DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
79


__ADS_3

Ander memasuki kamar setelah menghabiskan steak nya, Ia melihat Eliya keluar dari kamar mandi dan sudah berganti piyama berbentuk dress.


"Tidak makan?" tanya Ander yang kini sudah berbaring diranjang siap untuk bermain dengan ponselnya.


Eliya hanya menggeleng,


"Mau menyiksa anak mu?" tanya Ander santai membuat Eliya menatap ke arah Ander kesal.


Eliya pun akhirnya keluar kamar, Dia memang sebenarnya sudah lapar sejak tadi namun karena Ander yang menyebalkan itu mendadak menghilangkan selera makan Eliya.


Ander menatap pintu yang tertutup lalu tersenyum, Ia tahu jika Dirinya memang menyebalkan. sudah menuduh Eliya meski belum memiliki bukti yang akurat namun Ia juga kesal dengan Eliya yang malah marah tidak menjelaskan atau merayunya.


Selesai makan, Eliya kembali dikamar dan melihat Ander masih memainkan ponselnya. Eliya tak mengubris, langsung berbaring disamping Ander dan memunggungi Ander.


"Dingin sekali," gumam Ander yang masih bisa didengar Eliya.


"Bodo amat!" batin Eliya memejamkan matanya.


"Dasar nggak peka!" batin Ander menatap Eliya yang sama sekali tak merespon ucapan nya.


Dengan kesal, Ander menarik selimut sebanyak mungkin untuk dirinya hingga Eliya sama sekali tak mendapatkan selimut.


Eliya pun bangun lalu menatap ke arah Ander sebal namun Ander pura pura memejamkan mata.


Dengan tenaga yang Ia miliki, Eliya menarik lagi selimutnya hingga kini Ander bangun dan mencoba menarik selimutnya lagi namun ucapan Eliya mengurungkan niat Ander untuk menarik selimut.


"Lihat itu Nak, Daddy kamu nyebelin banget ya masa Mama nggak di kasih jatah selimut sama sekali." kata Eliya sambil mengelusi perut nya.


Ander akhirnya memberikan selimut pada Eliya lalu berbaring memunggungi Eliya. "Dasar tukang ngadu." omel Ander membuat Eliya terkikik.


....


Sementara Revan terkejut bukan main, Baru saja ingin meneguk segelas whisky, namun papa nya sudah berdiri dibelakangnya dan menatap nya tajam.


"Astaga kenapa Papa di sini." batin Revan yang kini wajahnya sudah memucat setengah mati.


"PULANG!" kata Vano menarik lengan Revan namun seketika Randi menahan Vano.


"Pakde, Ini semua nggak seperti apa yang Pakde bayangin." kata Randi merasa bersalah dan membela Revan.


"Memang kamu tau apa yang pakde bayangin?" tanya Vano melepaskan lengan Revan dan fokus pada Randi.


Randi seketika gugup apalagi melihat tatapan kilat Vano padanya. Ia tau jika Vano marah meski ucapan nya sedikit mengelikan untuk Randi.

__ADS_1


"Randi yang ngajak Revan kesini, maaf." kata Randi sambil menunduk menyesal.


Terdengar helaan nafas dari Vano, "Pakde cuma ngajak Revan pulang karena pakde liat disebelah sana banyak tante tante girang menatap ke arah kalian. jadi sebelum kalian jadi korban tante tante girang dan di jadiin berondong manis lebih baik sekarang kalian ikut pakde pulang." Vano menunjuk sekumpulan tante tante girang yang memang menatap mereka genit membuat Randi dan Revan bergindik ngeri.


"Gue balik duluan deh." Randi mengambil tangan Vano lalu menciumnya setelah itu Ia berlari keluar club.


"Ya udah ayo kita balik Pa." ajak Revan memohon pada Vano.


"Yakin mau balik? nggak mau nyobain jadi berondong manisnya mereka?" tanya Vano menunjuk kearah sekumpulan tante tante girang.


"Pah, nggak usah gila deh." panik Revan kini menarik lengan Vano dan mengajaknya keluar.


"Ngapain disana? lagi ada masalah berat banget dan nggak bisa diselesaikan?" tanya Vano kala mereka sudah berada didalam mobil.


"Bukan gitu Pa," Revan terlihat merasa bersalah. Selama ini Papa dan Mama nya begitu sangat menyanyangi dirinya namun Ia sudah banyak membuat kedua orangtuanya kecewa. Salah satunya saat dirinya lebih memilih mendirikan bengkel dari pada menjadi dokter dan menjadi penerus klinik Papa nantinya.


"Papa sendiri kenapa di situ?" bukan nya menjawab, Revan malah balik tanya pada Vano.


"Jangan jangan Papa suka kesana juga ya main sama tante tante girang tadi!"


Vano hanya tersenyum tipis, tadi saat Vano melewati depan club jalan yang memang biasa Vano lewati tak sengaja melihat Revan dan Randi keluar dari mobil dan memasuki club. Karena penasaran Ia akhirnya ikut masuk dan melihat apa yang mereka lakukan didalam. Cukup mengelikan karena melihat Revan yang berkali kali ingin minum segelas minuman keras namun Revan urungkan karena terlihat sekali Revan masih ragu. Dan saat Ia melihat Revan sudah yakin dan akan meminumnya, barulah Vano mendekati putranya itu. Vano tak ingin tubuh putranya terkontiminasi dengan minuman keras dan berakhir kecanduan.


"Ck, ngapain Papa main sama tante girang orang dirumah aja sudah ada yang lebih dari tante girang." kekeh Vano membuat Revan melotot ke arahnya.


"Kamu sering kesana? sudah minum berapa kali? apa malah sudah sering?" tanya Vano tanpa menatap Revan karena dirinya fokus mengemudi mobil.


"Baru sekali ini dan baru juga mau nyobain minum eee malah Papa dateng."


"Enak padahal, sayang banget tadi nggak nyobain dulu."


Revan melotot ke arah Vano "Papa udah pernah?"


"Belum sih." Vano terkekeh merasa berhasil menipu Anaknya.


Mobil berhenti karena keduanya sudah sampai, "Papa bakal ngasih hukuman kamu. jadi siapin diri kamu setelah ini." Vano melepaskan seatbelt nya lalu keluar dari mobil tanpa mengubris Revan yang terlihat terkejut dan menatap ke arahnya.


"Sial, gue pikir bakal baik baik saja." gerutu Revan mengingat tadi sepanjang perjalanan Vano sama sekali tidak memarahinya.


Vano keluar dan berjalan memasuki rumah dengan lesu, memasuki rumah seperti biasa Ia di suguhkan pemandangan menyebalkan yang setiap hari terjadi dimana Papa nya memeluk dan menciumi mama nya didepannya. Bahkan tak jarang kedua orangtuanya itu berciuman bibir dan tak tau tempat.


"Dasar mesum, nggak inget umur." batin Revan kesal melewati begitu saja hingga suara Mama nya yang terkejut terdengar.


"Pa, ada Revan ih." Riska memukul lengan suaminya.

__ADS_1


"Biarin Ma, udah gede ini. biar dia pengen." balas Vano yang membuat Riska melotot sementara Revan? sudah biasa Revan mendengar papa nya mengatakan itu.


"Lho, sayang kamu sudah pulang juga? kok tumben barengan sama Papa?" Riska menghampiri Revan yang tengah berada didapur minum air putih.


Revan hanya mengangguk pelan, Ia sedikit takut jika Mama nya sampai tau Ia baru saja dari club, mungkin akan membuat Mama nya kecewa berat padanya.


Vano mendekati keduanya lalu memeluk Riska dari belakang, "Biarin Revan mandi dulu sayang karena setelah ini Dia bakal di sidang untuk pertama kalinya."


Sontak ucapan Vano membuat Riska terkejut, "Sidang? dibawa ke kantor polisi maksudnya?"


"Ck, nggak lah. di sidang sama kita aja."


Riska terlihat lega,


"Pa, jangan kasih tau mama." kata Revan menatap Vano kesal.


"Apa sih apa? Mama kan juga pengen tau." Riska terlihat sangat penasaran.


Revan yang menatap Papa nya mengejek ke arahnya menjadi kesal, sepertinya percuma memohon pada Papa untuk tidak mengatakan pada Mama nya.


Revan pun pergi meninggalkan kedua orangtuanya dan memasuki kamar nya.


"Masalah apa mas?" tanya Riska sangat khawatir.


"Cuman masalah sepele, tenang saja."


Dan saat ini Revan sudah duduk di ruang tengah bersama orangtua nya. Vano sudah menjelaskan semua pada Riska namun anehnya Riska tidak marah malah terlihat lega.


Riska menghampiri Revan lalu mengelus punggung Revan, "Syukur kamu belum jatuh terlalu dalam nak." ucapan Mama yang membuat Revan hanya menunduk lesu.


Bagaimana jika Mama tau kalau dia pernah tidur dengan Rania, apa Mama masih bisa bernafas lega seperti ini? ah mana mungkin Mama pasti akan kecewa padanya.


Lagipula untuk apa Revan masih memikirkan gadis tak setia itu. dia lah penyebab Revan datang ke club malam ini.


"Dan hukuman yang Papa kasih ringan saja." kata Vano membuat Revan mendongak dan menatap Vano.


"Cukup belikan Papa makan siang dan kamu yang mengantar setiap hari. sampai batas waktu yang tak di tentukan."


"Gampang banget kan?" tanya Vano sambil menatap ke arahnya dengan senyuman licik membuat Revan paham jika pasti akan ada sesuatu dibalik permintaan sang Papa itu.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2