
Eliya yang sedang bermalas malasan dikamar mendadak semangat kala Bunda nya masuk dan mengatakan jika ada seseorang yang mencarinya dibawah.
"Siapa? apa Ander?" batin Eliya penuh harap.
Eliya bergegas turun dan entah mengapa Ia sedikit kecewa melihat siapa yang datang.
"Selamat siang Nona."
"Ya, ada apa Ran?" tanya Eliya sedikit malas.
"Tuan membelikan makan siang untuk Nona."
Ran memberikan kantong plastik dengan nama warung nasi padang kesukaan Eliya.
"Untukmu saja." balas Eliya menolak menerima makanan dari Ran.
"Tapi Nona, bagaimana jika nanti Tuan marah pada saya."
"Katakan saja jika aku sudah memakan nya."
"Tapi Nona..."
"Sudah turuti saja." ketus Eliya langsung menutup pintu kasar membuat Ran terkejut.
"Astaga, ternyata mereka sama. sama sama menyebalkan." gumam Ran mengingat selama ini Eliya cukup baik padanya Ia jadi sedikit terkejut dengan sifat Eliya yang tak biasanya itu.
Ran segera pergi dari rumah Eliya, dalam hatinya Ia sangat bersyukur mendapatkan rejeki nasi padang di siang bolong seperti ini.
Sementara Eliya kembali ke kamar dengan raut wajah kesal "Dasar nggak peka, nggak ada usahanya. masa dikit dikit minta tolong sama Ran. kenapa nggak dia sendiri sih yang datang." omel Eliya sambil berjalan.
"Duh duh duh, anak Bunda kenapa nih." Nisa yang mendengar omelan Eliya segera mendekati putrinya itu.
"Egh, nggak apa apa kok Bund."
"Kangen sama suami? kesel gara gara nggak disamperin?" goda Nisa membuat wajah Eliya memerah malu.
"Ih Enggak ya Bund, Dahlah Eliya mau tidur lagi aja." Eliya berjalan cepat menuju kamar sebelum Nisa kembali mengoda nya.
"Kenapa gue jadi aneh gini sih, harusnya gue kan marah gara gara Ander mau berbuat jahat sama Gue, tapi kenapa gue kesel pas tau bukan dia yang datang." batin Eliya sesaat setelah menutup pintu kamar.
....
"Gimana?" Ran yang baru saja tiba di kantor sudah dihadang oleh Ander yang ternyata sudah menunggunya.
"Gimana apa nya Tuan?" tanya Ran bingung.
Lagi lagi Ander menepuk jidatnya, kenapa bisa Daddy nya memberikan asisten sebodoh Ran.
"Kamu kayak gini aja masa nggak paham? masa saya harus nanya secara detail biar kamu paham gitu?" sentak Ander.
"Masalah Non Eliya Tuan?"
__ADS_1
"Ya iyalah, masa masalah kamu!"
"Eh sudah kok Tuan, sudah saya berikan." balas Ran sedikit gugup.
"Yakin? nggak kamu makan kan?" selidik Ander membuat Ran semakin gugup.
"Eh, tentu saja tidak Tuan, mana berani saya melakukan itu." balas Ran membuat Ander mengangguk percaya.
"Tapi Non Eliya tidak berangkat ke toko tuan?"
"Kenapa? apa dia sakit?" Ander terlihat khawatir.
"Sepertinya Tidak tuan, jika dilihat dari wajahnya dia tidak sedang sakit hanya terlihat kecewa."
"Ya sudah pasti dia sangat kecewa padaku." gumam Ander menghela nafas lelah.
"Bukan itu maksud saya Tuan, nona mungkin kecewa karena bukan Tuan sendiri yang datang mengantar."
Ander terkejut dengan ucapan Ran.
Benarkah dia menunggu kedatangan ku?
....
Malam ini Kafe milin Rania terlihat sangat ramai pengunjung, Biasanya Rania akan merasa senang dan bersemangat membantu para karyawan nya melayani pengunjung namun tidak untuk malam ini.
Seharian ini Ia hanya duduk di ruangan nya tanpa melakukan apapun bahkan jika ada karyawan yang bertanya sesuatu langsung Ia usir keluar.
Rania terlihat benar benar kacau, mata sembab serta kantong mata yang hitam menjadi saksi bahwa Rania tak tidur semalaman.
"Tidak bisa kah kau atasi sendiri? aku sedang sangat lelah saat ini." Rania terlihat acuh.
"Tapi Bos, genting sekali ini."
Dengan malas Rania bangkit dan berjalan keluar. betapa terkejutnya Rania kala melihat segerombolan orang menatap dirinya marah.
"Bagaimana bisa kau mempunyai kafe yang tidak bisa menjaga privasi orang orang yang datang?" salah seorang mengatakan itu pada Rania membuat Rania mengerutkan keningnya heran.
"Apa maksudnya? ada apa ini?"
Akhirnya salah satu dari mereka melempar sebuah alat perekam ke arah Rania membuat Rania sangat terkejut.
"Apa maksud alat perekam yang ada dibawah meja itu? semua meja di sini ada alat perekam."
"Apa selama ini kau menguping pembicaraan kami?"
Rania terkejut, tentu saja Ia sangat terkejut melihat banyak alat perekam yang dilemparkan semua orang yang berdiri disana.
"Bagaimana bisa?" batin Rania sudah memucat wajahnya.
"Tapi ak aku tidak tau apapun mengenai ini." jelas Rania dengan berbata.
__ADS_1
"Bukannya kamu pemilik restoran ini? seharusnya kamu yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi di sini." protes salah seorang membuat Rania hanya terdiam.
"Aku sungguh kecewa dengan kafe ini."
"Ya sepertinya aku tidak akan datang lagi."
Semua orang disana berbisik bisik dengan kata kata yang menghujat membuat Rania merasakan pening di kepalanya.
"Lebih baik kau tutup restoran mu atau aku akan melaporkan kafe ini ke polisi."
"Tidak! jangan... jangan laporkan kafe ini." pinta Rania terdengar memohon.
"Jadi kamu memilih menutupnya?"
"Ya aku akan menutup kafe ini." balas Rania mantap.
"Sebagai perwakilan kafe ini, aku memohon maaf yang sebanyak banyak nya karena telah membuat kalian merasa tak nyaman."
Huuuu... sorakan orang orang tanpa disadari membuat Rania meneteskan air matanya.
"Tapi kami benar benar tidak melakukan nya." jelas Rania lagi.
"Sudahlah berhenti membela diri, kau sudah tertangkap basah." teriak seseorang lagi.
"Sudah sudah, karena masalah sudah selesai aku harap kalian segera pergi." kata salah satu karyawan Rania membuat semua orang kembali menyorak i dan pergi meninggalkan kafe.
Rania jatuh ke lantai, Ia menahan diri untuk tak menangis namun gagal, akhirnya menangis.
Para karyawan yang melihat sangat iba, hanya bisa memandangi Rania tanpa melakukan apapun.
"Boss..." Hingga salah seorang tak tahan dan akhirnya membuka suaranya sambil mendekat ke arah Rania.
"Kalian bisa pulang sekarang."
"Ta-tapi Bos."
Rania berdiri dan menatap ke arah para karyawan nya, "Pulang saja, besok jangan lupa kembali. kita bisa memulai dari awal lagi."
Rania segera pergi menuju ruangan nya meninggalkan para karyawan yang masih sedih menatap ke arah Rania.
Rania menutup pintu ruangan, Ia kembali ambruk dilantai dan menangis.
"Apa kau harus sejahat ini padaku? kau benar benar kejam Ander." gumam Rania di sela tangisan nya.
Rania memang sudah bersiap dengan semua yang akan Ander lakukan padanya, hanya saja Rania masih tak menyangka jika Ander melakukan semua ini dan secepat ini.
Mungkin ini memang pantas aku dapatkan...
Bukan seseorang yang sangat aku cintai, aku malah kehilangan semuanya, semua yang sudah ku perjuangkan selama ini.
Rania kembali menangis.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...