DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
91


__ADS_3

Risha yang sudah membawa makan siang untuk Vano segera berjalan mendekati pintu ruangan Vano dan mengetuknya.


"Masuk aja Sha." terdengar suara Vano dari dalam dan Risha terkejut karena didalam Vano tak sendiri namun bersama istrinya yang kini tengah menyuapi Vano makan.


"Siang Bu." sapa Risha hangat yang dibalas senyuman oleh Risha.


"Sudah makan siang belum Sha? sini makan siang bareng." ajak Riska yang sudah beberapa kali bertemu dengan Risha dan juga sangat menyukai kesopanan Risha.


"Nanti saja Bu, saya hanya mau mengantar ini." Risha memperlihatkan kantong kresek warna hitam yang berisi makan siang milik Vano.


"Buat kamu aja Sha, ini saya malah udah dianterin makan siang sama istri yang paling cantik sedunia." kata Vano sambil mengedipkan mata ke arah Riska membuat Riska mengerutu karena malu.


"Ta-tapi dok," Risha ingin menolak namun tatapan tajam Vano membuatnya tak bisa menolak.


"Dan kembalian nya juga buat kamu."


Risha hanya bisa mengangguk pasrah. "Terimakasih dok, saya permisi keluar."


"Nggak makan bareng di sini aja Sha?" tanya Riska sebelum Risha keluar.


Risha menggeleng pelan, "Tidak bu, saya diluar saja."


"Ya sudah kalau begitu,"


Risha membuka pintu dan segera keluar dari ruangan Vano.


"Mau nggak Ma, dapet mantu kayak Risha gitu?" tanya Vano.


"Mau banget, tapi apa Risha mau sama Revan yang bukan dokter Pa?" Riska terlihat ragu.


"Mau lah mah, nanti biar Papa yang atur."


Riska mengerutkan keningnya, menatap suaminya sedikit heran "Pa kalau bisa jangan di paksa. biar mereka yang menentukan pilihan masing masing."


"Mama nggak mau nanti kalau kita paksa mereka malah nggak bahagia trus ujung ujungnya cerai."


Vano mendengus sebal mendengar jawaban Riska "Gimana sih Ma, katanya mau punya mantu kayak Risha."


"Ya nggak dipaksa juga kali mas."


"Udah mas, nggak usah aneh aneh deh." Riska gemas dan memukul lengan Vano.


"Iya deh iya, manut aja sama istriku tercinta ini." balas Vano mulai menatap penuh minat. "Tapi...."

__ADS_1


"Ck, nggak usah aneh aneh deh mas. masih siang ini." sentak Riska yang mengerti maksud nakal Vano.


"1 Ronde, please sayang. aku lagi pusing banget nih." kata Vano mengambil piring yang dipegang Riska dan meletakan dimeja.


"Mas, kamu tu ya. tadi pagi kan kita juga uda-Emmm." belum selesai Riska menyelesaikan ucapannya, Vano sudah ******* habis bibir Riska.


Hingga tangan Vano sudah meraba nakal, ingin membuka kancing atas baju Riska dan...


Klek...


"Om, mau nanya itu- astaga ya ampun! Om, tante!" Randi yang baru membuka pintu ruangan Vano terkejut melihat pemandangan yang merusak mata polosnya.


"Kamu ini nggak sopan ! kalau mau masuk ketuk pintu dulu." Vano menatap sebal ke arah Randi yang malah tersenyum menatap Vano.


"Salah Om, gituan nggak tau tempat, nggak tau waktu." kata Randi membuat Riska malu.


Vano memang benar benar menyebalkan, membuat malu didepan Randi.


"Lagian Om, masih siang ini. masih jam kerja juga. bisa bisanya ya ampun." Randi menepuk jidatnya membuat Vano kesal lalu bangkit menghampiri Randi.


"Aku nggak dibolehin masuk nih?" tanya Randi melihat Vano menghampirinya.


Vano mengedipkan sebelah matanya, mengajak Randi keluar namun sialnya Randi malah nyelonong masuk dan duduk disamping Riska.


Randi melirik ke arah Vano yang mengedipkan matanya, "Lho bukan nya Revan-"


"Biasa Mah, Revan kan masih dibengkel palingan." kata Vano mendahului ucapan Randi membuat Randi terkekeh karena nyatanya Om Vano masih belum jujur pada Tante perihal Revan.


"Aku nggak ikut ikutan pokoknya." kata Randi membuat Vano melotot ke arahnya.


"Ada apa sih? apa jangan jangan Revan marah sama Mama ya?" tebak Riska "Ya udah habis dari sini biar aku samperin anaknya." kata Riska sontak membuat Vano panik.


"Eh sayang, mendingan nggak usah deh. biarin aja nanti juga balik sendiri anaknya." kata Vano membujuk Riska.


"Ya kalau pulang, kalau nggak pulang lagi?"


"Udahlah, terserah om sama tante saja. Randi mau keluar dulu." kata Randi bangkit dari duduknya dan segera keluar dari ruangan Vano dari pada Ia terus mendengar perdebatan om dan tantenya.


Randi menutup pintu ruangan Vano dan melihat disebelah ada meja kerja sang pujaan hati. Tadi saat Randi kesini, meja Risha kosong jadi Randi langsung masuk keruangan Vano begitu saja.


Dan sekarang Randi melihat Risha yang sedang menikmati makan siang sambil mengetikan sesuatu di laptopnya.


"Makan dulu neng baru kerja lagi." celetuk Randi berjalan mendekat ke meja Risha lalu duduk didepan Risha.

__ADS_1


Sontak kedatangan Randi membuat Risha terkejut dan hampir saja keselek apalagi sekarang Randi sudah berada didepan nya.


"Emm, mas... ngapain di sini?" tanya Risha dengan suara gugup.


"Mau ngapelin neng cantik dong." kata Randi membuat Risha tersipu malu.


"Adem banget nih dipanggil mas." kata Randi lagi lagi membuat Risha tersipu.


"Ya udah dilanjutin aja neng, mas mau balik ke ruangan Revan." kata Randi yag sebenarnya masih ingin berlama lama disana namun takut menganggu pekerjaan Risha.


Risha mengangguk dan menatap punggung Randi yang kini mulai menjauh.


Siang ini, Ander menyempatkan untuk datang ke klinik tempat Revan dirawat. Ia memang mencuri curi waktu di siang hari agar Eliya tak ikut lagi. mengingat Eliya sedang hamil dan Ander tak ingin Eliya kelelahan.


"Kau belikan makan siang untuk Nona, dan jangan lupa jemput aku di sini jika sudah selesai." kata Ander pada Ran sebelum keluar mobil.


"Dan Ya, jangan katakan jika aku sedang pergi ke klinik. jangan sampai Eliya tau." Kata Ander lagi.


"Baik Tuan."


Ander berjalan memasuki klinik, Ia membawa satu kantong kresek besar yang dipenuhi makanan ringan dan minuman untuk Revan dan Randi yang kini menjaga Revan.


Namun saat Ander ingin berbelok, suara seseorang membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Tante udah di sini?" tanya Ander melihat Riska yang baru saja memanggil namanya.


"Iya udah dari tadi." jelas Riska "bawa apa kamu? ngapain kamu di sini?"


"Jajanan buat Revan sama Randi." kata Ander memperlihatkan isi dari kantong yang Ia bawa.


"Aku jenguk Revan sekarang soalnya kalau nanti Eliya pasti ikut. takut kecapekan." jelas Ander.


Riska mengerutkan keningnya heran, "Jenguk Revan? maksudnya apa?"


"Lho tante bukannya baru dari ruang inap Revan?" tanya Ander ikut bingung.


"Enggak kok, Tante baru aja habis nganter makan siang buat om kamu."


Seketika Ander menepuk jidatnya "Ampun dah, salah gue."


"Kamu belum jelasin ke tante apa maksudnya ruang rawat Revan? apa dia sakit?" wajah Tante Riska langsung pucat penuh kekhawatiran.


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2