
Didalam ruangan nya, Ander masih saja tersenyum memandang foto hasil usg calon bayinya.
Entah mengapa, hanya melihat foto saja membuat hati Ander menghangat dan juga sejenak melupakan balas dendam nya.
Mengingat balas dendamnya Ander menghela nafas, sepertinya mulai sekarang Ia harus segera melupakan masa lalu, melupakan balas dendam nya dan mulai menerima Eliya sebagai masa depan nya.
Ya, sepertinya Ander akan melakukan itu. demi buah hati yang sedang tumbuh di rahim Eliya. lagipula selama ini Ander bersikap tak baik dengan Eliya namun Eliya masih tetap bersikap baik padanya, benar benar menampar Ander untuk bisa memaafkan semuanya.
"Tuan." Entah sejak kapan Ran berada di ruangan nya. Ander memasukan foto usg di dompetnya.
"Ada apa?"
"Tuan ingin makan siang dengan Nona?" tanya Ran mengingat ini sudah pukul 11 siang dan sebentar lagi waktunya makan siang.
Ander mengangguk, "Ya seperti biasa tapi kali ini kita yang kesana."
Sebelumnya memang Eliya lah yang sering datang ke kantor Ander karena pekerjaan Ander yang padat jadi terpaksa Eliya yang datang ke kantor Ander setiap jam makan siang.
"Baiklah Tuan." Ran masih berdiri didepan Ander membuat Ander jengah.
"Untuk apa kau masih di situ? apa masih ada yang ketinggalan?" sentak Ander.
"Ti-tidak Tuan, maafkan saya." Ran segera keluar sebelum kembali mendapatkan amukan dari Ander.
....
Ander kini sudah bahagia berbeda dengan Rania yang terlihat geram. Sudah hampir 4 bulan semenjak Ia mendengar percakapan Ander dan 4 bulan itu juga Ia menunggu Ander meninggalkan istrinya namun kenyataan nya Ander masih bersama istrinya. Bahkan Ander sudah jarang pergi ke kafe nya.
Selama ini memang Rania selalu meletakan alat perekam di meja yang biasanya ditempati oleh Ander dan saudara nya, bukan tanpa sebab Rania melakukan itu. Rania hanya ingin mendengar apa saja yang mereka bicarakan termasuk pengakuan Ander yang tak pernah bisa menyukainya, Rania tau itu namun Rania tak putus asa. Ia akan tetap berusaha agar bisa membuat Ander jatuh cinta padanya.
Namun Rania harus dibuat patah hati karena melihat Ander menikah. Sempat Rania putus asa dan ingin mengikhlaskan Ander namun saat Rania mendapatkan rekaman Ander ternyata tidak pernah mencintai istrinya kembali membuka peluang Rania untuk masuk ke dalam hidup Ander.
"Apa Istrinya mandul? kenapa belum hamil juga. seharusnya Ia sudah hamil dan Ander meninggalkan nya." gumam Rania.
"Sepertinya aku harus menemui Eliya."
Dan di sinilah Rania sekarang, berada di ruangan milik Eliya.
Rania merasa Eliya tidak begitu baik menyambutnya, dilihat dari wajah Eliya yang mendadak masam padanya.
"Hay apa kabar?" tanya Rania ramah.
"Kamu mencariku?"
__ADS_1
Rania mengangguk lalu duduk disalah satu sofa padahal Eliya tidak menyuruhnya duduk.
"Ada keperluan apa?" Eliya bangkit lalu duduk disamping Rania.
"Oh ayolah Eliya, kenapa harus bersikap seperti itu. bukankah aku ini teman Ander seharusnya kamu juga bersikap baik padaku."
"Kita juga pernah bertemu di supermarket waktu itu. jadi bukankah sebaiknya kita berteman mulai sekarang?"
Muak... itulah yang Eliya rasakan sekarang. Entahlah Eliya hanya merasa Rania tidak sebaik kelihatan nya.
Eliya mengangguk "Terserah kamu saja."
"Revan bilang jika istrinya Ander memiliki toko bunga jadi aku datang untuk berkunjung, apakah salah?" tanya Rania.
"Tentu saja tidak, berkunjunglah kapan saja kau mau." balas Eliya memaksakan senyum.
"Ah iya, bagaimana kabar Ander? sudah lama sekali dia tak menemui ku di kafe." tanya Rania yang tentu saja langsung membuat Eliya mendidih.
"Apa maksudmu?" Eliya menatap Rania tajam.
"Aku hanya bertanya bagaimana kabar suamimu? apa aku salah? dia temanku." balas Rania santai membuat Eliya mengepalkan tangannya.
"Dia baik, ada alasan kenapa dia tidak pernah lagi datang ke kafe."
"Kenapa? kau melarangnya?" ejek Rania.
Eliya menjeda ucapan nya membuat Rania semakin penasaran.
"Hanya saja?"
"Aku sedang hamil anaknya. mungkin itu yang membuat dia jarang datang." Eliya tersenyum puas melihat wajah melongo Rania. Ia memang sengaja mengatakan ini pada Rania agar Rania segera sadar diri dan tak menganggu suaminya lagi. Eliya bahkan sampai mengelus perutnya didepan Rania.
Namun nyatanya semua diluar dugaan Eliya karena Rania malah tersenyum senang. "Benarkah, aku sangat senang mendengarnya."
Eliya menatap ke arah Rania dan melihat raut bahagia Rania yang tak di buat buat.
"Benarkah dia bahagia atas kehamilanku?" batin Eliya.
"Terimakasih."
"Dan mungkin sebentar lagi Ander akan meninggalkan mu." Eliya menatap tajam ke arah Rania.
"Apa maksudmu?" jelas Eliya tak suka mendengar Rania mengatakan itu "Apa kamu berharap Ander meninggalkan ku? Kamu ini terang terangan menyukai Ander?"
__ADS_1
Rania tersenyum, "Aku memang menyukai Ander sejak lama dan melihat Ia sudah menikahimu. Awalnya aku menyerah."
"Namun sekarang saat aku tau kenyataan yang sebenarnya, aku ingin kembali memulai."
Sontak Eliya berdiri dari tempat duduknya, menatap Rania tak percaya. Rania yang secara terang terangan ingin merebut Ander darinya.
"Lebih baik kamu pergi saja." usir Eliya namun bukannya pergi Rania malah semakin terkekeh.
"Kita sesama wanita dan aku kasihan padamu jadi aku ingin kamu men-"
"Cukup! aku tak mau mendengar apapun lagi dari kamu. jadi lebih baik kamu pergi sekarang!" Eliya sudah sangat emosi apalagi melihat wajah tenang tak bersalah dari Rania.
"Aku akan pergi setelah kamu mendengarkan ini." Rania meletakan sebuah benda kecil di meja Eliya.
"Apa itu?"
"Ambilah dan dengarkan. kamu harus tau sebelum kamu jatuh semakin dalam nantinya."
Eliya menuruti Rania, Ia ambil benda kecil yang Eliya tau jika itu alat perekam. Eliya segera mendengarkan isi rekaman itu.
"Ander, Revan dan Randi?" Suara dari rekaman itu sangat dikenali oleh Eliya.
Rania hanya mengangguk membuat Eliya kembali mendengarkan rekaman itu.
Awalnya Eliya masih biasa saja namun setelah cukup lama mendengar membuat tubuh Eliya seketika melemas dan merosot ke bawah.
"Apa yang dia katakan?" tanpa disadari air mata Eliya mulai menetes.
...
Ander memasuki toko Eliya untuk mengajak Eliya makan siang diluar. mengingat hari ini jadwal pekerjaan tidak terlalu padat jadi waktu yang tepat untuk keluar bersama Eliya.
Ander hendak membuka pintu ruangan Eliya,
"Tuan mencari Nona?" tanya salah satu karyawan toko.
Ander hanya mengangguk.
"Tapi Nona baru saja pulang."
"Pulang? apa terjadi sesuatu?" raut wajah Ander berubah khawatir.
"Saya tidak tau Tuan, tapi tadi Nona menangis lalu mengatakan jika Ia ingin pulang."
__ADS_1
"Menangis? apa yang terjadi." Ander yang bingung sekaligus khawatir akhirnya bergegas keluar untuk pulang ke apartemen.
BERSAMBUNG....