
Eliya keluar dari kamar mandi, melihat suaminya tidak ada dikamar akhirnya memutuskan untuk mencari suaminya Ander.
Dengan kimono tipis yang Ia pakai, Ia berjalan menyusuri ruangan apartemen namun tak menemukan Ander. Hingga akhirnya tangan Eliya membuka pintu ruang kerja milik Ander dan cukup terkejut melihat Ander disana fokus dengan laptopnya dan masih mengenakan pakaian kerjanya.
"Nggak mandi dulu?" tanya Eliya berjalan mendekat kearah Ander.
"Bentar sayang, masih nanggung nih." Ander menjawab ucapan Eliya namun matanya masih fokus menatap laptop.
"Ck, tumben banget sih masih kerja?" heran Eliya karena selama menikah dengan Ander Eliya jarang sekali melihat Ander masih bekerja saat sudah berada dirumah.
Ander menghembuskan nafas, menatap Eliya sayu dan menarik tangan Eliya, membawa Eliya kepangkuan nya lalu menghirup bau wangi ditubuh Eliya.
"Gara gara Ran nih, jadi gini!" omel Ander membuat Eliya mengerutkan keningnya heran.
"Harusnya tadi aku masih kerja kan, jemput kamu jam 6 eee si Ran aku lihat dari jam 4 aja udah mondar mandir dan parahnya dia sampai masuk keruangan tanpa disuruh."
Seketika tawa Eliya membuncah mendengar gerutuan Ander,
"Dia lagi bucin, maklumi aja." kata Eliya sambil mengelus dada bidang milik Ander.
"Lagian salah mas juga kan? kemarin nyuruh libur kenapa sekarang disuruh kerja?" giliran Eliya yang mengomeli Ander membuat Ander tersenyum tipis.
"Makanya aku ajak pulang, aku juga tau aku yang salah." kekeh Ander.
"Tumben nih bigbos mau disalahin." cibir Eliya.
Ander tersenyum menanggapi ucapan Eliya, Ia kembali menciumi Eliya membut Eliya mengeliat geli.
"Mandi dulu sana lah!"
"Satu ronde dulu baru mandi," Ander menyerigai.
"Mas... Mandi dulu!"
"Iya iya ampun dah, bumil galak amat." Eliya tersenyum melihat Ander sudah berhenti menciuminya.
Kini Ander mengelus perutnya yang sedikit membuncit,
"Dedek bayi lagi ngapain di dalem? lagi bobok, lagi main apa lagi dengerin Daddy ngomong nih?" tanya Ander masih mengelusi perut Eliya membuat Eliya menatap Ander haru melihat Ander begitu menyayanggi calon baby mereka.
"Kayaknya lagi bobok nih," baru saja mengatakan itu tangan Ander tiba tiba merasa perut Eliya yang Ia sentuh bergerak mengikuti arah tangan nya.
"Eh dia gerak sayang." kata Ander dengan nada senang.
__ADS_1
Eliya hanya tersenyum, memang akhir akhir ini Ia merasakan baby yang Ia kandung sering bergerak pelan hanya saja Ia memang belum sempat menceritakan pada Ander.
"Haloo Baby, kamu denger Daddy kah? Daddy sayang kamu. sehat terus ya disana." kata Ander lalu mengelus perut Eliya dan menciumnya membuat Eliya benar benar terharu.
"Lah kok nangis?" heran Ander melihat mata Eliya memerah.
"Kamu sayang banget sama Baby jadi aku..."
"Sayang kamu juga." Ander langsung mencium pipi Eliya membuat Eliya langsung saja tersenyum memukul Ander.
"Kok nggak jadi nangis?" goda Ander membuat Eliya kembali memukuli dada Ander.
"Rese ya." omel Eliya membuat Ander tersenyum dan memeluk Ander.
Ander mengelus rambut Eliya, rasanya benar benar membahagiakan jika seperti ini. Tak ada dendam yang tersimpan. mencintai satu sama lain dan berbahagia bersama seperti ini.
....
Revan menghentikan mobilnya didepan kafe Rania yang sepertinya akan tutup. Revan ingin menemui Rania, ya Ia harus menemui Rania dan meminta penjelasan apa maksud Rania melakukan semua ini padanya.
Revan menunggu didalam mobil, menatapi semua karyawan kafe yang sudah berhamburan pulang dan akhirnya Ia melihat Rania paling terakhir sedang mengunci pintu kafe.
Segera Revan keluar dari mobil dan menghampiri Rania. terlihat sekali raut wajah Rania terkejut kala berbalik dan melihat Revan berada dibelakangnya.
"Nggak ada yang perlu di omongin lagi Van." balas Rania hendak menjauh namun sayang Revan kembali mencekal tangan nya.
"Van, lepas!"
Rania mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Revan namun sayang nya tenaga Revan lebih kuat dari Rania.
Revan membawa paksa Rania kedalam mobil Revan dan tak ada pemberontakan sama sekali dari Rania.
keduanya akhirnya berada didalam mobil Revan, sama sama diam menatap ke arah luar hingga akhirnya Revan tak tahan dan berbalik ke arah Rania.
"Lo bohongin gue Ran? kenapa?" tanya Revan lembut membuat Rania terkejut.
Dari mana Revan tau? batin Rania yang hanya diam.
"Salah gue apa Ran? coba Lo ngomong salah gue dimana? Lo berubah hanya dalam sehari!" Kali ini Revan benar benar meluapkan rasa kecewanya.
Dengan suara berat akhirnya Rania menjawab, "Sorry Van, gue udah punya pacar dan gu-"
"Dia kakak Lo! bukan pacar Lo!" kata Revan menatap Rania geram "Berhenti drama Ran, gue udah tau semuanya."
__ADS_1
Rania terkejut mengetahui Revan tau jika pria yang bersamanya itu adalah kakak Rania. Sekali lagi Rania menatap Revan yang masih menatap nya dengan geram.
"Apa alasan Lo nglakuin semua ini? apa karena penyakit Lo?"
"Tau dari mana Lo?" kini giliran Rania yang geram menatap Revan.
"Tau dari mana Lo gue sakit? gue nggak sakit!" ketus Rania.
"Jantung lemah, masih mau bohong lagi?"
Dengan tatapan kesal Rania memukuli lengan Revan, "Brengsek! siapa yang udah ngasih tau Lo!"
Revan mencekal tangan Rania, "Lo bohongin gue karna Lo sakit? Lo takut gue nggak bisa nerima keadaa-"
"Enggak Van... Gue bohongin Lo karena gue nggak pernah bisa cinta sama Lo!" kata Rania membuat Revan terpaku dan menatap Rania tak percaya.
"Maafin gue Van, gue ..."
"Gue udah berusaha buat bisa cinta sama Lo, gue udah berusaha buat ngelupain Ander tapi nyatanya..."
"Gue nggak bisa Van, gue nggak bisa."
Revan melepaskan tangan Rania sementara Rania menunduk menangis.
"Gue nglakuin ini karena memang udah nggak mau ngasih harapan lagi ke Elo! gue takut Lo berharap sama Gue yang sama sekali nggak pernah bisa membalas cinta Lo van. maafin gue."
Revan menatap ke arah mata Rania saat Rania mengakui semunya dan tak ada kebohongan di mata Rania. semua jujur. Rania memang tak bisa mencintainya, lalu bagaimana dengan kemarin? saat mereka bercinta seolah mereka pasangan kekasih. Apa itu tidak ada artinya untuk Rania?
"Apa sama sekali nggak ada kesempatan untuk aku Ran?" tanya Revan masih berharap.
"Sorry Van, gue bener bener nggak bisa. semua kepalsuan yang gue buat cuma semakin nyiksa gue. sekali lagi sorry."
Revan tersenyum pahit, Sekali lagi Ia menatap Rania yang juga menatapnya.
"Keluar Ran... keluar dari mobil gue sekarang!" kata Revan memalingkan wajah tak menatap Rania.
Tanpa menunggu lagi, Rania keluar dari mobil Revan.
Revan segera melajukan mobilnya kencang meninggalkan kafe Rania dan juga Rania.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1