
Risha baru saja sampai di klinik, melihat Nindi berlari buru buru ke arahnya.
"Sha, kamu udah lihat berita belum?" tanya Nindi langsung memgeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto yang membuat Risha sangat terkejut bahkan jantungnya terasa berdenyut nyeri.
"Kirain kamu pacaran sama mas Randi ngeliat kalian kayaknya deket. tapi ternyata Mas Randi udah pacaran sama sesama artis." kata Nindi menbuat mata Risha mendadak memanas ingin menangis namun Ia tahan.
"Tapi gila banget ya si Keisya, langsung posting foto ciuman gitu, kayak nggak ada foto lain aja." Nindi masih mengomel tak terima.
"Nin, aku ke kamar mandi dulu ya." Risha langsung saja meninggalkan Nindi tak memperdulikan teriakan Nindi yang memanggilnya.
Saat ini dada Risha terasa sesak, jantungnya berdenyut nyeri serta rasanya ingin menangis.
Risha memasuki kamar mandi, didalam Ia menangis sejadi jadinya. selama ini Risha sudah menjaga dirinya, menjaga hatinya agar tak tertarik dengan pria manapun yang hanya ingin mengoda nya tanpa berniat serius padanya.
Namun berbeda saat Ia pertama kali melihat Randi, Ia tertarik bahkan bisa dibilang Ia langsung menyukai Randi waktu itu.
Dan melihat Randi yang juga berusaha mendekatinya tentu Ia sangat senang dan berharap lebih. Apalagi saat Randi mengatakan jika serius dan ingin menikahinya, wanita mana yang tidak langsung bahagia.
Ia mulai membuka hatinya, menerima Randi namun sekarang yang Ia dapatkan... luka.
Ia benar benar terluka melihat foto Randi bersama wanita lain yang lebih cantik juga sepadan dengan Randi tidak seperti dirinya yang hanyalah orang biasa tak sepadan dengan Randi.
Sebelum keluar dari kamar mandi, Risha mencuci mukanya lebih dulu tak lupa merapikan jilbabnya yang sudah kusut.
Risha berjalan menuju ruangannya dan terkejut melihat Vano sudah berdiri disamping mejanya.
Vano terlihat menghela nafas panjang dan mengatakan "Kamu ke ruangan saya dulu." meninggalkan Risha yang terlihat pucat.
Risha melirik jam dipergelangan tangannya, Ia hanya terlambat 5 menit, apa Dokter Vano akan memarahinya batin Risha semakin kalut pikiran nya.
Risha membuka pintu ruangan Vano pelan, dengan langkah yang juga pelan Ia mendekat ke meja Vano dimana Vano sudah menunggu disana.
"Duduk dulu Ris." pinta Vano yang langsung di turuti Risha. setelah duduk Vano memberikan sebotol air mineral pada Risha.
"Diminum dulu."
Risha hanya mengangguk dan menurut, Ia langsung saja meneguk sedikit isi botol yang penuh itu.
"Hari ini kamu bisa pulang, tidak perlu bekerja." kata Vano membuat Risha terkejut lalu memberanikan diri menatap Vano.
"Hey jangan melotot seperti itu." Vano terkekeh.
__ADS_1
"Maaf dok, tapi apa salah saya?" tanya Risha dengan seluruh tubuh gemetar. Risha takut, Ia takut jika dipecat karena di sinilah Risha bisa mendapatkan uang untuk membantu perekonomian sang Ayah yang ada dikampung.
Vano tersenyum, "Kamu tidak salah apapun Risha, justru kinerja kamu yang bagus jadi saya ingin meliburkan kamu untuk hari ini."
"Ta-tapi saya..."
"Tenang saja Risha, saya hanya ingin meliburkan kamu tidak memecat kamu." jelas Vano sambil terkekeh. meskipun bukan waktunya untuk tertawa namun Vano tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa apalagi melihat wajah pucat Risha yang menurut Vano sangat lucu. Vano memang sejahat itu.
"Ta-tapi saya..."
"Sudah sana pulang jangan tapi tapian. kalau kamu nggak mau pulang saya p-"
"Baik dok, saya pulang sekarang." Risha bangkit lalu pergi keluar dari ruangan Vano.
Vano menggelengkan kepalanya, Ia memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Dasar ponakan brengsek, bisa bisanya dia melakukan itu pada Risha."
Vano menatap layar ponselnya dimana di sosmednya heboh berita Randi yang berciuman dengan Keisya.
Sementara itu didepan Apartemen Keisya, Randi terlihat berdiri didepan para wartawan. menatap kesal para wartawan yang menatapnya dengan tatapan menuduh.
"Jadi benar ya mas Randi sama mbak Keisya pacaran?"
"Kenapa di instagram nya mas Randi tidak ada fotonya mbak Keisya?"
"Pacaran serius apa cuma settingan nih?"
Semua pertanyaan para wartawan membuat Randi semakin mendidih. Ia berusaha menghindari wartawan namun sayangnya dirinya kalah jumlah hingga Randi akhirnya berhenti dan mengatakan "Semua hanya salah paham, tidak ada hubungan dengan keisya apalagi sampai berpacaran."
"Tapi kenapa sekarang Mas Randi keluar dari apartemen Mbak Keisya?"
"Apa jangan jangan Mas Randi menginap di apartemen mbak Keisya?"
Randi melotot tak terima "Saya tegaskan sekali lagi, kami tidak memiliki hubungan apapun apalagi sampai menginap. kedatangan saya kemari karena memiliki masalah dengan Keisya dan harus segera diselesaikan jadi saya mohon jangan menyebarkan berita yang tidak benar." jelas Randi.
"Jadi Mas Randi dan mbak Keisya sudah putus?" tanya salah satu wartawan yang membuat Randi tak bisa bersabar lebih lama.
Randi mencari celah lalu segera berlari menuju mobilnya. Rasanya percuma sekali menjelaskan pada para wartawan yang sama sekali tak mempercayainya dan malah semakin memojokan dirinya.
Sesampainya dimobil, Randi segera melajukan mobilnya kencang, tak memperdulikan para wartawan yang berteriak bahkan ada yang mengejarnya.
__ADS_1
Randi melajukan mobilnya tanpa arah, Ia mencari tempat sepi agar bisa menghubungi Silla asisten nya. Silla harus mempertanggung jawabkan semua ini.
Setelah dirasa aman, Randi menghentikan mobilnya. Ia mengambil ponselnya yang bergeletak di kursi samping.
Baru ingin menghubungi Silla, Panggilan lain masuk lebih dulu.
Mama calling...
Segera Randi mengeser tombol hijau untuk menjawab panggilan sang Mama.
"Randi kamu apa apaan? jadi dia pacar yang kamu maksud semalam? ya ampun Randi, memang nggak ada wanita lain sampai harus Keisya?"
"Kamu tau kan kalau Mama nya Keisya itu saingan bisnis Mama!" omel Mama dari telepon.
"Nggak gitu Ma, cuma salah paham aja." jelas Randi "Aku nggak pacaran sama Keisya."
"Bener kan? kamu nggak bohong?"
"Serius Ma, bukan Keisya yang Randi maksud semalem."
"Awas aja kamu sampai sama Keisya. Mama nggak akan setuju." kata Bianca lagi.
"Enggak Ma, serius."
"Ya sudah kamu selesaikan masalah kamu. kalau butuh bantuan bilang sama Mama." kata Bianca lalu mengakhiri panggilannya.
Randi menghela nafas kasar, segera Ia menelepon Silla dan beruntung nomer Silla sudah aktif.
"Lo dimana? kita harus ketemu!"
"Oke, gue kesana sekarang."
Randi mengakhiri panggilan dan kembali meletakan ponselnya di jok samping.
Ia harus segera menyelesaikan semua masalah ini agar bisa segera menemui Risha.
Ya Ia harus secepatnya menemui Risha sebelum Risha salah paham.
Randi mulai melajukan mobilnya menuju apartemen Silla.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen