DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
132


__ADS_3

Riska menatap aneh ke arah suaminya yang cekikikan setelah menelepon sessorang sedari tadi. Anehnya Riska tak mendengar Vano berbicara sesuatu ditelepon. Vano terlihat memanggil seseorang lalu mematikan sambungan telepon, begitu berulang ulang.


"Kamu telepon siapa sih mas?" tanya Riska yang akhirnya curiga. sementara dikursi depan Revan dan Rania melihat ke belakang.


Keluarga Vano memang datang ke kampung Risha hanya menggunakan satu mobil. saat berangkat tadi Vano yang menyetir dan saat pulang giliran Revan yang menyetir. karena Sopir pribadi Vano sedang cuti jadi mereka bergantian agar tidak terlalu lelah.


"Ini loh aku telepon temenku." kata Vano kembali mendial nomor yang entah siapa Riska juga tak tahu.


"Sial, udah nggak diaktifin." gerutu Vano namun tak menyerah Ia kembali mendial nomor lain yang akhirnya bernasib sama karena nomornya tak aktif.


"Pinter banget mereka." gumam Vano terlihat kesal namun sudah puas.


"Mereka siapa? coba mas lihat hape kamu." pinta Riska.


"Eh buat apa sih sayang, aku nggak aneh aneh ya." kata Vano menyembunyikan ponsel didalam kantong jaketnya.


"Kalau nggak aneh aneh makanya siniin biar aku lihat." pinta Riska semakin curiga karena Vano malah menyembunyikan ponselnya.


"Udahlah Pah, kasih aja dari pada ntar diambekin Mama." celetuk Revan yang ada didepan membuat Vano mendengus kesal karena putranya tak membela nya.


Akhirnya Vano memberikan ponsel pada Riska meskipun dirinya sedikit cemas jika Riska tau pasti akan sangat kesal padanya.


Riska yang sudah sangat penasaran akhirnya membuka ponsel suaminya dan keningnya langsung mengkerut kala melihat panggilan keluar dengan nama Risha dan Randi.


"Ngapain mas telepon Risha sama Randi? memang ada yang ketinggalan?" tanya Riska menatap tajam suaminya.


"Engga, tadi aku cuma-"


"Papa tu mau ngusilin malam pertama Randi mah." adu Revan membuat Vano melotot ke arah Revan yang tak mungkin melihatnya.


"Bener gitu mas?"


"Enggak, mana mungkin aku ganggu mereka. ngapain juga." sangkal Vano.


"Trus ngapain mas telepon Randi sama Risha?"


"Ya buat, ehh sayang lihat deh banyak yang jual durian. yukk mampir beli." Vano memperlihatkan banyak penjual durian dipinggir jalan.


"Nggak usah ngalihin deh mas, jawab aja dulu kamu ngapain telepon Risha?"


"Ck, cuma mau bahas masalah cutinya Risha." balas Vano yang sudah mendapatkan alasan.


"Bohong Ma, paling Papa mau ngerjain Randi." suara Revan didepan membuat Riska menatap curiga Vano.


"Kan nggak percaya sama suaminya, ya udah." balas Vano acuh.


"Lagian ngapain juga aku ngerjain Randi, nggak ada untungnya juga." kata Vano lagi yang langsung membuat Riska terlihat yakin.

__ADS_1


"Kalau kamu beneran ngerjain Randi, nanti gantian aku yang ngerjain kamu mas." ancam Riska mengembalikan ponsel Vano.


"Mana bisa kamu ngerjain aku, kan kamu lagi datang bulan juga." gerutu Vano membuat Riska terkekeh.


"Bukan ngerjain yang itu, ngerjain nggak ngasih jatah maksudnya."


"Ck, nggak apa apa sih, lagi datang bulan juga. nggak takut aku sama anceman kamu." ejek Vano sambil terkekeh membuat Riska melotot sementara Revan dan Rania yang mendengar hanya bisa menggelengkan mereka melihat tingkah Vano yang menyebalkan.


Berbeda tempat, wajah Randi terlihat kesal karena beberapa panggilan tak terjawab dari Vano yang berulang kali. sampai akhirnya Randi memantikan ponsel Risha dan Miliknya sendiri.


"Sekarang aman." kata Randi yang kini sudah kembali ke ranjang.


"Harusnya tadi diangkat dulu mas siapa tau mau ngomong penting." Risha terlihat khawatir.


Randi mendengus sebal, "Penting apaan, paling dia cuma mau ngerjain kita."


"Jangan suudzon mas."


Randi tersenyum menatap Risha, Istrinya itu benar benar membuatnya moodnya yang buruk kembali membaik.


Tak menunggu waktu lama, Randi segera saja mengajak Risha berbaring,


"I Love You." bisik Randi ditelinga Risha membuat pipi Risha kembali merona.


Randi menatap sebentar wajah cantik Risha sebelum akhirnya Randi mengajak Risha menikmati surga dunia mereka.


Tak cukup sekali, Randi mengulang hingga dua kali. Tak terasa sampai pukul 3 pagi mereka baru usai dan terlelap karena kelelahan.


Paginya, Risha terkejut melihat sebuah tangan memeluk pinggangny hingga akhirnya Ia sadar jika Itu Randi suaminya.


Rasanya Risha ingin menertawai dirinya sendiri karena lupa telah memiliki suami apalagi mengingat malam panas mereka semalam. Ahh rasanya sangat ... membuat Risha malu karena mengeluarkan suara aneh karena tak tahan dengan nikmat yang Randi berikan.


Dengan gerakan perlahan, Risha yang tadinya memunggungi Randi kini sudah berbalik dan menghadap ke arah Randi.


Risha tersenyum menatap wajah tampan suaminya. masih tak menyangka pria yang membuatnya jatuh cinta saat pertama bertemu kini sudah sah menjadi suaminya. sesuatu yang bahkan Risha tak menyangka mengingat perbedaan kasta diantara mereka.


Cup..


Randi tiba tiba mencium Risha membuat Risha panik karena tadinya Risha pikir Randi masih tidur.


"Morning wife." Randi tersenyum melihat Risha yang salah tingkah.


"Egh, udah bangun ternyata." ucap Risha tersenyum menampilkan gigi rapinya.


"Kenapa? masih belum puas ngeliatin wajah gantengku?" tanya Randi dengan penuh percaya diri.


"A-aku bangun duluan ya mas." kata Risha hendak bangun namun Randi menarik tangan nya membuat Risha kembali berbaring disamping Randi.

__ADS_1


"U-udah siang banget ini mas." keluh Risha.


"Sekali lagi, aku pengen lagi."


....


Risha berjalan keluar kamar dengan langkah pelan, Ia melihat sekitar tak ada tanda tanda Ayah dan Nanda. dengan langkah tertatih karena merasakan perih dibawah sana, Risha berjalan menuju kamar mandi.


"Eh mbak, ngapain sih kok jalan nya gitu." tanya Nanda yang tiba tiba berada dibelakang Risha membuat Risha terkejut.


"Egh, kamu dirumah? nggak sekolah?"


"Lah aku kan dapet ijin 5hari gara gara mbak Nikah." balas Nanda yang masih kelas 2 smk.


"Eh iya ya, ya udah mbak mau mandi dulu." kata Risha yang langsung diangguki Nanda.


"Ayah mana?" sebelum memasuki kamar mandi Risha sempat bertanya pada Nanda.


"Ada diluar bantuin orang kampung beresin sisa dekor."


"Mas Randi suruh bangun gih mbak, suruh bantuin." kata Nanda yang tanpa disadari Randi sudah berada diluar membantu orang orang kampung.


"Duh bau bau keringat malam pertama ini."


"Gimana sukses nggak jebol gawangnya?"


"Wah nambah terus ini pasti."


Godaaan bapak bapak dikampung yang hanya disenyumi oleh Randi.


"Masuk aja, dari pada disini habis ntar diledekin." pinta Slamet yang langsung diangguki Randi karena memang Randi juga belum mandi.


Randi berjalan menuju kamar mandi dan melihat Risha baru saja keluar dari kamar mandi.


Dengan langkah cepat Ia langsung menghambur ke pelukan istrinya itu.


"Udah wangi my wife."


Risha meronta, "Mas jangan di sini."


"Mbak Risha sama Mas Randi lagi ngapain sih."


Suara Nanda membuat Randi seketika melepaskan pelukan nya, dan wajah Risha terlihat merah malu karena ulah Randi.


Bersambung...


jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2