
Ander sudah rapi dengan pakaian nya, sementara Eliya masih sibuk memilah milah baju yang akan dipakainya.
Hmmm dasar wanita, pikir Ander saat melihat Eliya masih mengenakan jubah mandinya belum mendapatkan baju yang sesuai untuk datang ke pernikahan Revan dan Rania.
"Masih belum dapet baju yang cocok?" tanya Ander karena hampir 30 menit.
"Kok bisa ya mas baju yang baru jadi kemarin udah ngepas gini? aku nggak mau pakai lah." celetuk Eliya memperlihatkan kebaya couple yang baru bulan lalu Eliya pesan namun saat datang bajunya tidak sesuai yang diharapkan Eliya.
Bukan salah penjahitnya namun karena tubuh Eliya bulan lalu saat memesan dan bulan sekarang saat datang berbeda membuat bajunya tak layak dipakai oleh Eliya.
"Nggak jadi couplean nih?" tanya Ander berjalan mendekati Eliya.
"Mau gimana lagi mas, nggak muat."
"Ya udah pakai seadanya aja sayang, yang penting kamu nyaman." kata Ander.
"Tapi nanti aku nggak cantik gimana?"
Ander terkekeh, "Kok sekarang kamu jadi berubah mikirin cantik sih? dulu perasaan cuek deh mau pakai apa aja malahan tomboy kan dulu."
"Ck, rese kan, nyebelin." Eliya merenggut kesal membuat Ander mendekat dan memeluk Eliya dari belakang.
"Nggak usah ngambek sayang, nyadar nggak udah hampir 1 jam kamu nggak selesai nyari baju?"
Eliya menatap ke arah jam dinding dan langsung melotot melihat memang sudah hampir terlambat datang ke undangan nya.
"Ya ampun, aku lama banget ternyata ya." Eliya tersenyum meringgis merasa tak enak dengan Ander.
"Oke mas, 15 menit lagi aku ready." ucap Eliya langsung menyambar salah satu baju yang ada dilemari dan segera memakainya.
Selesai memakai baju, Eliya memoleskan sedikit bedak agar wajahnya terlihat lebih natural.
Tepat 15 menit Eliya sudah selesai dengan riasan dan tatanan rambutnya, siap untuk berangkat.
__ADS_1
"Kan, gini aja udah cantik banget istriku." puji Ander membuat Eliya tersipu "Udah cantik mah mau diapain aja tetepa aja cantik."
"Ck, apa sih gombal banget." sengit Eliya "Nggak inget dulu suka ngejekin aku jelek." Eliya mengingatkan membuat Ander tersenyum malu.
Lagipula siapa yang menyangka gadis culun, jelek yang selalu dipanggil ugly bisa berubah secantik bidadari yang langsung membuat Ander bertekuk lutut memuja dan tak ingin kehilangan bahkan melupakan tujuan awal menikahi gadis itu. benar benar amazing life.
....
"Kenapa yang jadi wali nikah Pak penghulu ? bukan abang aja?" tanya Rania pada Ricky yang baru saja memasuki ruangan rias Rania.
Rania sudah selesai dirias, siap menuju pelaminan dimana Revan sudah menunggu disana. Ricky yang hendak menjemput Rania menuju ruang pelaminan harus dikejutkan dengan pertanyaan Rania yang membuat Ricky bingung harus menjawab apa.
Ricky memang berencana memberitahu semuanya pada Rania tentang ibu kandung Rania namun bukan sekarang, karena Ricky tak ingin merusak hari bahagia Rania hanya karena masa lalu orangtua mereka.
"Aku belum siap, mungkin Pak penghulu lebih matang dalam hal beginian, nggak apa apa kan?" tanya Ricky terlihat gugup membuat Rania keheranan.
"Nggak apa apa bang, kok jadi abang yang gugup sih. harusnya aku kan." ejek Rania yang kini sudah mengampit lengan Ricky siap berjalan menuju pelaminan.
"Diem ah dek, tuh diliatin banyak orang bikin gugup." ucap Ricky setengah berbisik membuat Rania tersenyum geli.
Sah ...
sah...
Sah*....
Alhamdulilah...
Semua orang diruangan itu terlihat mengucap syukur dan kelegaan atas kelancaran acara ijab dan kabul Rania Revan.
Selesai memasangkan cincin, Rania mencium punggung tangan Revan dan Revan pun segera mencium kening Rania menbuat semua orang bersorak mengoda Rania dan Revan.
Selesai ijab dan kabul Rania dan Revan menyambut para tamu undangan yang sudah berdatangan. Acara pernikahan kali ini memang diadakan langsung mengingat Rania tengah hamil membuat Vano dan Riska tak ingin membuat Rania kelelahan jika acara harus diadakan dimalam hari.
__ADS_1
Biar cepat selesai dan Rania bisa istirahat lebih awal pikir Vano.
"Akhirnya nikah juga, ntar malem ada yang begadang nih." ucap Ander mengajak Eliya mendekati Revan dan Rania.
"Selamat ya Revan dan Rania." ucap Eliya ramah. sementara Rania menunduk malu, rasanya masih ingat bagaimana dulu Rania berusaha merebut Ander dari Eliya. meski sudah berlalu dan Eliya juga sudah melupakan semuanya namun tetap saja Rania masih malu.
"Randi mana?" tanya Revan celinggukan mencari Randi, takut jika Randi masih marah dan tak datang ke acaranya.
"Belum kesini? gue tadi lihat... eh noh orangnya." Ander menunjuk Randi yang tengah mendekati seorang gadis cantik berhijab.
"Ck, dasar playboy kelas kakap, nggak bisa lihat yang bening bening." gerutu Ander.
"Masih belum dapet aja tuh bocah." celetuk Revan membuat Ander keheranan dengan maksud Revan.
"Inceran udah lama itu." jelas Revan barulah Ander paham.
Baru saja dibicarakan, Randi sudah berjalan mendekat ke arah Revan.
"Usaha terus broo." ejek Revan.
"Sampek tuek." Randi menimpali membuat Revan dan Ander terkekeh.
"Nggak usah bikin malu kita lah, naklukin cewek aja susah banget." ejek Ander.
"Yang ini beda dari yang lain, tapi tetep nggak bakal nyerah." ucap Randi penuh keyakinan.
"Kaya gue, nggak nyerah nyerah akhirnya dapet juga." Pamer Revan merangkul Rania membuat Rania mencubit pinggang Revan karena malu.
"Sakit sayang, kalau mau nanti aja jangan di sini. kasian dilihat jomblo ngenes nggak dapet dapet."
"Anjir Lo...sialan banget." kesal Randi membuat semua orang terkekeh.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa