Risha mana om?" tanya Randi tak peduli dengan Vano yang sepertinya juga kesal padanya.
"Kenapa kamu tanya sama Om? harusnya kamu tau dia dimana."
"Kenapa Om nyuruh Risha pulang?" tanya Randi lagi.
"Kamu pikir Om tega ngeliat karyawan yang kerja sambil nangis. bener bener kamu ya Ran."
"Bukan nya om kemarin sudah bilang jangan main main sama Risha!"
"Om nggak gitu, cuma salah paham aja. Randi nggak ada niatan buat nyakitin Risha."
"Randi juga nggak nyangka kalau Risha sampai nangis." kata Randi benar benar menyesali keterlambatannya.
Seharusnya kemarin Randi membatalkan kontrak sialan itu tanpa berpikir panjang, Randi merasa dirinya sangat bodoh.
"Om juga nggak nyangka kamu sebrengsek itu!"
"Om... semua cuma salah paham." kata Randi masih membela diri.
"Sudah, lebih baik kamu pergi! om lagi nggak mau lihat muka kamu." kata Vano.
"Kalau sampai Risha nggak mau lagi sama kamu, siap siap biar Om saja yang meminangnya." kata Vano membuat Randi melotot tak terima.
"Meminang siapa mas?" suara dari arah pintu mengejutkan Randi dan Vano hingga keduanya berbalik melihat siapa yang datang.
BERSAMBUNG....
jangan lupa like vote dan komen....
__ADS_1