DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
36


__ADS_3

Ander masih terpaku menatap ke arah Eliya, sementara Eliya menatap Ander dengan wajah cemberut karena ketidak pekaan Ander.


"Gue tidur dimana?" tanya Eliya dengan nada ketus membuat Ander sadar lalu memalingkan wajahnya.


"Tidur di sebelah gue lah." balas Ander acuh.


"Nggak mau!"


"Ya udah, Lo tidur aja di sofa sana."


"Nggak mau!"


"Trus mau Lo apa?" tanya Ander menatap Eliya kesal.


"Lo ngalah dong, tidur di sofa. biar gue tidur dikasur." kata Eliya berharap Ander benar benar mengerti dan mau mengalah untuknya.


Namun yang didapat, Ander malah terbahak meledeknya.


"Elo kalau nggak mau tidur disebelah gue nggak masalah, tidur sendiri sana di sofa."


"Lagian, tubuh krepes kayak leker aja sok sokan banget." ejek Ander yang langsung membuat Eliya melotot tak percaya.


Kali ini Eliya mengambil bantal dan kembali memukuli Ander.


Ander menarik paksa bantal yang dibawa Eliya membuat Eliya terhuyung jatuh namun kali ini jatuh diranjang.


Segera Ander mengunci tubuh Eliya dengan kedua tangannya, hingga wajah keduanya kembali dekat.


"Sekali lagi Lo pukul gue pakai bantal. gue cium Lo." ancam Ander membuat wajah Eliya kembali memanas.


"Kenapa Lo malah tersipu? pengen gue cium." ejek Ander membuat Eliya sadar dan langsung memberontak.


"Lepasin gue, dasar cowok mesum." bentak Eliya.


Bukan nya melepaskan, Ander malah terkekeh.


"Kenapa? Lo mau gue mesumin?" ejek Ander sekali lagi membuat wajah Eliya memucat.


"Oke oke, gue minta maaf. nggak akan gue pukul pakai bantal sama guling lagi." kata Eliya melawan egonya dan meminta maaf berharap Ander segera melepaskan dirinya.


"Minta maaf Lo nggak tulus! ulangi."


Ingin rasanya Eliya menendang milik Ander yang kini sudah menempel di pahanya, namun Ia tak mungkin sekasar itu.


"Maaf mas Ander, nggak akan lagi dipukul sama bantal guling." kata Eliya sedikit gugup. Entahlah memanggil suaminya sendiri dengan sebutan mas membuat dirinya sedikit gugup.


Namun kenyataannya, bukan hanya Eliya yang gugup. Ander pun ikut gugup dipanggil Mas oleh Eliya. Ander segera melepaskan kungkungan tangan nya dan meninggalkan Eliya memasuki kamar mandi.

__ADS_1


Dikamar mandi, berkali kali Ander menendang kan kakinya pada tembok kamar mandi.


"Sialan ... sialan ... ngapain gue harus segugup itu cuma dipanggil mas." omel Ander pada dirinya sendiri.


"Dan Lo juga, ngapain sih pake berdiri segala!" Ander menatap ke arah bawah dan melihat miliknya menjulang tinggi.


Karena kepanasan, Akhirnya Ander menuntaskan sendiri hasratnya. mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar pikirannya kembali waras.


"Sial banget sih hidup gue, malam pertama malah main sendiri pakai air dingin!" gerutu Ander.


Sementara Eliya dibuat heran,


"Apa dia mandi lagi? bukankah tadi dia sudah mandi?" batin Eliya saat mendengar suara gemericik air.


Eliya berbaring diranjang, tak lupa Ia memberikan dua guling di tengah tengah sebagai pembatas untuk keduanya, karena Eliya tak ingin berdekatan dengan pria mesum macam Ander.


Ander yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah terkejut melihat Eliya sudah berbaring memunggunginya di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut, membuat Ander menggeleng tak percaya. sebegitu takutnya Eliya padanya hingga Ia harus memasang pembatas ditengah ranjang.


Ander mengambil hair dryer lalu mengeringkan rambutnya sebelum akhirnya Ia ikut berbaring disamping Eliya.


"Lo udah tidur?" tanya Ander.


"Udah."


Jawaban Eliya tentu membuat Ander tersenyum, "Dasar cewek aneh, mana ada udah tidur bisa jawab orang tanya!"


Andee kembali tersenyum, "Kenapa harus pakai sekat guling kayak gini?"


"Biar Lo nggak mesumin gue!"


"Kenapa kalau gue mesumin Elo? Lo lupa kalau gue udah jadi suami Lo? gue ada hak dong mau ngapain aja." goda Ander.


Wajah Eliya kembali memanas, namun Eliya memilih pura pura tidur agar Ia tak harus menjawab pertanyaan Ander.


"Udah tidur beneran sekarang?" tanya Ander setelah cukup lama tak ada respon dari Eliya.


Eliya pura pura mengeluarkan suara ngoroknya agar Ander percaya jika dirinya memang benar sudah tidur.


"Ck, cantik sih tapi tidur kok ngorok." gumam Ander yang masih bisa didengar oleh Eliya.


"Dia bilang gue cantik?" batin Eliya lalu tersipu.


...


Paginya,


Eliya merasa ada beban yang sedang berada di tubuhnya membuat dirinya tak bisa mengerakan tubuhnya.

__ADS_1


Eliya mencoba membuka matanya, Ia melihat wajah pria tampan yang tepat berada disamping wajahnya bahkan hembusan nafas pria itu terasa di pipinya.


Eliya tersenyum menatap wajah pria tampan yang sedikit familiar.


"Apa aku berada di surga sekarang? kenapa tubuhku susah sekali bergerak dan siapa dia?" batin Eliya masih memandangi wajah tampan milik pria disampingnya itu.


Hingga kesadaran Eliya datang, barulah Eliya sadar siapa pria yang ada disampingnya itu, membuat Eliya seketika...


Aaaaaaa... teriak Eliya membuat Ander yang ada disebelahnya membuka matanya. Hanya membuka mata namun tak segera menyingkir.


"Kenapa kau berteriak?" tanya Ander masih mengantuk.


"Kau masih bisa bertanya kenapa? hey sadarlah! apa yang sedang kau lakukan ini?" tanya Eliya membuat Ander mengumpulkan kesadarannya dan terkejut,


Ia yang berbaring menyamping, dengan sebelah kaki nya yang menopang di bawah perut Eliya serta telapak tangan nya yang kini berada digunung kembar milik Eliya sebelah kiri membuat Ander buru buru melepaskan diri.


"Pantas saja rasanya kenyal." gumam Ander yang tengah mendapatkan pelototan tajam dari Eliya.


"Apa katamu tadi? dasar pria mesum! bisa bisanya kau melecehkan aku!" kesal Eliya memukuli Ander.


"Hey, aku tak sengaja! lagipula kita sama sama tidur, bagaimana bisa kau mengatakan itu!" balas Ander tak terima.


"Itu semua tak akan terjadi jika kau tidak melewati batas yang ku buat." kata Eliya masih dengan nada kesal.


Keduanya pun melihat, siapa yang sudah melewati batas dan akhirnya malah Eliya yang malu sendiri karena Eliya lah yang sudah melewati batas yang Ia buat sendiri.


"Ah jadi seperti itu? kau sendiri yang melewati garis, mendekati ku dan mengodaku agar aku menyentuhmu lalu kau yang menuduhku seolah olah aku ini menginginkanmu?" tanya Ander dengan nada mengejek membuat Eliya hanya bisa menunduk malu dan merutuki kebodohannya.


"Jadi sebenarnya yang mesum itu gue atau Elo?" tanya Ander lagi.


"Jelas jelas Elo yang megang payu-"


"Payu apa? kenapa nggak diterusin?" goda Ander kala Eliya tak melanjutkan ucapannya, namun lagi lagi Eliya kembali menunduk.


"Jangan salahin gue lah, kalau gue megang mengang Elo. kan Elo yang nempel duluan." kata Ander mengejek.


"Rasanya jadi pengen naik gunung trus belah duren." ucap Ander membuat Eliya melotot dan segera menutupi dadanya dengan kedua tangan nya.


Ander terkekeh, Entah mengapa mengoda Eliya menjadi menyenangkan seperti ini. Apalagi jika melihat wajah tomat Eliya membuat Ander semakin bersemangat mengoda istrinya itu.


Ander mendekatkan wajahnya ke wajah Eliya, semakin dekat hingga membuat Eliya memucat namun tak bisa berkutik, Eliya terlihat diam, pasrah dan tanpa perlawanan.


Namun Sialnya, justru Ander yang semakin tergoda dengan bibir merah muda milik Eliya itu. Baru ingin membuka bibirnya dan meraup bibir Eliya suara ketukan pintu mengejutkan keduanya.


"Ander, Eliya... apa yang terjadi didalam? kalian baik baik saja kan?" suara Ella terdengar beriringan dengan ketukan pintu.


Sial... hanya tinggal selangkah lagi batin Ander dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


__ADS_2