DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
34


__ADS_3

Sah ....


sah...


sah...


Suara semua orang yang ada diruangan itu kala Ander sudah selesai mengucap ijab dan kabul dengan lancar dan hikmat.


Alhamdulilah... suara syukur dari para orangtua yang sudah lega menikahkan anak mereka, ya meskipun dengan jebakan yang membuat mereka menikah.


Ander melingkarkan cincin dijari manis milik Eliya, begitu juga dengan Eliya melingkarkan cincin di jari Ander.


"Hayuu, sekarang istrinya cium tangan suaminya dulu dong habis itu suaminya nyium kening istrinya biar tambah sah nya." kata pak penghulu.


"Ini pengantin nya masih malu malu ya." tambah pak penghulu nya.


Ander segera mengulurkan tangan nya, awalnya Eliya masih enggan namun karena pelototan Sandi akhirnya Eliya mencium tangan Ander begitu juga dengan Ander yang mencium kening Eliya membuat semua orang bersorak mengoda keduanya.


"Saya seneng kalau lihat pengantin yang masih malu malu begini." celetuk Pak penghulu.


"Mereka malu malu kan masih banyak orang pak, coba aja nanti pas dikamar. langsung tancap gass." oceh Revan yang langsung mendapatkan pelototan Riska yang Mama sementara yang lain tertawa.


"Anak kamu tuh suka malu maluin." omel Riska pada Vano yang ada disebelahnya.


"Nanti kita bikin lagi yang nggak malu maluin ya." bisik Vano membuat Riska melotot dan mencubit pinggang Vano.


....


Selesai dengan acara ijab dan kabul kini mereka mengadakan acara syukuran keluarga karena untuk resepsi rencananya akan di adakan bulan depan.


Semua orang berkumpul di sini, menikmati acara syukuran sambil sesekali mengoda Ander dan Eliya.


"Pengantin baru nya nggak buru buru masuk kamar kan?" tanya Vano mengoda Ander yang sedari tadi memasang wajah cemberut begitu juga dengan Eliya.


"Kasian tuh kayaknya udah pada nggak betah, lihat aja mukanya pada cemberut." Rangga ikut mengoda.


"Apa sih om, nggak lucu!" balas Ander cuek.


"Pengantin baru kok nggak bahagia." kata Vano lagi "Harusnya seneng dong, belum tau aja rasanya gimana coba kalau udah uhh bikin nagih."


"Mas... kamu tuh kalau ngomong yang bener dong! anak kamu belum nikah, Randi belum nikah nanti malah ngajarin mereka lagi!" omel Riska pada suami nya.


"Gampang Ris, tinggal nikahin aja anaknya." kata Alex menimpali.

__ADS_1


"Enggak enggak lah! mau nikmati masa muda dulu." balas Revan.


"Halah, bilang aja masih belum ada calon." ejek Alex.


"Nggak usah ngejek deh pakde, yang suka sama Revan tuh banyak tapi memang Revan nya aja yang masih males." balas Revan tak mau kalah.


"Anaknya siapa dulu nggak banyak yang naksir, kayak bapaknya dulu." kata Vano dengan nada sombong.


"Iya saking banyaknya sampai mau nikah aja nunggu di grebek orang sekampung dulu ya." ejek Alex membuat Vano melotot dan langsung melempar Alex dengan tempe goreng.


"Eh mulut dijaga ya." Vano kesal karena masa lalu bersama Riska tak ingin anak anak tau meskipun sampai sekarang pun Vano juga tak tahu itu semua adalah hasil perbuatan Alex dan Sandi.


"Sudah sudah, kalian ini. udah tua juga masih pada berantem!" tegur Ella.


"Sayang aja nih Bianca nggak ada, coba ada Bianca udah habis dia." kekeh Alex. Bianca memang tak bisa datang karena ada orangtua rekan nya yang meninggal jadi hanya Rangga saja yang bisa datang ke acara Ander dan Eliya.


Vano hanya melotot ke arah Alex kesal karena Ia ingin menjawab sudah mendapatkan pelototan dari ibu negaranya membuat Alex semakin terkekeh.


"Udah langsung mau tancap gas bikinin cucu apa menikmati masa indah berdua dulu?" tanya Rangga pada Ander.


"Belum tau om, belum kepikiran sampai situ." balas Ander acuh.


"Biar mereka nikmati dulu aja masa masa indah berdua, nanti kalau mereka siap baru deh program hamil." kata Ella yang langsung disetujui oleh Sandi dan Nisa.


"Tapi kalau yang semalem langsung jadi gimana?" tanya Revan polos.


"Cuma salah paham, udah nggak usah bahas lagi ntar anaknya ngambek." kata Alex.


"Udah tau salah paham langsung aja dinikahin." cibir Ander.


"Udah dibilang nikah itu enak kok... makanya nanti malem dirasain." kekeh Vano membuat Ander memutar bola matanya malas.


Selesai acara syukuran sekaligus makan bersama, Eliya dan Ander meminta kunci kamar pada Sandi karena kunci kamar mereka dibawa oleh Sandi.


"Kok cuma satu bund? punya Ander mana?"


Nisa menatap penuh protes pada Eliya,


"Iya iya, kunci kamar Mas Ander mana?" tanya Eliya dengan nada malas.


Ander yang ada disampingnya pun terkejut dan menatap ke arah Eliya karena Eliya menggunakan embel embel mas didepan namanya.


Nisa tersenyum "Kuncinya cuma satu, kan kalian bakal satu kamar."

__ADS_1


"Haaaa?"


"Bunda nggak bercanda kan?"


"Lho ngapain bunda bercanda? kalian kan sudah menikah, sudah pasti bakal satu kamar."


"Ta-tapi Bund..."


"Kalian ini gimana sih? kemarin belum sah aja kalian tidur seranjang. sekarang udah nikah nggak mau." tanya Nisa sedikit heran.


"Mau kok , mana kuncinya." Ander menjawab malas dan meminta kunci yang dipegang Eliya lalu pergi meninggalkan Eliya dan Nisa.


"Sudah sana, susul suami kamu."


"Ta-tapi Bund,"


"El, nggak baik lho kalau kamu kayak gini, kalian kan sudah menikah." jelas Nisa membuat Eliya menghembuskan nafas berat dan langsung pergi menyusul Ander.


Sebenarnya Nisa sedikit tak tega melihat wajah melas Eliya namun mau bagaimana lagi, Ia juga tak bisa menentang keputusan suaminya.


"Kenapa sayang?" tanya Sandi tiba tiba memeluk Nisa dari belakang.


"Barusan El minta kunci kamar."


"Udah kamu kasih?" tanya Sandi karena Sandi baru saja selesai mandi.


"Udah mas, kok aku nggak tega ya ngeliat Eliya mas."


Sandi hanya tersenyum, Ia mengajak istrinya duduk dipinggir ranjang "Waktu Eliya lahir dulu, kamu pernah bilang sama aku kalau kamu takut Eliya mengalami apa yang kita lakuin dulu kan? **** sebelum menikah."


Nisa mengangguk, memang itu yang Nisa takutkan dulu. Eliya melakukan hal yang Ia lakukan dulu sebelum waktunya.


"Nah mungkin dengan ini kita bisa menghindarkan Eliya melakukan semua itu sayang." jelas Sandi membuat Nisa menatap ke arahnya.


"Percaya sama aku, semua akan baik baik saja. yah meskipun dia nanti akan mengalami hal yang belum pernah Ia alami namun semua akan berakhir bahagia."


"Jadi jangan mengkhawatirkan apapun lagi. ini adalah keputusan yang tepat untuk mereka."


"Aku hanya ingin Eliya bahagia mas." kata Nisa memeluk suaminya.


"Eliya akan bahagia sayang, tentu putri kita akan bahagia jadi jangan mengkhawatirkan apapun." kata Sandi.


Sejak awal Ia memutuskan untuk menikahkan Eliya dengan Ander, Sandi sudah menyelidiki banyak hal yang tidak semua orang tau. itulah yang membuat Sandi percaya menyerahkan putri nya hidup bersama Ander.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen....


__ADS_2