DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
118


__ADS_3

Randi keluar dari ruangan Vano dengan wajah kesal, namun seketika kesalnya hilang saat melihat Risha sedang menatap ke arahnya meskipun sedetik kemudian Risha langsung menunduk.


"Pulang jam berapa?" tanya Randi.


"Emm- jam..."


"Ris mintain tanda tangan pak Vano, eh ada cogan." teman Risha yang memberikan berkas pada Risha pun mendadak gagal fokus karena keberadaan Randi.


"Eh artis bukan yak?" Nindi teman Risha pun memperhatikan Randi lekat lekat seolah ingin memastikan jika benar memang artis. Apalagi Randi juga tak memakai masker tentu saja semua orang sangat mudah mengenalinya.


"Kak foto bareng dong." Nindi langsung saja mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Risha.


"Fotoin Ris."


"Eh jangan berdua aja." kata Randi membuat Nindi bingung.


"Risha diajak juga." Randi mengedipkan sebelah matanya pada Risha.


"Eh selfi dong kak." kata Nindi "Ya udahlah, yang penting dapet foto sama artis."


"Ayo Ris, buruan." ajak Nindi.


"Ng-nggak usah aja, aku fotoin kalian aja." kata Risha yang tak terbiasa berpose ria.


"Tega Lo Ris, Gue pengen foto sama artis nih. udah yokk buruan." paksa Nindi membuat Risha tak enak hati dan akhirnya ikut selfi dan Randi tampak kegirangan. meskipun ada orang ketiga yang menemani selfi mereka tapi tak apa asal Ia memiliki foto bersama Risha.


"Senyum dong Ris." kata Nindi di pose kedua mereka.


Risha yang masih terlihat kaku akhirnya memaksa kan senyum.


"Ya ampun bagus banget nggak sih." Nindi memperlihatkan hasil selfinya pada Risha dan Randi.


Risha hanya mengangguk, "Aku upload Ig boleh nggak kak?" tanya Nindi.


"Boleh, jangan lupa tag aku ya." kata Randi.


"Siap kak, wah selain ganteng ternyata kakak juga ramah." puji Nindi membuat Randi seketika tertawa.


"Ngapain pada ngumpul di sini." suara Vano mengema saat pintu ruangan terbuka. Nindi dan Risha terkejut berbeda dengan Randi yang menatap Vano sebal.


"Maaf dok, saya hanya mengantar data pada Risha." kata Nindi terlihat ketakutan "Saya permisi dok." buru buru Nindi kabur dari sana.


Sementara Risha kembali ke mejanya dan mengambil data yang baru saja diberikan Nindi.


"Ini data jumlah pasien yang harus dirujuk hari ini dok." kata Risha mengulurkan map serta bolpoinnya.


Vano mengangguk dan langsung menandatangi map itu.


"Kamu sudah makan siang." tanya Vano memberikan kembali map nya pada Risha. Randi yang berada diantara mereka pun menatap sebal ke arah Vano yang terdengar modus.


"Belum dok."

__ADS_1


"Wah kebetulan sekali, yuk makan siang sama saya." Ajak Vano membuat Risha dan Randi menatap Vano bersamaan.


"Tapi sa-saya sudah,"


"Oh kamu juga dibelikan makan siang." kata Vano melirik kotak makan yang ada dimeja.


"Ya udah nggak apa apa, kita makan bareng diruangan saya gimana?" tawar Vano lagi lagi membuat Risha dan Randi sama sama terkejut.


"Wah sepertinya harus laporan sama kanjeng Ratu." celetuk Randi sambil mengeluarkan ponselnya.


Vano pun terbahak, "Sama Randi juga lah, masa cuma kita berdua. bahaya nanti." kata Vano yang membuat Risha benar benar heran. Tak mengerti dengan sikap bosnya yang tak seperti biasanya.


"Saya permisi dok, saya makan di kafetaria saja." kata Risha sopan mengambil kotak makanan lalu pergi dari sana meninggalkan Randi dan Vano.


"Ck, takut istri aja mau nikah lagi." ejek Randi saat Risha sudah pergi.


Vano terkekeh, "Selera kamu bagus juga ternyata."


Randi menatap Vano sebal,


"Dulu Om mau jodohin Revan sama Risha tapi Revan malah punya pilihan nya sendiri."


"Dan malah kamu yang naksir Risha." kata Vano masih terkekeh.


"Jangan main main, dia wanita baik baik." kata Vano mengingatkan.


"Apa sih om, aku bukan fuckboy!" ketus Randi.


"Keliatan sih. emang kamu culun sama kek bapakmu." ejek Vano lalu meninggalkan Randi.


"Oh ya sering sering datang bawa makan siang kalau mau dapet restu dari om." teriak Vano dari jauh membuat Randi seketika tertawa.


"Dasar om matre!"


Sore harinya saat Risha pulang, terkejut karena ternyata Randi masih menunggunya ditempat parkir klinik.


Risha yang keluar bersama temannya pun memberikan kode pada Randi agar jangan mendekat.


"Yakin Ris nggak mau bareng gue aja?" tanya Nindi yang sudah berada di motornya.


"Nggak Nin, aku nanti mau mampir atm dulu." balas Risha.


"Ck, bilang aja udah ditungguin sama cogan itu." sindir Nindi melirik ke arah Randi yang tak jauh dari mereka membuat Risha salah tingkah karena ketahuan.


"Eng-enggak kok."


"Bener juga nggak apa apa Ris, doi kayaknya suka sama Lo." kata Nindi.


"Ck, apa sih Nin." Risha tersipu malu.


"Tapi jangan baper dulu deh mendingan dari pada ntar sakit hati."

__ADS_1


"Gue duluan ya." Nindi segera melajukan motor maticnya meninggalkan Risha.


Setelah Nindi tak terlihat, Randi berjalan mendekat.


"Aku nungguin kamu." kata Randi "Yokk ku antar."


"Sebenarnya aku mau-"


"Udah nggak boleh nolak, ayo." paksa Randi.


Risha pun mengangguk, melihat sekitar dan sepi baru Ia memasuki mobil Randi.


"Mas emang nggak kerja?" tanya Risha merasa seharian Randi berada di klinik.


"Iya lagi free, mungkin besok udah mulai sibuk lagi." balas Randi "Tapi tenang aja, sesibuk sibuknya aku bakal tetep punya waktu buat kamu." gombal Randi membuat Risha tersipu.


"Ck, manis banget sih kalau pipinya merah gitu."


Segera Risha memalingkan wajahnya melihat ke arah kaca samping karena menahan malu.


"Oh ya habis ini ada acara nggak?" tanya Randi.


Risha menggeleng pelan,


"Ikut aku gimana?"


"Kemana mas?"


"Kerumah calon mertua kamu." Jawab Randi sambil terkekeh.


"Maksudnya mas?"Risha tak paham dengan ucapan Randi.


"Kerumah aku, nanti aku kenalin sama papa mama mumpung Papa Mama juga lagi dirumah." kata Randi mengingat hari ini Papa sama Mama nya sedang berada dirumah.


"Egh, maaf mas. saya belum siap." jawab Risha yang memang belum siap bertemu dengan Orangtua Randi.


"Yahhh, kenapa? Papa Mama aku baik kok nggak galak." kata Randi terdengar kecewa.


"Ta-Tapi saya..."


Randi menghentikan mobilnya dipinggir jalan, "Aku mau serius sama kamu."


"Apa yang aku omongin masalah nikah kemarin itu bener nggak bohong makanya sekarang aku mau kenalin kamu sama orangtua sekaligus minta restu dari mereka." jelas Randi membuat Risha hanya menunduk.


"Saya hanya masih belum siap mas." jawab Risha jujur.


"Apa yang membuat kamu belum siap?" tanya Randi mulai frustasi. Baru kali ini Ia merasakan sulitnya menaklukan wanita padahal biasanya dirinya tak perlu seperti ini saja para wanita sudah berdatangan padanya secara sukarela.


"Saya rasa kita nggak sama mas... saya cuma gadis kampung miskin nggak setara sama mas yang..."


"Ya ampun Risha... jadi itu masalahnya."

__ADS_1


.Bersambung...


jangan lupa like vote dan komen....


__ADS_2