DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
100


__ADS_3

Ander mendengar bunyi ponselnya, Ia lantas mengambil ponselnya dan menerima panggilan itu.


"Apa kamu yakin?" tanya Ander pada si penelepon.


"Baik, aku harap kau tak salah mencari informasi." kata Ander lalu mematikan sambungan telepon.


"Siapa mas?" tanya Eliya yang sedang menyiapkan makan malam, melihat Ander begitu serius menerima panggilan yang entah dari siapa.


"Biasa, klien." Ander meletakan ponselnya dimeja dan mulai duduk dikursi, menunggu Eliya selesai menyiapkan makanannya.


"Masak apa nih istriku yang cantik?" Ander melihat ikan goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan serta tumis kangkung yang terlihat begitu menggoda dan menggiurkan.


"Ck, udah tau masih aja nanya."


Ander terkekeh, "Biar keliatan romantis gitu, istriku lagi hamil masih masakin aku, masa aku nggak bersikap romantis." kata Ander membuat Eliya tersenyum.


"Udahlah mas, kita makan aja sekarang. aku udah laper banget."


"Uhh ternyata dedek bayi kita kelaparan ya didalam." kata Ander dengan suara dibuat buat seperti anak kecil membuat Eliya terkekeh.


"Kamu habis dapet apa sih mas? tumben banget deh." heran Eliya.


"Jangan ditumbenin lah, aku kan lagi usaha bikin istriku bahagia terus."


Blush, Pipi Eliya langsung saja merona mendengar gombalan dari Ander "Papa kamu udah pinter ngrayu Mama sekarang nak." kata Eliya sambil mengelusi perutnya membuat Ander terkekeh.


....


Paginya, Randi kembali menemui Ander. Bukan tanpa sebab sejak kemarin Randi menemui Ander. Randi tentu harus mengetahui kebenaran tentang Rania dari orang yang disewa Ander untuk menyelidiki Rania.


"Penasaran banget nih? sepagi ini udah di sini aja." ejek Ander saat Ia memasuki ruangan nya dan melihat Randi sudah duduk disana.


"Ck, jadi gimana?"


"Cowok yang waktu itu Lo lihat di bandara sama masuk hotel bareng Rania itu abangnya, dan orang Gue bilang sih Rania aman."


"Yakin?"

__ADS_1


"Yakin gimana maksud Lo?" Ander menatap Randi heran.


"Yakin nggak nyoba cari orang lagi, biar kita tahu sama nggak omongannya." jelas Randi seolah masih tak mempercayai kinerja anak Buah Ander.


"Lo ngraguin orang gue?" tanya Ander dan langsung saja Randi mengangguk.


"Ck, sialan banget Lo! gue udah sering nyewa tuh orang dan aman, dia loyal sama gue.".


"Lagian dia nggak bakal berani bohongin gue." jelas Ander.


"Jadi intinya kita lepasin aja Revan sama Rania?"


Ander mengangguk, "Rania itu kebahagiaan REvan, siapa tau setelah mereka menikah Rania jadi cewek yang lebih baik lagi." jelas Ander.


"Serah Lu deh bang, gue mah ngikut aja." balas Randi terdengar kesal membuat Ander terkekeh.


"Nggak ada salahnya kita kasih kesempatan niat mereka berdua."


"Atau jangan jangan." Ander menatap ke arah Randi dengan tatapan curiga.


"Idih ogah, kayak nggak ada cewek lain aja." kata Randi terdengar kesal.


Ander tertawa Renyah, "Gaya Lu kayak punya cewek aja." ejek Revan.


"Sialan Lu, jomblo jomblo gini banyak yang mau."


Ander tertawa, "Udah ya berarti masalah Rania sama Revan clear."


Randi mengangguki ucapan Ander, "Mau gimana lagi, udah terlanjur bunting."


"Keenakan Si Revan sampai Rania dibikin bunting kayak gitu."


"Emang rasanya enak ya?" tanya Randi polos.


.......


Sudah dua hari lamanya setelah Revan menceritakan pada Mama nya tentang Rania Namun sikap Mama nya terlihat aneh, begitu juga dengan Papa yang sering acuh saat memasuki ruangannya. membuat Revan penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Dan rasa penasaran Revan terjawab kala Rania yang setiap siang datang dan Mama terlihat mengacuhkan Rania. Tidak seramah saat pertama kali Rania datang.


"Apa mama aku nggak setuju kamu sama aku?" tanya Rania terlihat menundukan kepalanya membuat Revan sangat terpukul.


"Jangan berpikir seperti itu, aku hanya belum mengatakan nya pada Mama dan Papa." kata Revan menenangkan Rania "Tunggu sampai aku sembuh ya."


"Gimana kalau orangtua kamu nggak setuju?" tanya Rania lagi dengan wajah khawatir.


"Nggak mungkin, pasti setuju lah." kata Revan mantap "Udah ya, nggak usah mikirin yang aneh aneh. doain aku cepet sembuh biar kita bisa nikah." kata Revan lagi menyakinkan Rania membuat Rania hanya mengangguk mesti sebenarnya Rania sendiri ragu.


Sepulang dari rumah sakit, Rania sudah memikirkan semuanya. Memikirkan tentang masa depan nya kelak. Jika sampai orangtua Revan tak merestui mereka, Rania akan pergi jauh dari Revan dan merawat bayinya seorang diri.


Karena Rania benar benar merasakan sikap berbeda mama Revan. sangat berbeda saat pertama kali Rania datang.


Apa karena dirinya memiliki riwayat penyakit jantung yang diketahui Papa Revan yang membuat Orangtua Revan tak menyukai Rania?


Entahlah, biarkan waktu yang menjawab rasa penasaran Rania. Tunggu sampai Revan sembuh dan semuanya pasti akan terjawab.


"Ada yang aneh dari Mama." kata Revan kala Rania sudah pulang dan Riska memasuki ruangan Vano lagi.


"Aneh gimana sayang?"


"Apa mama sama Papa nggak suka sama Rania?"


"Kamu kok ngomongnya gitu?" Riska terlihat gugup.


"Keliatan Ma, biasanya Mama ramah tapi dari kemarin setiap Rania kesini Mama keliatan acuh."


"Mama nggak suka Revan sama Rania?" tanya Revan sambil terus menatapi Mamanya yang terlihat gugup.


"Mama itu bukannya nggak suka cuma Papa- udahlah nanti kalau kamu sembuh coba omongin semua ke papa dulu. pokoknya Mama setuju dengan keputusan kalian" kata Riska yang sebenarnya Ia juga bingung harus bersikap seperti apa.


Riska sebenarnya tak pernah melarang dengan siapapun Revan nantinya, yang penting Revan bahagia. Namun mengingat riwayat penyakit Rania membuat Riska ragu, takut jika sewaktu waktu Rania pergi membuat Revan sangat sedih.


"Ma, Revan sayang banget sama Rania. Revan harap Mama bisa mengerti posisi Revan."


Deg... seketika Riska dibuat dilema.

__ADS_1


__ADS_2