DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
103


__ADS_3

Rania baru ingin memasuki rumahnya dan terkejut melihat Mamanya ada disana, sepertinya sedang menunggu kepulangan nya.


"Akhirnya kamu pulang juga." kata Mama sambil menatap ke arah Rania begitu senang namun Rania hanya mengacuhkan Mamanya. Rania masih ingat bagaimana malam kemarin Mama mendorongnya hingga Ia jatuh. Rasanya masih menyakitka untuknya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau calon mantu mama itu orang kaya?" tanya Mama membuat Rania langsung saja menatap tajam ke arah Mama nya.


"Kalau saja kamu dari awal bilang, Mama pasti akan merestuinya." kata Mama lagi.


"Mama jangan berpikir bisa menjadikan Revan atm Mama, Rania nggak akan ngebiarin itu." balas Rania dengan tatapan tajam.


Sementara Mama Rania malah tertawa, "Mau kamu setuju atau enggak, Mama nggak akan nyia nyiain kesempatan ini." kata Mama membuat Rania geram.


"Jangan gila ma!"


"Jadilah istri yang baik, layani suami kamu dengan baik dan pastikan semua hartanya suami kamu itu jadi milik kamu semua." bisik mama dan langsung pergi begitu saja membuat Rania ambruk dan menangis dilantai.


"Sampai kapan Mama akan seperti ini, Rania benar benar sudah lelah." ucap Rania sambil terisak.


"Nggak, gue nggak boleh lemah kayak gini." Rania bergegas bangun dan segera berlari menghampiri Mama nya yang masih didalam mobil.


"Keluar Ma." Rania mengetuk kaca pintu, melihat Mama didalam bersama pria muda.


Mama tersenyum ke arah Rania dan segera keluar dari mobil bersama pria mudanya, "Ada apa sayang? apa kau masih merindukan Mama mu ini?" tanya Mama sambil terkekeh sementara pria muda baru Mama terlihat menatap Rania lapar, benar benar pria brengsek!


"Rania beri Mama kafe Rania, terserah mau Mama jual atau mau Mama apakan. asal Mama jangan pernah ganggu Revan atau meminta apapun pada Revan." Kata Rania yang langsung saja membuat mata Mama berbinar senang berbeda dengan Kekasih Mama yang terlihat belum puas.


"Sayang sepertinya kafe saja tidak akan cukup." kata kekasih Mama membuat Mama ikutan mengangguk setuju. Padahal jika saja kafe itu dijual harganya sudah mencapai 1milyar karena memang kafe Rania sudah terkenal dan memiliki banyak pelanggan.


"Dasar pria brengsek!" Rania hendak menampar wajah pria muda itu namun seketika tangan Rania ditahan oleh sang Mama.

__ADS_1


"Jangan sekali kali kamu menyentuh wajah kekasih Mama dengan tangan kotormu itu." kata Mama membuat Rania menatap Mamanya tak percaya.


Sebenarnya apa yang ada dipikiran Mama nya itu hingga menyakiti anaknya seperti ini pikir Rania.


"Memang benar, kafe saja tidak cukup menguntungkan. lebih baik Mama meminta jatah bulanan saja sama Revan. pasti lebih menguntungkan." kata Mama membuat tangan Rania mengepal geram.


"Aku kasih semua yang Mama mau." kata Rania ,"Kafe, rumah, mobil dan semua harta Rania buat Mama tapi setelah itu Mama jangan pernah ganggu Rania sama Revan lagi." ucap Rania dan kali ini tak hanya Mamanya yang berbinar namun juga kekasih Mamanya.


"Nah begitu baru anak cantik Mama." kata Mama ingin mengelus rambut Rania namun segera Rania menghindar.


"Kita buat surat perjanjian diatas materai agar Mama nggak ingkar janji."


"Baiklah baiklah, terserah kamu saja." kata Mama sambil tertawa.


Rania hendak berbalik namun tangannya dicekal oleh kekasih Mamanya, seketika Rania menepis tangan pria itu.


"Lebih baik kamu segera membereskan semua barang barang kamu dan keluar dari sini. jangan lupa tinggalkan kunci mobilnya sayang." kata Mama membuat Rania melotot tak percaya.


Gila, mama nya benar benar sudah gila. Ini bahkan sudah sangat malam dan Rania sedang hamil. bisa bisanya sang Mama mengusirnya.


Dengan tatapan geram Rania segera membereskan barang barang nya, Rania segera menyeret kopernya dan keluar dari rumahnya sendiri.


Sebelum keluar Rania bahkan sempat melihat Mama dan kekasihnya berciuman diruang tamu miliknya, benar benar menjijikan.


....


Sementara setelah mandi, Revan bergabung dengan kedua orangtuanya untuk makan malam bersama.


Hening, tak ada yang mengawali berbicara sampai makan malam selesai.

__ADS_1


Dan saat Vano ingin bangkit dari duduknya, barulah Revan mengucap "Aku pengen ngomong sama Papa sama Mama."


Vano terlihat menghembuskan nafas berat, seolah tau apa yang ingin dibicarakan putranya itu.


"Revan mau menikahi Rania dan Revan mau minta restu Papa sama Mama."


"Tidak, Papa nggak ngrestui kamu sama wanita itu." Vano bangkit hendak pergi namun tangan nya masih ditahan oleh Riska.


"Duduk dulu mas." pinta Riska dengan wajah memohon.


"Papa mau merestui atau tidak, Revan akan tetap menikahi Rania." kata Revan membuat Vano menatap putranya tak percaya.


"Selama ini apa kurangnya Papa buat kamu? kamu pengen buka bengkel pun Papa turuti walaupun sebenarnya kamu tau Papa pengen kamu jadi dokter dan meneruskan klinik Papa."


"Dan sekarang kamu memaksa mau menikahi wanita itu tanpa restu kami? apa kamu benar benar sudah tak menganggap kami ini orangtuamu?" tanya Vano menatap ke arah Revan kecewa.


"Maafin Revan Pa, bukan maksud Revan begitu."


"Trus apa? hanya karena wanita kamu bahkan tidak mendengarkan kami."


"Pa, masalahnya..."


"Apa masalahnya?"


"Masalahnya Rania hamil anak Revan."


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2