
Malam ini Ander tidak ingin segera pulang, entahlah rasanya Ia masih merasa bersalah dengan Eliya dan masih belum bisa menatap wajah sedih Eliya seperti siang tadi.
"Jadi kita kemana lagi Tuan?" tanya Ran yang sudah keliling kota sampai 3 kali.
Ander memutar otaknya, kemana Ia harus pergi sekarang dan akhirnya Ia menemukan tempat dimana Ia harus menghibur diri.
"Antar aku ke bengkelnya Revan dan setelah itu kamu bisa pulang."
Seketika Ran merasa senang, akhirnya Ia bisa pulang melepas penat dan kesal karena seharian menjadi sasaran omel Ander.
"Baiklah Tuan, tapi nanti Tuan pulangnya bagaimana?"
"Ah iya aku lupa, ya sudah tunggu aku kalau begitu." balas Ander membuat Ran melonggo kecewa.
"Sialan, seharusnya Ia tak menanyakan saja." batin Ran tak jadi senang.
Sesampainya dibengkel Revan, Ander turun dan sebelum turun, "Pulang saja biar aku nanti diantar Ander."
Ran langsung saja mengangguk dan tancap gas meninggalkan bengkel Revan sebelum Ander kembali berubah pikiran.
"Ngapain Lo di sini?" tanya Revan heran saat dirinya masih di sibukan dengan kertas kertas yang berceceran dimejanya.
"Mau servis mobil? udah tutup!"
Revan kembali merapikan kertas kertas itu usai selesai Ia baca.
"Mau ngapelin Elu." Ander duduk disalah satu sofa yang ada di ruangan Ander.
"Tumben tumbenan nih! pasti ada maunya kan? kalau Lo nyuruh gue buat bantuin dendam Lo. Gue nggak mau!" kata Revan yang sudah berdiri didepan Ander dengan kedua tangan yang Ia lipat di dada.
"Ck, pikiran Lo terlalu buruk sama Gue."
Revan hanya tersenyum sinis.
"Gue lagi jenuh aja, butuh hiburan."
"Lo pikir gue tukang lawak! gue capek mau pulang tidur!"
"Gue ikut!"
Revan melotot ke arah Ander.
"Lo lagi berantem sama si beauty?"
"What? beauty?"
"Dulu ugly sekarang udah cantik jadi beauty dong." Ander terkekeh dengan penjelasan Revan.
Ya istrinya memang terlihat sangat cantik sekarang.
"Enggak, gue lagi nggak berantem."
__ADS_1
"Trus? ngapain Lo nggak langsung pulang aja? nggak usah ngrepotin gue lah." kata Revan yang membuat Ander kesal.
Benar benar sialan memang saudaranya itu, maunya ngrepotin nggak mau direpotin.
"Gue udah bilang jenuh. nongki dulu lah yuk." ajak Ander.
"Gue capek, hari ini service mobil banyak banget sampai gue harus turun tangan saking banyaknya, jadi mohon pengertiannya, Lo ke Randi aja lah." kata Revan sambil mengibaskan tangannya mengusir Ander.
"Sialan, ya udah anter gue pulang."
"Lah sopir baru Lo kemana?"
"Udah gue suruh pulang." ketus Ander keluar lebih dulu mendahului Revan.
"Ck, bener bener tuh anak."
Kini keduanya sudah berada didalam mobil, "Yakin nggak mau sama Randi? dia palingan free bisa diajak kemana mana." kata Revan.
Meskipun hubungan Ander dan Randi sudah sedikit membaik namum rasanya Ander masih enggan menemui Randi.
"Anterin gue pulang aja." balas Ander acuh.
"Sorry, bukan nya gue nggak mau bantuin Lo atau nebengin Lo di apartemen gue, takut gue kalau sampai Dad Lo tau bisa di penggal gue." jelas Revan yang membuat Alex memutar bola matanya malas.
Mobil Revan sampai didepan apartemen Ander, dengan malas Ander keluar dari mobil Revan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Makasih kek, kasih duit kek langsung nyelonong keluar aja!" gerutu Revan saat Ander sudah keluar.
Ander membuka pintu apartemen dan benar saja Ia melihat Eliya yang tertidur disofa dengan tv yang masih menyala.
"Apa dia menunggu ku?" batin Ander segera mendekati Eliya dan menatap wajah lelap Eliya untuk kedua kalinya.
"Kalau lelah kenapa harus menunggu?" Ander mendesah tak percaya mengingat akhir akhir ini dirinya sedikit jahat dengan Eliya namun Eliya masih sangat baik padanya.
Ander segera mengendong tubuh Eliya dan membawanya masuk ke kamar. baru saja Ander membaringkan Eliya diranjang, mata Eliya terbuka dan keduanya beradu pandang dalam beberapa menit sebelum Ander memalingkan wajahnya.
"Baru pulang?" tanya Eliya yang langsung di angguki Ander.
"Mandilah, biar ku hangatkan makanan nya. kamu pasti lapar sejak siang belum makan apapun." kata Eliya penuh kelembutan membuat Ander menatap Eliya.
Ingin rasanya Ander mengucapkan kata maaf pada Eliya namun entah mengapa bibirnya berat untuk mengucap.
"Aku... tidak makan nasi. nanti mual lagi."
"Aku sudah membuatkan bubur kacang hijau. sekarang mandi lah." kata Eliya.
Ander masih saja diam memandangi Eliya,
"Kenapa memandangku seperti itu?" heran Eliya.
"Tidak, tidak apa apa. aku mau mandi dulu." kata Ander langsung memasuki kamar mandi dan menutup pintunya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus gugup?" gumam Ander.
Sementara Eliya segera beranjak dan keluar dari kamar untuk menghangatkan bubur kacang hijau yang sore tadi Ia buat.
Sejak siang tadi, Eliya memang sedikit merasa bersalah karena terlalu memaksa Ander. maka dari itu Eliya berinisiatif membuat bubur kacang hijau sebagai permintaan maaf dan juga karena Ander tak menghabiskan makanan nya gara gara Eliya.
Eliya menuangkan bubur hangat ke dalam mangkuk lalu meletakan di meja dimana sudah ada Ander disana.
"Rambutmu masih basah, aku ambilkan handuk dulu." Eliya memasuki kamar dan keluar dengan membawa handuk.
Dengan cekatan Eliya mulai mengeringkan rambut Ander dengan handuk yang Ia baru saja ambil.
"Nah ... sudah kering sekarang. tidak menetes lagi." Eliya tersenyum dan duduk disamping Ander yang lagi lagi menatapnya.
"Kenapa?" tanya Eliya sedikit tersipu dengan tatapan Ander.
"Tidak apa apa." Ander mulai menyuapkan bubur kacang hijau ke dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Eliya penasaran.
"Enak, pas sekali."
Eliya tersenyum, "Syukurlah, makan yang banyak. aku membuatkan banyak untukmu."
Ander mengangguk dan kembali menyuapkan kacang hijaunya.
"Kamu tidak makan?" tanya Ander melihat Eliya hanya menemaninya makan.
Eliya mengeleng pelan "Aku sudah makan tadi, pulang kerja lapar jadi aku makan lebih dulu. maafkan aku."
"Tidak masalah, tidak perlu menungguku."
Mangkuk yang tadinya penuh kini sudah habis, "Mau ku ambilkan lagi? masih banyak." Eliya hendak mengambil mangkuk Ander namun ditahan oleh Ander.
"Tidak perlu, aku sudah kenyang."
Eliya mengangguk dan tetap mengambil mangkuk untuk dia cuci. Sedikit merasa lega karena Ander sudah dalam mood yang bagus tidak seperti tadi siang saat di toko.
Kini keduanya berbaring di ranjang dan saling berhadapan, Eliya sudah hampir memejamkan mata sementara Ander masih setia memandangi wajah istrinya itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Eliya kembali membuka mata dan melihat Ander masih belum memejamkan mata.
"Kenapa kamu baik sekali padaku? padahal aku sering memarahimu?" tanya Ander.
Eliya tersenyum lalu menjawab, "Karena kamu suamiku, kamu calon ayah dari anak kita."
Deg,
Ander membisu menatap Eliya yang masih tersenyum padanya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...