
Hari demi hari terlewati, sudah hampir empat bulan usia kandungan Eliya dan selama itu pula Ander masih bersama Eliya. Bukan Ander tak menjalankan rencana yang sudah Ia rancang sejak lama namun Ander hanya butuh waktu, sebentar lagi. sekarang entah mengapa Ander merasa belum bisa meninggalkan Eliya. atau memang tidak bisa? entahlah Ander sendiri juga bingung.
Selama ini Ander yang merasakan semua gejala hamil Eliya, mual, pusing, hingga ngidam yang aneh aneh sudah Ia rasakan, membuat Ander membayangkan bagaimana jika yang merasakan semua ini Eliya? membawa bayi dalam perutnya lalu Ia lukai dan merasakan semua ini sendiri.
Ohh tidak, rasanya itu terlalu kejam. Ander tidak bisa melakukan itu pada Eliya. Apalagi selama ini Eliya memperlakukan dirinya sangat baik meskipun sikapnya berubah tak baik pada Eliya, namun Eliya selalu menghormati dan menahan amarahnya sekesal apapun Eliya padanya. sudah jelas Eliya begitu menyayangginya. Dan mana mungkin Ander akan melanjutkan rencananya jika posisinya sudah seperti ini.
Tidak Ander, jangan sekarang.
"Melamunin apa sih pagi gini?" tanya Eliya meletakan omelet buatan nya dimeja. setelah usia kandungan hampir 4 bulan, Ander sudah bisa memakan makanan selain bubur kacang hijau.
Ander hanya menggeleng lalu mulai menikmati omelet buatan istrinya, "Enak." puji Ander.
"Hari ini nggak lupa kan?" Ander menghentikan kunyahannya dan menatap ke arah Eliya, meminta penjelasan pada Eliya.
"Ck, lupa lagi." Eliya memanyunkan bibirnya membuat Ander tertawa.
"Apa sih sayang?" Eliya tersenyum malu kala Ander mencoba merayu nya.
"Habis ini kita periksa dedek."
"Oh inget lah aku, masa aku nggak inget sih." balas Ander menyombongkan diri membuat Eliya memutar bola matanya malas.
Selesai sarapan, Eliya dan Ander bergegas berangkat karena sudah ada Ran yang menunggu dibawah.
"Pagi Tuan, Nona." sapa Ran ramah.
Ander hanya menatap malas sementara Eliya menanggapi keramahan Ran "Pagi Ran, hari mu terlihat baik."
"Tentu saja Nona."
"Sudah berangkat saja, jangan mengoda istriku." perintah Ander posesif.
Eliya menggelengkan kepalanya tak percaya, "Dia hanya menyapa,"
"Tetap saja, dia tidak boleh terlalu ramah padamu." ketus Ander membuat Eliya hanya mengulum senyum sementara Ran mengomel dalam hati "Dasar pria posesif."
Mereka sampai di klinik dokter Clara, setelah kejadian tak menyenangkan awal dulu, Ander sudah merubah sikapnya menjadi lebih baik saat bertemu dokter Clara.
"Pagi, wah sudah mau periksa lagi ya?" sapa Dokter Clara begitu hangat.
"Sudah sebulan Dokter, tak sabar mau melihat dedek nya." ungkap Eliya begitu senang membuat hati Ander menghangat melihat betapa bahagianya istrinya.
"Ah iya, aku sudah menjanjikan usg ya? baiklah mari kita lakukan." Dokter Clara memang sudah berjanji jika usia kandungan mencapai 4 bulan mereka akan melakukan usg. Dimana Eliya bisa melihat janin yang ada didalam perutnya itu.
Eliya berbaring disebuah ranjang yang disampingnya terdapat sebuah layar monitor, sementara Ander berdiri disamping istrinya.
__ADS_1
Dokter Clara mengoleskan krim ke perut Eliya lalu memutar sebuah alat yang tersambung di layar monitor. kini Ander dan Eliya benar benar bisa melihat janin yang ada diperut Eliya.
"Halo Papa ... Halo Mama." suara Dokter Clara terdengar seperti anak kecil "Aku di sini sehat lho, umurku sudah 4 bulan tinggal 5 bulan lagi kita akan bertemu."
Ander tertegun, melihat janin kecil yang menghiasi layar monitor, bergerak kesana kemari. Meskipun belum terlihat utuh namun itulah calon anaknya kelak.
Rasanya Ander sudah tak sabar menanti keluarnya buah hatinya bersama Eliya.
"Jadi kapan perkiraan lahir?" tanya Ander tanpa sadar dan masih menatap layar monitor.
"Jika janin nya sehat dan bertumbuh dengan baik mungkin 5 bulan lagi."
"Sekarang janin nya sudah kuat, tapi harus tetap hati hati. jangan sampai terlambat makan dan minum vitamin."
Eliya mengangguk paham, sementara Ander masih setia menatap calon buah hatinya itu.
"Tumbuhlah dengan sehat didalam Nak, Daddy mu sudah tak sabar menantimu keluar." kata Dokter Clara membuat Ander tersenyum.
"Oke, sekarang kita cetak fotonya." Dokter Clara segera mencetak hasil usg dan jadilah dua lembar lalu di berikan pada Eliya dan Ander masing masing satu.
"Usg pertama biasanya untuk kenangan jadi ku kuberikan dua." kata dokter Clara.
"Terimakasih dokter." Eliya nampak tersenyum bahagia menerima hasil print usg nya.
Dokter Clara terkekeh, "Jadi Daddy mu sudah penasaran nak, ayo coba kita lihat apa sudah terlihat."
Dokter Clara kembali memutar alat usg, namun sedikit kecewa karena tak menemukan apapun.
"Sayang sekali, dia masih malu jadi belum mau memperlihatkan jenis kelamin nya." jelas Dokter Clara.
"Tidak apa apa, yang penting sehat kan?" kata Eliya menghibur Ander.
Ander mengangguk lalu kembali melihat foto hasil usg nya.
"Semoga selalu sehat sampai keluar."
Eliya tersenyum mendengar ucapan Ander yang menandakan Ander begitu menyayanggi calon anaknya.
Mereka segera kembali ke mobil setelah selesai pemeriksaan,
"Apa tak sebaiknya kamu istirahat dirumah?" tanya Ander mulai khawatir terjadi sesuatu pada calon anaknya.
"Kenapa tiba tiba meminta seperti itu?"
"Aku hanya khawatir dengan dia." Ander mengelus perut Eliya yang sedikit membuncit.
__ADS_1
Eliya tersenyum, mengerti dengan kekhawatiran Ander "Aku akan menjaga anak kita dengan baik. jangan khawatir."
"Lagipula di toko aku juga sudah jarang membantu diluar." jelas Eliya membuat Ander tersenyum lega.
"Lihatlah Daddy mu nak, begitu mengkhawatirkanmu." kata Eliya sambil mengelusi perut nya membuat Ander terkekeh.
Sesampainya di depan toko, Eliya segera mencium punggung tangan Ander, tak lupa Ander juga mengecup kening Eliya.
"Hati hati, segera kabari aku jika terjadi sesuatu." kata Ander sebelum Eliya keluar.
"Iya."
Eliya memberikan senyuman terbaiknya sebelum akhirnya keluar dari mobil dan berjalan memasuki toko.
"Kita berangkat sekarang Tuan?" tanya Ran.
"Sebentar, aku ingin melihat istriku sampai ke dalam toko."
Ran hanya tersenyum geli, Tuan nya benar benar bucin dan sekarang sudah mau mengakuinya.
....
Matahari semakin terik, membuat Eliya yang berada di luar ruangan merasa kepanasan. akhirnya Eliya memilih berada di ruangan nya yang ber Ac.
"Mbak ada yang nyari." kata Mira salah satu karyawan toko memasuki ruangan Eliya.
"Siapa? kenapa nggak langsung masuk?" tanya Eliya heran.
"Nggak tau mbak, nggak kenal." kata Mira lagi membuat Eliya semakin penasaran dengan siapa yang datang.
"Ya udah suruh masuk saja Mir."
Mira mengangguk dan segera keluar dari ruangan Eliya.
Tak berapa lama seseorang memasuki ruangan Eliya,
"Selamat siang Eliya, masih ingat aku kah?"
Eliya menatap ke arah orang yang baru saja memasuki ruangan nya itu dan sedikit terkejut.
"Untuk apa dia kemari?" batin Eliya.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1