DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
17


__ADS_3

Pagi hari, tepat pukul 7 ketiga berandal sudah berada di kandang sapi milik Mbah Mirah.


Kadang sapi yang berukuran luas dan ada banyak sapi disana, ada sekitar 20 ekor sapi.


Revan masih berdiri didepan kandang, Ia bahkan geleng geleng kepala tak bisa membayangkan akan mengurus sapi sapi gendut itu.


"Kalian siapa?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat sehat, keluar dari kandang sapi dan melihat tiga berandal.


"Kami mau kerja di sini nek." ungkap Ander to the point.


Wanita yang tak lain mbah Mirah itu terlihat mengerutkan keningnya, "Kerja? kalian pernah ngurus sapi?"


Ketiganya kompak menggelengkan kepala, "Belum mbah, tapi kami akan mencoba dan bekerja keras." Randi menimpali dengan sungguh sungguh.


"Mbah kok tidak yakin." Mbah Mirah memandangi penampilan ketiga pria yang terlihat seperti liburan bukan bekerja. memakai celana jeans pendek, kaos serta jaket jeans tak lupa sneakers yang menempel di kedua kaki mereka.


"Tolonglah mbah, kami butuh bekerja untuk membeli makanan." Ander memohon.


Mbah Mirah menghembuskan nafas, "Ya sudah, tapi ganti pakaian kalian dulu. nggak mungkin kalian kerja di tempat seperti ini dengan pakaian mewah itu."


"Jadi kami harus pakai baju apa mbah?"


"Ambil baju digudang sana lalu kalian kembali kesini."


ketiganya mengangguk paham, segera berjalan ke gudang yang ditunjukan Mbah Mirah.


"Ini kok kayak bajunya mang ujang sih, tukang kebun dirumah?" heran Revan sambil membolak balikan setelan baju bersih yang ada di rak lemari.


"Lagian kita mau kerja kotor, wajar sih kalau pakai bajunya kayak gini!" Randi segera memakai baju diikuti oleh Ander.


"Gila, kadar ketampanan gue hilang kalau pakai baju dekil ginian." Ucapan Revan tentu saja membuat Randi dan Ander melotot ke arah nya.


"Mana gede banget lagi." keluh Revan.


"Bisa nggak sih Lo itu nggak usah bawel? panas telinga gue dengernya!" Ander akhirnya meluapkan kekesalan nya.


"Iya, jalani aja dulu, anggap aja nambah pengalaman. seru kali." timpal Randi.


Revan menggeleng tak percaya, "Kalian sih nggak ngerasain. gue udah biasa hidup enak jadi nggak bisa hidup susah kayak gini."


"Serah Lo deh!" Ander keluar lebih dulu dan diikuti Randi.


"Woy, tungguin napa. ditinggal mulu perasaan." kesal Revan yang masih menaikan celana trainingnya.


Mereka bertiga pun kembali kumpul didepan dimana Mbah Mirah sudah menunggunya disana.


Mbah Mirah mengulum senyum kala melihat penampilan berbeda dari tiga berandal yang kini sudah berganti pakaian.


"Kita keliatan lucu ya mbah?" tanya Revan memberanikan diri membuat Ander dan Revan melotot ke arahnya tak percaya.


"Nggak lucu, cuma aneh aja. Kalau orang ganteng pakai baju apa kok keliatan ganteng ya."

__ADS_1


Kini giliran ketiga berandal yang mengulum senyum mendengar ungkapan dari mbah Mirah.


"Ah mbah bisa aja, kami emang ganteng sih." celetuk Revan membuat Ander kesal dan menyenggol bahu Revan.


"Apa sih." Revan menatap sinis ke arah Ander.


"Sudah sudah, ini hari pertama kalian kerja di sini dan tugas pertama kalian adalah ngarit."


"Ngarit?" ketiganya terlihat binggung.


Mbah Mirah mengambil keranjang, caping (topi), dan arit (sabit baja atau semacam celurit).


"Kalian ngarit dan pakai ketiga alat ini." jelas Mbah Mirah yang masih belum dimengerti ketiga berandal.


"Ngarit itu mengari, semacam memotong rumput liar untuk makanan sapi." jelas mbah Mirah.


"Jadi kita nyari makanan sapi mbah?" tanya Randi.


Mbah Mirah mengangguk "Iya, tugas pertama kalian cari makanan sapi di kebun daerah sana banyak sekali rumput." Mbah Mirah menunjuk ke arah selatan.


"Cari makanan yang banyak sampai keranjang ini penuh."


Ketiga berandal itu menatap 7 keranjang besar yang ada didepan mereka membuat mereka menelan ludahnya.


"Ya sudah, sana kerjakan. tunggu apa lagi." perintah mbah Mirah.


"Ta-tapi Mbah, kita belum tau caranya ngarit."


"Ini dipengang dulu rumputnya trus di arit." Mbah Mirah sudah mendapatkan segengam rumput "Kalau sudah masukin ke keranjang."


"Cuma gitu aja mbah?" tanya Revan tak percaya karena pekerjaan nya semudah itu.


"Iya, gampang kan? oh ya kalian jangan lupa pakai sarung tangan biar nggak gatel tangan nya."


Ketiga berandal mengangguk paham, kembali memasuki gudang untuk mengambil sarung tangan yang di maksud.


Setelah mendapatkan sarung tangan, mereka segera membawa peralatan ngarit dan pergi ke kebun yang dimaksud mbah Mirah.


"First time, cari uang buat makan." celetuk Revan.


Ander meletakan keranjang dan memakai capingnya, segera Ia mempraktekan apa yang tadi diajarkan oleh Mbah Mirah.


Awalnya Ander masih kikkuk dan kesulitan namun setelah beberapa kali akhirnya Ia bisa mendapatkan cara lebih mudah untuk mengarit.


Randi masih setia menatapi Ander yang sudah mengisi kerajanganya sementara Revan malah sibuk membuka ponselnya dan menvidio dirinya sambil berceloteh ria.


"Nggak susah, cobain deh." kata Ander pada Randi yang berada disampingnya.


Randi mengangguk dan langsung mengikuti gerakan tangan Ander dan tadaa, segengam rumput berhasil Ia arit membuat Randi kegirangan.


"Gue jadi geli nih." kekeh Randi.

__ADS_1


"Sama, seru juga ternyata." imbuh Ander.


Pengalaman pertama dan menyenangkan pikir Randi dan Ander.


"Gue takut." celetuk Revan yang kini sudah bergabung dengan Ander dan Randi.


"Takut kenapa?"


"Nanti kalau tangan gue kena ini gimana?" Revan memperlihatkan Sabit baja yang Ia Bawa.


Ander memutar bola matanya malas, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


Revan melihat cara Ander dan Randi lalu ikut mempraktekannya, "Oh God.." Teriak Revan histeris membuat Randi dan Ander terkejut lalu menatap ke arah Revan.


"Ini sih gampang banget, gue udah dapet nih!" Revan memperlihatkan segenggam rumput yang baru saja Ia arit.


"Ck baru segitu doang heboh amat. Noh liat keranjang kita udah hampir ngisi separo!"


Revan menatap keranjang Ander dan Randi lalu berdecak kesal "Kalian curang sih, nyuri start duluan nggak nungguin gue." Revan kesal karena keranjangnya yang masih kosong melompong.


Ander dan Randi hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada pekerjaan mereka.


Karena terlalu fokus, tanpa mereka sadari matahari semakin terik menyengat ke tubuh mereka hingga keringat mereka sudah terlihat bercucuran.


"Gila, udah ngarit dari tadi kenapa dapetnya cuma segini aja sih!" gerutu Rand melihat masih ada 4 keranjang kosong yang harus di isi.


"Istirahat dulu yuk, panas banget gue takut item." celetuk Revan.


"Nanggung, kita selesain dulu biar bisa cepet pulang." ajak Ander menyemangati kedua adiknya.


Randi mengangguk setuju sementara Revan malah mengomel tak jelas.


Dan setelah seharian berada di kebun, akhirnya mereka bisa memenuhi 7 keranjang dengan rumput.


Dengan senang mereka membawa 7 keranjang dengan gerobak yang disediakan disana untuk memuat 7 keranjang itu.


"Anjir, turun nggak Lo!" kesal Ander melihat Revan menaiki gerobak yang tengah didorong Ander dan Randi.


"Gue capek banget, udah nggak bisa jalan lagi." keluh Revan.


"Nggak peduli, turun nggak! atau gue balik juga nih gerobak." emosi Ander. Randi hanya diam saja karena Ia sudah cukup lelah dan tak ada daya untuk meladeni Revan.


Revan akhirnya turun dan ikut mendorong gerobaknya, dengan gerutuan tentunya.


"Jadi kalian pekerja baru itu?" tanya Seorang gadis kala mereka sampai di kandang.


Ketiga berandal menengok ke arah suara dan seketika mata Revan melotot.


"Elo..."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2