
Rania sedang duduk diruangan Vano, wajahnya terlihat gugup. Ya karena ini pertama kalinya Rania menemui Vano setelah kemarin mereka bertemu diacara lamaran.
Lamaran Revan dan Rania digelar tertutup, tidak terlalu mewah, hanya dihadiri beberapa kerabat saja. Bahkan Mama Rania tidak hadir.
Dan sekarang, Rania datang ke klinik karena diminta oleh Vano. Bukan tanpa sebab Vano meminta Rania datang, Vano ingin memeriksa sendiri calon cucunya itu. Dan tentu saja Rania tak bisa menolak permintaan calon Papa mertuanya itu.
"Sudah lama menunggu ya?" Rania terkejut mendengar suara Vano yang baru saja masuk.
Dan Rania hanya mengangguk pelan, rasanya bibir Rania sulit untuk menjawab Vano.
"Baiklah, lebih baik kita segera keruangan obgyn. disana ada dokter kandungan yang bagus." kata Vano membuat Rania bernafas lega karena bukan Vano sendiri yang memeriksanya.
Rania bahkan tidak bisa membayangkan jika Vano yang memeriksa sendiri, mungkin dirinya akan sangat malu apalagi tak ada Revan yang mendampinginya karena Revan sibuk mengurus bengkel yang sudah lama terbengkalai karena ditinggal sakit oleh Revan.
"Ahh jadi ini calonnya Revan?"Sapa dokter diruang obgyn yang sangat ramah.
"Ya, aku harap jangan ada kesalahan sedikit pun dalam memeriksa kesehatan calon cucuku." kata Vano pada Dokter yang bernama Rina.
"Siap pak dokter, serahkan saja pada ahlinya." balas Dokter Rina sambil terkekeh.
Dokter Rina segera memeriksa Rania, kandungan Rania yang baru berumur satu bulan masih rentan membuat dokter Rina sedikit khawatir.
"Jangan banyak pikiran, jangan stress, kalau lagi hamil muda perasaan harus happy trus ya." ucap Dokter Rina menasehati Rania.
Rania hanya mengangguk sambil tersenyum.
Dokter Rina segera menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh saat hamil.
Rania serius mendengarkan sesekali menanyakan yang tak Ia pahami sementara Vano ikut mendengarkan disana.
Vano memang bukan dokter obgyn namun sedikit Ia tahu tentang kehamilan.
Setelah selesai konsultasi, Rania dan Vano keluar dari ruangan dokter Rina.
"Gimana dokternya? enak kan? nggak galak kan?" tanya Vano saat keduanya sudah berada diruangan Vano.
Rania mengangguk pelan,
"Ikuti kata dokter Rina, jangan terlalu banyak pikiran dan makan yang banyak, vitamin jangan sampai dilupakan." ucap Vano.
Mata Rania mulai memerah, karena untuk pertama kalinya Ia bisa merasakan perhatian seorang Papa.
"Terimakasih Dokter." ucap Rania dengan wajah menunduk namun Vano malah terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa masih memanggilku Dokter?" tanya Vano heran membuat Rania mendongak dan menatap Vano tak mengerti.
"Panggil aku Papa, bukankah sebentar lagi aku aka menjadi Papa mu?" kata Vano yang langsung saja membuat Rania tak bisa menahan air matanya.
"Te-terimakasih... sudah menerima saya." ucap Rania yang langsung membuat Vano tersenyum.
Usai dari klinik, Rania bergegas menuju bengkel Revan untuk makan siang bersama.
"Gimana? digalakin nggak sama Papa?" tanya Revan saat Rania datang.
"Enggak kok, dokter Vano baik." balas Rania mengingat Ia tadi sampai menangis terharu karena perhatian Vano.
"Kenapa kita malah kesini?" tanya Rania heran saat mobil Revan berhenti didepan rumah Vano.
"Mama masak banyak katanya, kita diminta datang."
"Ck, kenapa nggak bilang dulu sih?" wajah Rania terlihat kesal.
"Loh memang kenapa?"
"Tau gitu kan tadi aku bawa bingkisan gitu."
Revan terkekeh, "Nggak usah sayang, kamu nggak bawa apapun nggak bakal di usir kok."
"Kan udah bawa ini." Revan mengelus perut Rania membuat Rania berdecak kesal.
Keduanya masuk rumah dan disambut ramah oleh Riska. Sejujurnya Rania masih tak menyangka saja dengan sikap baik kedua orangtua Revan karena terakhir saat Rania menemani Revan di klinik, sikap kedua orangtua Revan sangat dingin. berbeda sekali dengan sekarang yang sangat baik. apalagi waktu acara lamaran, Mama Riska bahkan sempat memeluk Rania setelah memakaikan kalung dan cincin untuk Rania.
Apa karena bayi yang dikandungnya membuat sikap orangtua Vano berubah? pikir Rania.
"Tadi udah ketempat Papa kan?" tanya Riska setelah memeluk calon menantunya itu.
"Sudah kok tante, sudah diperiksa juga." balas Rania membuat Riska langsung saja terkekeh.
"Kok manggilnya masih Tante sih? Mama dong."
Rania hanya tersenyum malu malu,
"Tadinya Mama mau ikut lihat baby nya tapi karena sibuk didapur sama Bik Siti jadi gagal deh."
"Nggak apa apa tan, eh Ma... lagian belum boleh di usg." jelas Rania.
"Mungkin karena masih kecil usianya jadi belum boleh di usg." tambah Riska yang langsung diangguki Rania.
__ADS_1
"Aku udah laper Ma." celetuk Revan melihat Mama dan Rania malah asyik ngobrol.
"Eh iya sampai lupa kalau mau makan." kekeh Riska langsung mengandeng lengan Rania dan mengajak Rania menuju meja makan.
"Nih, Mama masakin banyak banget buat kalian. Ada sop iga, empal daging, tumis kacang, ayam bakar." Riska memperlihatkan menu makanan yang masih mengepul hangat membuat Rania tak sabar ingin menyantapnya.
"Kakak kamu bilang katanya kamu suka sup iga sama empal daging, jadi hari ini kamu harus makan yang banyak." kata Riska pada Rania yang lagi lagi membuat mata Rania memerah ingin menangis.
"Ma-makasih Ma." Riska hanya mengangguk dan mulai mengajak ketiganya untuk segera makan.
Bahkan saat makan pun, Riska tak segan menambahkan sup ke piring Rania, membuat Rania benar benar merasakan kehangatan keluarga yang seutuhnya.
Yang belum Rania rasakan selama ini dengan Mama nya.
....
Malam harinya, saat Revan pulang Ia sengaja menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk diruang tengah, asyik menonton televisi.
"Kenapa kamu ngeliatin kami kayak gitu?" heran Vano melihat Revan yang duduk menatap dirinya dan Riska dengan tatapan tak biasa.
"Kok Mama sama Papa mendadak baik banget sama Riska?" tanya Revan heran.
"Jadi kamu pengen Papa nggak baik sama Riska?"
"Eh bukan gitu maksud Revan Pa, cuma penasaran aja kok tiba tiba Papa sama Mama berubah baik."
Riska tersenyum, "Ya begitulah orangtua, kadang diawal mereka memang tak suka tapi setelah melihat kamu bahagia sama pilihan kamu, Mama sama Papa juga ikut bahagia."
"Lagi pula Rania juga anak yang baik, Jadi nggak ada alasan buat Mama sama Papa nggak sayang sama Rania." jelas Riska.
Revan tersenyum bangga melihat kedua orangtuanya, "Makasih Ma... Pa... maaf selalu bikin Mama sama Papa kecewa."
"Jangan seneng dulu, sekali Papa tau kamu bikin istri kamu sedih, nih." Vano memperlihatkan kepalan tangan nya membuat Revan terkekeh.
"Ampun Pa, yang kemarin aja belum sembuh nih." Revan memperlihatkan pipi nya yang sudah tak terlihat lebam.
"Bilang sama Papa kalau mau minta lagi."
"Kabur aja lah." Revan bergegas pergi memasuki kamarnya.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1