DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
19


__ADS_3

Nasi, mie dan juga telur goreng sudah matang dan sudah siap disantap.


Buru buru Revan mengambil piring dan memulai makan tanpa menunggu yang lain.


"Randi mana sih?" tanya Ander yang sama sekali belum melihat Randi sepulang dari warung tadi.


"Udah ngorok tuh dikamar." Kata Revan cuek dan kembali sibuk dengan makanannya.


Rania menatap sebal ke arah Revan yang sudah santai dan asyik makan tanpa menunggu yang lainnya.


"Ngapain Lo ngeliatin gue kayak gitu? kalau mau makan aja kali nggak usah malu malu!" kata Revan kala Rania kepergok sedang menatap sebal ke arahnya.


"Nggak!"


"Ya udah, btw masakan Lo lumayan kok masih bisa dimakan." ejek Revan membuat Rania melotot ke arahnya.


"Dasar cowok nyebelin, nggak tau malu." batin Rania kesal.


Semetara Ander memasuki kamar Randi untuk membangunkan Randi karena Randi juga belum makan seharian, takutnya malah membuat Randi sakit


"Woy, makan dulu yuk... udah masak tuh." Ander mengoyang goyangkan tubuh Randi.


Randi bangun, "Lemes gue."


"Iyalah, kan belum makan. Yuk makan." ajak Ander.


Dengan malas Randi bangun dan berjalan menuju meja makan. Ander yang masih duduk dipinggir ranjang sambil menatap Randi merasa tak tega. Mereka sama sekali belum pernah bekerja keras seperti tadi siang, membuat Ander mengingat tentang Eliya, ya Eliya penyebab semua ini.


Ander mengepalkan tangannya "Gue bakal bales Elo!"


"Lo nggak makan?" tanya Ander pada Rania kala mereka sudah berada dimeja makan.


Rania menggelengkan kepalanya "Gue udah makan kok tadi."


"Btw, thanks ya udah masakin buat kita. Gue udah tau caranya jadi mungkin besok gue bisa masak sendiri." jelas Ander sementara Revan menatap Ander dan Rania dengan tatapan sebal tidak seperti Randi yang fokus dengan makanan nya.


"Emangnya kalian mau makan mie trus kayak gini tiap hari?" tanya Rania.


"Mau gimana lagi, masak kayak gini engga ribet, gampang pula."


Rania tersenyum mendengar ucapan Ander seperti kesempatan emas untuknya.


"Kalau gitu besok pagi aku kesini lagi buat ngajarin kamu masak yang lainnya."


"Eh nggak usah, nanti malah ngrepotin." Kata Ander.


"Sama sekali enggak kok, aku malah seneng bisa bantu kalian."


"Makasih banget lo ya."

__ADS_1


Rania mengangguk "Ya udah kalau gitu gue pamit ya pulang, takut dicariin nenek."


"Nggak nunggu gue kelar makan? nanti gue anter." tawar Ander yang membuat Rania semakin salah tingkah.


"Nggak usah, aku berani kok. Kamu mendingan langsung istirahat aja."


Ander menatap ke arah Revan yang sudah selesai makan,


"Ngapain mata Lo ngelirik gue?" sinis Revan.


"Anterin lah, Lo kan yang udah selesai makan." pinta Ander.


"Ogah." balas Revan acuh membuat Ander kesal dan menginjak kaki Revan sambil melototinya.


"Gue juga ogah, Lo pikir gue mau!" ketus Rania langsung pergi meninggalkan meja makan.


"Dasar cewek ngambekan!"


"Lo tuh yang kebagetan! dia udah capek capek masakin kita, cuma nganter aja nggak mau!" kesal Ander.


"Gue cuma males sama tuh cewek!"


"Tapi Lo habisin makanan yang dibikinin tuh cewek!" sindir Ander.


"Iye iye, gue anter! nyebelin banget sih." Revan beranjak dan segera menyusul Rania yang mungkin belum jauh.


"Ngapain Lo!" kesal Rania kala melihat Revan mengejarnya dari belakang.


"Ya udah nggak usah nganter! gue juga bisa pulang sendiri!"


"Ck, dasar cewek nyebelin. udah bagus dianterin malah ngomel ngomel!" gerutu Revan.


"Gue nggak butuh dianter sama Lo!" ketus Rania.


"Ohh oke, tapi nanti kalau di ujung gang sana Lo dicegat sama Mbak Kunti jangan salahin gue ya! gue dikasih tau sama warga sini kalau di ujung gang sana ada-"


"Brisik! diem nggak Lo!" kesal Rania yang kini wajahnya mulai memucat.


Sejujurnya Rania memang takut hal hal mistis seperti itu, apalagi jika sudah bersangkutan dengan makhluk gaib, Rania benar benar takut dan sialnya pria didepan nya ini malah menceritakan sesuatu yang selama ini tak ingin Ia dengar.


Rania memang sudah paham beberapa tempat angker yang ada dikampung neneknya ini dan selama ini Rania mencoba tak memperdulikan cerita warga yang beredar namun berbeda dengan malam ini, Pria menyebalkan ini malah membuat Rania benar benar ketakutan.


"Ya udah, gue balik ya!" kata Revan hendak berbalik namun lengannya dipegang erat oleh Rania.


"An-anterin gue!" kata Rania.


Revan terkekeh "Takut kan Lo!"


"Udah nggak usah banyak omong, anterin gue!"

__ADS_1


"Iya iya, udah nyuruh galak lagi!" Revan pun berjalan disamping Rania yang masih memegang erat lengannya.


"Yakin nih mau pegangan kayak gini? ntar kalau ada yang liat dikita kita pacaran!"


Seketika Rania menyentak lengan Revan dan menatap pria itu sebal membuat Revan terkekeh.


"Makasih!" ucap Rania kala keduanya sudah sampai didepan rumah nenek Rania.


"Ya, gue balik dulu." Rania hanya mengangguk dan memasuki rumah.


Sementara Revan berbalik pulang kerumah.


Saat melewati ujung gang yang gelap dan sepi, Revan merasa bulu kuduknya merinding,


"Sialan! gue nakutin tuh cewek kenapa jadi gue yang kena!" batin Revan mempercepat langkahnya karena merasa ada yang memperhatikan dirinya dari atas pohon.


Entah hanya perasaan Revan atau memang ada mbak kunti yang duduk diatas pohon beringin samping gapura, Revan tak peduli yang jelas sekarang Revan ingin segera sampai rumah.


Brak... Revan menutup pintu sekeras mungkin. menormalkan nafasnya sambil mengelus dadanya lega kala dirinya sudah sampai didalam rumah.


"Ngapain Lo?" heran Ander melihat wajah Revan sedikit pucat.


"Sialan, kayaknya bener deh kalau di ujung gang itu ada yang jagain." Revan duduk disamping Ander.


"Malah bagus dong, kan aman!"


"Ya kalau yang jagain security mah aman kalau setan ya nggak aman!"


Ander menatap Revan sebelum akhirnya Ia menertawakan ucapan Revan "Lo percaya sama takhayul kayak gitu!"


"Lo nggak percaya? nih gue aja masih merinding!" Revan memperlihatkan tangannya pada Ander.


"Penakut Lo!" ejek Ander.


"Sialan! gue serius ini!"


Ander bangkit dari duduknya "Serah deh, gue mau tidur biar besok fit pas kerja!"


Revan menatap kesal punggung Ander sebelum akhirnya Ia juga ikut bangkit dan berjalan mengikuti Ander.


"Ngapain Lo masuk ke kamar gue?" tanya Ander heran.


"Gue ikut tidur sini ya, please!" Revan memohon pada Ander.


"Haa? ogah! sana tidur dikamar Lo sendiri."


Revan tak memperdulikan ucapan Ander, Ia langsung saja memasuki kamar Ander dan berbaring di ranjang Ander.


"Sialan banget sih! awas aja sampai Lo ngompol di sini,"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...


__ADS_2