
Eliya berbaring di ranjangnya, entah mengapa Ia merasa seluruh tubuhnya lemas. Eliya sadar dirinya belum makan sama sekali seharian ini mungkin itu penyebab Eliya terasa lemas.
Siang tadi saat Dirinya pulang kerumah orangtunya, baik ayah maupun bunda begitu penasaran dengan apa yang terjadi sampai membuat Eliya pulang namun Eliya masih belum ingin bercerita, Eliya masih ingin menenangkan dirinya lebih dulu.
"Eliya sayang, makan yuk. bumil nggak boleh kelaperan dong." Nisa memasuki kamar Eliya dengan membawa nampan berisi makanan.
'"Eliya nggak laper bund."
"Ya ampun Eliya sayang, kalau kamu nggak makan sama saja kamu nyiksa anak kamu yang masih diperut."
"Apapun masalah kamu sama Ander, jangan membuat kamu menyiksa anak kamu."
Mendengar ucapan Bunda nya, Eliya bangkit dan mengambil nampan lalu memakan nya dengan air mata menetes.
"Ibu macam apa aku ini, tega membiarkan anak ku kelaparan didalam sana." batin Eliya.
"Maafkan Mama nak."
"Sebenarnya ada masalah apa sayang? kenapa harus sampai seperti ini?" Nisa terlihat khawatir dengan kondisi Eliya apalagi Ander juga tak mengantarnya pulang. Nisa sudah bisa menebak jika masalah mereka bukan masalah kecil sepele karena berhasil membuat Eliya pulang seperti ini.
Eliya hanya menggeleng lemah sambil terus memaksakan diri memasukan makanan dimulutnya.
"Ya udah, bunda nggak akan maksa kalau Eliya nggak mau cerita."
"Tapi Eliya juga jangan seperti ini, harus tetap makan biar dedek bayinya didalam perut sehat." Jelas Nisa.
"Maafin Eliya Bunda."
Nisa pun segera mengelus rambut Eliya penuh kasih sayang, "Kamu nggak salah sayang, wajar kalau lagi ada masalah kayak gini tapi jangan berlarut larut. oke?"
Eliya mengangguk membuat Nisa tersenyum lega.
Setelah menemani Eliya menghabiskan makanan nya, Nisa segera keluar dan diluar sudah ada Sandi yang menunggunya.
"Gimana? masih nggak mau cerita?"
Nisa menggeleng, "Mungkin El butuh waktu."
Sandi terdiam cukup lama, "Jangan jangan Ander selingkuh mas?" tuduh Nisa.
Sandi hanya terkekeh, "Nggak mungkin, aku bisa pastiin bukan itu masalah mereka."
"Trus apa masalahnya mas?"
"Entahlah, kita tunggu saja mereka berdua yang menjelaskan."
Nisa mengangguk setuju dan segera pergi ke dapur untuk mencuci piring kotor Eliya.
Sementara Sandi menuju ruang depan dan melihat dari tirai, Ia tersenyum menatap sebuah mobil sedan hitam yang sedari tadi terparkir didepan gerbang rumahnya.
....
__ADS_1
Sepulang dari Kafe, Ander berjalan jalan sebentar menggunakan mobilnya seorang diri karena Ia sudah menyuruh Ran pulang sedari tadi.
Hingga entah sadar atau tidak, mobil Ran kini berhenti disebuah rumah yang tak asing untuknnya.
Rumah mertuanya.
Ander menatap ke atas kamar Eliya yang terlihat dari luar, terlihat lampu kamar masih menyala.
"Apa kamu belum tidur?" gumam Ander.
Ander saat ini sedang dilanda kekalutan, Ia ingin masuk ke dalam tapi Ander masih belum siap menjelaskan semuanya pada mertuanya.
Semua ini memang salahnya. Ya seandainya sejak awal Ia menyadari jika sudah jatuh cinta pada Eliya, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin Ia akan bersikap lebih baik pada Eliya.
Ander terlalu ambisi membalaskan dendam sampai Ia tak menyadari jika Ia mencintai Eliya.
Dengan helaan nafas panjang, Ander membuka pintu mobilnya. Ia sudah bertekad akan memperjuangkan cinta nya pada Eliya mulai sekarang.
Ander berdiri didepan pintu gerbang, hendak membuka gerbangnya yang tidak terkunci namun terkejut karena seseorang dari dalam juga membuka pintu gerbangnya.
"Ay-ayah." Ander terlihat gugup kala yang membuka pintu gerbang adalah Sandi ayah mertuanya.
Sementara Sandi menahan geli mendengar Ander memanggilnya Ayah meskipun ini bukan pertama kalinya. Mengingat dulu hubungan Ander Dan Sandi tidak begitu baik. Apalagi Ander yang dulu selalu ketus pada Sandi.
"Aku pikir kau tidak akan masuk."
Ucapan Sandi membuat Ander terkejut karena sudah ketahuan berada didepan sejak tadi.
"Masuklah dulu, kamu pasti belum makan kan?" tanya Sandi yang langsung diangguki Ander.
Ander memang belum sempat makan karena sewaktu dikafe Ia hanya makan kentang goreng dan tidak menghabiskan nya. Sekarang ia sangat kelaparan tentu saja tawaran Ayah mertuanya langsung Ia angguki.
Sandi membawa Ander ke meja makan, disana sudah ada Nisa yang sedang menghangatkan lauk seperti sudah tau dirinya akan datang.
"Eh menantu Bunda datang." Sapa Nisa hangat dan Ramah membuat Ander tersenyum kikkuk.
Jika saja kedua mertuanya tau apa yang ia rencanakan untuk Eliya putri mereka, mungkinkah mereka masih sebaik ini padanya?
Ander duduk disalah satu kursi yang ada dimeja makan, sementara Sandi terlihat keluar ke taman belakang.
"Makan dulu, nanti baru bicara sama Ayah, belum makan kan?" tanya Bunda dengan nada lembut.
Ander menggeleng pelan, mengingat nanti Ia harus menghadapi Ayah mertuanya mendadak nafsu makan hilang.
Ander melirik ke arah atas, pintu kamar Eliya.
"Eliya mungkin sudah tidur, seharian nggak mau makan jadi barusan Bunda paksa mau makan." jelas Nisa seolah mengerti dengan apa yang ingin Ander tanyakan.
"Maa-maaf."
"Sudah membuat Eliya seperti itu." Ander menunduk lesu apalagi mengingat Eliya yang begitu suka makan setelah hamil. Ander benar benar merasa bersalah telah membuat Eliya sampai tak makan seharian.
__ADS_1
Nisa tersenyum menatap Ander, "Bunda nggak tau apa masalah kalian, Bunda cuma ingin kalian bisa menyelesaikan dengan kepala dingin agar tak menyesal nantinya."
"Iya Bund." Ander mengangguk paham, segera Ia menghabiskan makanan nya agar bisa menemui Ayah mertuanya dan Eliya.
Selesai makan, Ander berjalan ke taman belakang dimana disana sudah ada Sandi yang sedang duduk dan merokok.
"Sudah makan?" tanya Sandi saat melihat Ander mendekat ke arahnya.
Ander hanya mengangguk, entah mengapa rasanya sangat gugup.
"Duduklah,"
Ander menuruti Sandi dan duduk tak jauh dari Sandi.
"Sebenarnya apa masalah kalian?" tanya Sandi.
"Hanya masalah kecil, kami pasti bisa menyelesaikan nya." Ander berharap Sandi tak memojokan dirinya agar dia tak perlu mengakui semuanya pada Sandi.
"Jika hanya masalah kecil, mungkin Eliya tak akan pulang seperti ini."
Glek... Ander menelan ludahnya, Ia benar benar bingung harus menjawab apa.
"Semua ini salah saya, maafkan saya." kata Ander menunduk.
"Ya tentu ini pasti salahmu, jika bukan karenamu pasti Eliya juga tak akan seperti ini."
"Oh shit, benar benar menyebalkan. sabar Ander." batin Ander tanpa Ia sadari menatap ayah mertuanya dengan tatapan kesal.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Segera Ander tersadar dan kembali menunduk.
"Selesaikan masalahmu, aku tak akan ikut campur." kata Sandi lalu menghisap kembali rokoknya yang masih setengah.
Cukup melegakan untuk Ander mendengar ucapan Ayah mertuanya, Ia pun segera berdiri dari duduknya.
"Mau kemana kamu?" tanya Sandi.
"Menemui Eliya, saya ingin menyele-"
"Tidak sekarang!" kata Sandi membuat Ander kembali duduk dan meminta alasan Sandi melarangnya.
"Tunggu sampai Eliya tenang, jadi sekarang lebih baik kau pulang dulu."
Ander melonggo?
Pulang?
Padahal Ander pikir Ia bisa menginap di sini bersama Eliya dan ada kesempatan untuk dirinya berbicara pada Eliya. namun kenyataan nya Ayah mertua yang menyebalkan ini mengusir dirinya.
Benar benar menyebalkan.
Next...
__ADS_1