DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
14


__ADS_3

Ander and the gengs kini tengah berada dikantin sekolah, mereka membolos pelajaran lagi.


"Bosen juga ya, kalau cuma gini gini aja nggak dapet mangsa!" celetuk Revan membuyarkan kesibukan Ander dan Randi yang tengah bermain game.


"Cari aman dulu aja." balas Ander.


"Bener banget tuh." Randi ikut menimpali.


Revan berdecak kala merasakan ponselnya bergetar.


"Siapa?"


"Mama, kok tumben ya."


Revan segera menjawab panggilan dari Mama nya.


"Gimana Ma?"


"Nanti pulang les kamu sama Randi langsung ke mansion nya Ander ya." ucap Mama dari telepon.


Revan mengerutkan keningnya heran "Ada acara apa Mah?"


"Udah pokoknya nurut aja."


Klik... Panggilan dimatikan.


"Di mansion ada acara apa?" tanya Revan pada Ander membuat Ander mengerutkan keningnya heran.


"Acara apa? nggak ada apa apa kayaknya. kenapa?"


"Kok Mama nyuruh Gue kesana sama Randi ntar pulang les." jelas Revan.


"Kayaknya ulang tahun Lo masih lama." kata Randi ikut penasaran.


"Atau jangan jangan tuh ugly udah ngasih tau bokap kita lagi." Revan menebak.


"Ck, nggak mungkin. kita kan udah nggak bikin masalah." balas Ander.


"Bener juga sih, ya udahlah ya. siapa tau mau dikasih hadiah karena nilai kita juga bagus semester ini."


"Ngarep banget Lo!"


Revan terkekeh, Randi dan Ander pun melanjutkan bermain game.


...


Sore harinya, selesai Les Ander segera pulang diikuti oleh Revan dan Randi yang juga pulang ke mansion.


"Rame banget!" celetuk Revan kala keluar dari mobilnya. melihat mobil para orangtua sudah datang.

__ADS_1


"Tumben juga nih Papi datang, biasanya sibuk." gumam Randi melihat mobil milik Papi nya.


Mereka bertiga pun segera masuk dan nyatanya sudah ditunggu para orangtua mereka yang kini duduk di ruang tamu, para orangtua langsung menatap tajam ke arah Ander, Revan dan Randi membuat ketiganya dibuat binggung.


"Ada apa Mom Dad? apa kami melakukan kesalahan?" tanya Ander melihat tatapan tajam para orangtua membuat perasaan nya tidak enak.


"Nilai kita bahkan sangat bagus, dan dapat peringkat satu. seharusnya kita diberi hadiah bukan malah pelototan tajam seperti itu." celetuk Revan membuat Riska menggeleng tak percaya mendengar putranya bersikap sesantai itu.


"Kalian duduklah, ada yang ingin Daddy perlihatkan!" kata Alex yang langsung dituruti ketiganya.


Setelah duduk, Alex meminta Sandi untuk memperlihatkan rekaman milik Eliya yang tentu saja membuat 3 berandal itu terkejut hingga mata mereka melotot seperti akan keluar saja.


"Apa yang ada di pikiran kalian sampai melakukan hal konyol dan tak bernurani seperti itu?" tanya Vano dengan nada marah.


Ander terlihat mengepalkan tangan nya, sementara Revan dan Randi hanya menunduk malu.


"Ada yang ingin kalian jelaskan?" tanya Rangga pada ketiga bersaudara itu.


Sedangkan para wanita terlihat diam seribu bahasa, kecewa dengan apa yang baru saja mereka lihat.


"Kita itu nggak ada niat buruk sama mereka, kita kayak gitu karena mau bantuin mereka." jelas Randi masih menunduk.


"Nggak usah cari pembelaan, mana ada bantuin orang harus digebukin dulu." sinis Vano.


"Pa, memang benar kenyataan nya kayak gitu!" kesal Revan merasa tak dipercayai oleh sang Papa.


"Mana ada maling ngaku!"


Sebenarnya Alex, Vano dan Rangga sedang menahan tawa melihat wajah panik para putra mereka. Mereka sudah mengetahui kebenarannya, mereka hanya sedang menghukum agar tidak ada kejadian seperti ini lagi meskipun niat mereka baik namun citra mereka tercemar karena masalah ini.


"Jadi hukuman apa yang pantas untuk kalian?" tanya Alex sambil melipat kedua tangan di dada.


Sontak ketiga berandal itu mendongak menatap ke arah Alex secara bersamaan.


"Jangan sita mobil kami!" terdengar kompak dan sangat mengelikan.


Alex tertawa karena tak bisa menahan nya lagi, "Tidak, sama sekali tak ada niat untuk menyita mobil kalian!"


Baik Ander, Revan maupun Randi menatap tak percaya,


"Justru kami ingin memberikan tiket liburan pada kalian." ucap Alex yang sontak membuat mata Revan berbinar sementara Ander menatap ke arah Daddy nya curiga.


"Liburan? wah sudah lama sekali. liburan kemana? paris, london, jepang?" tanya Revan terlihat antusias membuat Randi kesal dan menyenggol lengan Revan.


"Apa sih?" Revan menatap sengit ke arah Randi.


"Ya liburan ini berbeda dari biasanya. jadi lebih baik sekarang kalian mandi, makan dan istirahat sebelum besok pagi kalian berangkat." jelas Alex.


"Besok pagi? trus gimana dengan sekolah kita?" tanya mereka serentak.

__ADS_1


"Ck, untuk apa kalian menanyakan sekolah. bahkan kalian saja tidak pernah mengikuti pelajaran dikelas." cibir Rangga yang sontak membuat ketiga nya menunduk malu.


"Sudah sudah, lebih baik kalian sekarang makan dan segera istirahat."


Mereka pun mengangguk dan mematuhi apa yang baru saja Alex ucapkan, berdiri dan berjalan menuju meja makan.


"Gila, asik banget nggak sih! dikasih liburan hukumannya." cerocos Revan kala di meja makan.


Randi menatap ke arah Revan jengah, "Lo itu dari tadi seneng amat! justru harusnya kita curiga liburan macam apa yang akan kita dapatkan besok!"


"Ck, namanya liburan pasti seneng seneng lah. nggak mungkin malah sebaliknya."


"Serah Lo deh!" Randi cuek dan mulai menyantap makanannya.


Sementara Ander tak ikut makan dimeja makan, Ia malah menyendiri ditaman belakang mansion. Ander yang kini sedang dilanda amarah dan kesal dengan Eliya yang sudah ingkar janji pada nya.


Mereka sudah tak merasa membully para siswa lagi dan kenapa Eliya memberikan rekaman itu? benar benar harus diberikan pelajaran, mungkin jika bertemu Eliya Ia harus menjambak rambut jelek Eliya, atau menampar pipinya? atau mendorongnya lagi ke lumpur? ah tidak Ander tidak suka berbuat kasar pada gadis lalu apa yang harus Ander lakukan nanti agar amarahnya pada gadis jelek itu hilang?


Ander menggelengkan kepalanya kala pikirannya melayang memikirkan yang tidak tidak, apalagi jika mengingat penampilan berbeda Eliya saat membuka pintu kamar waktu itu. Damn it! harusnya Ander marah saat ini bukan malah membayangkan hal kotor seperti itu.


"Kamu nggak makan?" tanya Ella membuyarkan lamunan Ander.


Ander menoleh ke arah Ella dan melihat Mommy nya sudah membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya.


"Mom bawain makan, yuk makan dulu!" Ella duduk disamping Ander.


"Ini rica rica ayam kesukaan Ander!"


Ander mengangguk menatap Mom nya "Apa Mom nggak marah?"


Ella tersenyum, "Tentu saja Mom marah tapi Mom percaya Ander memiliki alasan lain dibalik itu semua."


Ander menghela nafas panjang "Ander nggak sejahat itu kok Mom."


"Iya Mom percaya, anak Mom kan orang baik." kata Ella sambil tersenyum.


"Tapi Mom dan Dad kecewa sama Ander." ucap Ander sambil menunduk.


"Sudah sudah, makan dulu trus istirahat. pasti capek kan habis les tadi." kata Ella yang langsung diangguki Ander.


"Mau mom suapin?"


"Ander udah gede Mom." protes Ander membuat Ella terkekeh.


Ella memang kecewa namun Ia juga tak ingin sepenuhnya menyalahkan putranya itu karena Ella yakin ada alasan lain dibalik apa yang putranya lakukan.


Meskipun Ia tak rela melihat putranya besok yang akan mendapatkan hukuman dari Alex namun mungkin ini lah yang akan memberikan pelajaran untuk Ander agar semakin dewasa dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa ninggal jejak gaysss....


__ADS_2