
Sebuah motor sport terparkir didepan rumah sederhana bercat kuning. Seorang pria yang baru saja memarkirkan motornya berjalan hingga tepat didepan pintu rumah sederhana itu.
Ia lantas mengetuk pintu rumah itu, dan tak berapa lama seorang wanita paruh baya keluar dan menatap pria itu heran.
"Cari siapa mas?"
"Nana bu, saya datang untuk menjemput Nana." kata pria yang tak lain adalah Ran itu.
Sontak ucapan Ran membuat Ibu Nana terkejut, "Ka-kamu?"
"Saya pacarnya Bu." balas Ran dengan percaya diri membuat Ibu Nana tersenyum lebar.
"Siapa Bu?" suara Nana dari dalam rumah berjalan keluar dan seketika Nana terkejut melihat Ran tersenyum ke arahnya.
Tanti, Ibu Nana memukul lengan Nana, "Kamu ini punya pacar ganteng kayak gini kok nggak bilang bilang sih sama Ibu."
Tentu saja ucapan Ibunya membuat Nana terkejut bukan main, "Pa-pacar apa bu?"
"Sayang, sudah siap? ayo nanti kamu terlambat." celetuk Ran yang membuat Nana langsung saja melotot ke arahnya sementara Tanti malah tersenyum lebar ke arah Ran.
"Eh sarapan aja dulu gimana? kebetulan Ibu masak banyak banget pagi ini." tawar Tanti.
"Kalau nggak ngrepotin boleh deh Bu, soalnya saya juga belum sarapan."
Tanti tersenyum lebar lalu menarik lengan Ran membawanya masuk sementara Nana hanya bisa menatap keduanya dengan kesal, ingin mengusir Ran pun juga tak akan bisa karena pasti Ibunya melarang keras.
"Benar benar menyebalkan!" omel Nana mengikuti Ran dan Ibunya dari belakang.
Seusai sarapan Ran meminta izin Tanti untuk mengantar Nana dan karena Tanti sangat menyetujui Ran yang akan mengantar Nana membuat Nana tak mempunyai pilihan lain selain berangkat bekerja diantar Ran dari pada Ia harus mendengar omelan ibunya.
Sementara Ran merasa dirinya sudah menang, tak apa dia belum bisa mengambil hati Nana yang penting dia sudah bisa mengambil hati Tanti calon ibu mertuanya. Ran masih tak menyangka, dibalik sikap Nana yang super judes Nana memiliki Ibu yang super ramah dan sangat baik. Apalagi menyambut dirinya yang baru pertama kali datang, sambutan yang penuh kehangatan membuat Ran semakin yakin ingin memantapkan hati bersama Nana seorang.
"Kita pamit berangkat dulu bu." kata Ran mengambil tangan Tanti lalu menciumnya.
__ADS_1
"Ya ampun, udah ganteng, sopan lagi." Tanti tak henti hentinya memuji Ran berbeda dengan Nana yang sedari tadi cemberut dibelakang Ran.
Ran segera menaiki motornya lalu mengenakan helm tak lupa memberikan helm juga pada Nana membuat Tanti semakin bahagia melihat perhatian Ran pada Nana.
"Pegangan Na, nanti jatuh." teriak Tanti saat motor mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Nana.
"Apa sih ibu tuh, nggak jelas banget deh." omel Nana dari atas motor.
"Bener tuh kata Ibu, kamu harus pegangan." kata Ran penuh kelembutan membuat Nana seketika terbahak mendengar Ran mengucapkan kamu.
"Eh kesambet setan dari mana Lo, tiba tiba manggil aku kamu." Kekeh Nana namun sedetik kemudian Nana sadar dan memukul lengan Ran "Lagian ngapain sih Lo pake acara jemput ke rumah gue! bikin ribet tau nggak!"
"Pegangan nanti jatuh." kata Ran tak mengubris omelan Nana.
"Ogah."
Ran sengaja rem mendadak membuat Nana oleng dan mau tak mau Ia akhirnya memeluk Ran dari belakang membuat Ran tersenyum puas.
"Tadi ada kucing lewat, sapa suruh nggak pegangan udah di suruh dari tadi juga." balas Ran acuh membuat Nana semakin mengomel dibelakang.
Sementara Eliya dan Ander kini sudah berada di mobil untuk berangkat kerja. Sejak semalam mereka memang tak saling berbicara. Baik Ander maupun Eliya tak memulai lebih dulu. Entahlah sepertinya mereka masih sama sama larut dalam pikiran negatif mereka masing masing.
Hingga Eliya merasa jengah lalu memulai bicara lebih dulu, "Kenapa bukan Ran yang menyetir? dari kemarin dia tidak datang?" tanya Eliya yang tanpa Eliya sadari sudah membuat Ander kembali salah paham padanya.
"Kenapa mencarinya? apa kau merindukan pria itu?" sinis Ander membuat Eliya seketika menutup mulutnya dengan salah satu tangan.
"Tanpa sengaja kau bahkan mengakuinya sendiri." kata Ander lagi membuat Eliya melotot tak terima.
"Sudahlah, aku sudah lelah berdebat dan menjelaskan apapun pada orang yang bahkan tak mempercayaiku. jadi aku akan diam dan tak akan bertanya apapun." Kata Eliya sambil menghela nafas panjang.
"Akui saja jika kalian memiliki hubungan, aku pasti akan memberi kalian kesempatan jika kalian bisa berubah dan tak mengulangi nya lagi. mau bagaimana pun kamu sedang hamil anak ku, dan aku tak akan melepaskan mu dengan mudah apalagi dengan pria macam Ran." kata Ander membuat Eliya hanya diam saja tak mengubris bahkan Eliya memalingkan wajahnya melihat ke arah luar.
"Bagus. bahkan kau tak menjawab suam-" Ucapan Ander mendadak berhenti kala mobil berhenti karena lampu merah dan Ander melihat pria yang tak asing dimata nya sedang bersama seorang wanita yang membonceng dibelakangnya.
__ADS_1
"Bukannya dia-" gumaman Ander membuat Eliya menoleh ke arah Ander dan melihat apa yang dilihat Ander.
Seketika Eliya tersenyum sinis, "Ah jadi ini alasan Ran sering datang ke toko. bukan karena aku tapi karena Nana. astaga jadi ini yang membuat pria posesif disampingku ini cemburu."
Wajah Ander berubah memerah, bukan karena marah namun karena malu. Ya Ia malu karena sudah menuduh istrinya berselingkuh dan juga sampai memiliki rencana memecat Ran yang Ia pikir menyukai Eliya.
"Nana, siapa Nana?" tanya Ander dengan suara lirih.
"Dia salah satu karyawan di toko."
Ander hanya bisa melonggo, menatap Eliya tak percaya. Jadi itu alasan Ran selalu bersemangat pergi ke toko Eliya akhir akhir ini.
Astaga, bodoh sekali aku. Ander mengumpati dirinya dalam hati.
"Lihatlah nak, Daddy mu posesif sekali bukan sampai menuduh mom-" Eliya yang sedang mengelus perutnya sambil mengadu pada Baby nya yang masih diperut pun terhenti saat tiba tiba Ander memeluknya dari samping.
"Maaf sayang, maafkan aku... aku hanya cemburu dan aku tak bisa melihat kamu dengan pria lain." kata Ander membuat Eliya memutar bola matanya malas.
Eliya hanya menghela nafas berat, "Ya sudah, lupakan saja. memang suamiku sangat posesif dan menyebalkan." balas Eliya dengan sedikit candaan.
Ander melepaskan pelukan nya, "Hey aku seperti ini karena tak ingin kehilangan mu." Akui Ander membuat pipi Eliya semu merah.
Tiiinnnnnnnnn.....
Suara klakson dari belakang mengejutkan Ander dan Eliya, seketika mereka terbahak karena lampu sudah hijau dan mobil mereka belum melaju.
"Ayo jalankan mobilnya sebelum kita di amuk massa." pinta Eliya yang langsung diangguki Ander.
Ander segera melajukan mobilnya karena semakin banyak bunyi klakson dari belakang mobilnya.
BERSAMBUNG....
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1