DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
85


__ADS_3

Rania menatap kepergian mobil Revan, sama sekali tak ada tangis, kekecewaan ataupun kesedihan. Yang Ia rasakan saat ini hanyalah kelegaan karena dirinya telah mengatakan semuanya pada Revan. Meski sebenarnya Ia tak tega melihat sorot raut wajah Revan yang terlihat sangat kecewa namun Rania juga tak ingin membohongi dirinya dan perasaan nya sendiri jika dirinya belum bisa menyukai Revan. Meskipun Rania juga tau selama ini, dibalik sifat menyebalkan Revan ada banyak perhatian didalamnya yang diberikan Revan untuknya namun sekali lagi, Rania benar benar tak bisa. masih ada seseorang yang tinggal dihatinya dan sepertinya enggan pergi. Seseorang yang tak lain adalah Ander.


Sementara Revan melajukan mobil nya sangat kencang, Ia tak bisa mengontrol dirinya saat ini. Rasa kecewa dan amarah benar benar sedang menutup pikiran Revan.


Rania... wanita yang teramat Ia sukai sejak dulu, sejak masih sekolah bahkan sejak pertama kali mereka bertemu dikafe, saat itu Revan yang tak bisa membayar makanan karena dompetnya tertinggal dan menerima hukuman dari Rania yang saat itu masih bekerja parttime dikafe. mereka dipertemukan lagi saat Revan mendapatkan hukuman tinggal dikampung terpencil dan sejak saat itu mereka berteman meskipun lebih sering bertengkar saat bertemu.


Dan kebahagiaan Revan saat dirinya menjadi orang pertama yang menyentuh Rania bahkan memiliki Rania seutuhnya namun sayang nya kini kebahagiaan Revan harus Ia pupus karena pada kenyataannya Rania tidak bisa memberikan hatinya untuk Revan.


Ya Rania tidak bisa mencintai Revan, cinta Rania hanya untuk Ander seorang.


Miris, memang benar benar miris sekali.


Revan menambahkan kecepatan mobilnya hingga tanpa Ia sadari ada seseorang yang akan menyebrang membuat Revan membalikan stir mobilnya dan....


Brukk....


Darah segar mengalir dari kepala Revan.


Terdengar suara seorang wanita berteriak meminta tolong dari luar namun setelahnya Revan sudah tak bisa mendengarkan apapun.


Revan tak sadarkan diri.


....


Tengah malam saat Ander sudah terlelap, harus memaksakan diri untuk bangun karena mendengar suara dering ponselnya di nakas.


Dengan malas, Ander mengambil ponselnya dan sedikit heran melihat Randi memanggilnya di jam tidur seperti ini.


"Siapa mas?" tanya Eliya yang juga ikut bangun.


"Randi," Ander masih enggan mengangkat telepon nya, Ia malah kembali meletakan ponsel di nakas namun suara peringatan dari Eliya membuatnya kembali mengambil ponselnya.


"Angkat mas, siapa tau penting."


Segera Ander menggeser tombol warna hijau,


"Kenapa?" tanya Ander dengan mata setengah terpejam namun sedetik kemudian saat Randi sudah mengatakan sesuatu mata Ander langsung saja melebar dan Ia langsung bangun membuat Eliya terkejut.


"Oke, gue kesana sekarang." kata Ander langsung mematikan panggilannya.


"Kenapa mas? ada apa?" tanya Eliya khawatir.


Ander belum menjawab Eliya karena sudah lebih dulu memasuki kamar mandi untuk mencuci muka.

__ADS_1


Dan setelah keluar, Eliya masih terlihat menunggu jawabannya.


"Revan kecelakaaan, aku harus kesana sekarang."


"Apa nggak apa apa kalau aku tinggal sebentar?" tanya Ander sambil menganti piyamanya dengan kaos polos lengan panjang.


"Aku ikut ya?" Eliya ikut beranjak dari ranjang.


"Sayang please, nggak usah. ini udah tengah malem. aku takut malah kamu yang kenapa napa." pinta Ander memohon.


"Aku nggak apa apa," Eliya memanyunkan bibirnya, Ia benar benar ingin ikut.


"Tapi ini udah malem sayang, nggak baik bumil keluar tenga-."


"Pokoknya aku ikut!" Eliya langsung saja bergegas memasuki kamar mandi untuk mencuci muka sebelum berganti baju.


Ander hanya bisa menghela nafas melihat Eliya yang ngeyel ingin ikut.


Setelah bersiap, keduanya pun turun dan segera memasuki mobil. Ander melajukan mobilnya pelan menuju rumah klinik milik Om Vano papah Revan.


"Kenapa?" tanya Ander saat tak sengaja melihat Eliya yang kurang nyaman dengan pakaian nya.


"Masih nanya kenapa?" Eliya menatap Ander kesal lalu Ia memperlihatkan dua jaket yang Ia pakai.


Ander tersenyum geli mengingat dirinya lah orang yang membuat Eliya berpenampilan seperti itu. Ander hanya tak ingin Eliya kena angin malam yang berakibat buruk dengan janin yang dikandung Eliya.


"Lagian siapa suruh ikut aku."


"Tapi nggak gini juga kali, nggak akan kedinginan meski cuma pakai satu jaket mas."


"Pokoknya kalau ikut ya harus nurut, kalau nggak aku puter balik nih nggak usah ikut aja." ancam Ander dengan nada bercanda.


"Iya iya," balas Eliya kesal karena Ia benar benar tak nyaman dengan pakaian nya.


Sesampainya didepan klinik, Ander segera mengandeng Eliya. mereka berjalan cepat memasuki klinik yang terlihat sudah sepi itu.


Hingga keduanya melihat Randi yang duduk dikursi panjang sendirian.


"Gimana Revan?" tanya Ander dengan raut wajah khawatir.


"Gue juga belum tau, om Vano belum keluar dari IGD."


"Gimana bisa kejadian kayak gini sih?" heran Ander mengingat Revan selama ini belum pernah mengalami kecelakaan seperti ini.

__ADS_1


"Gue juga belum tau, tadi gue ditelepon sama om Vano suruh kesini dan sampai di sini baru dikabarin kalau Revan kecelakaaan, kaget banget gue makanya gue hubungin Elo."


"Om Vano takut ganggu kalau hubungin Elo, secara Elo kan udah ada bini, lagi hamil lagi." jelas Randi sambil sesekali melirik ke arah Eliya yang berada disamping Ander.


"Thanks udah hubungin gue, bakal marah Gue kalau nggak dikasih tau. mau gimanapun dulu kita selalu sama sama." balas Ander menepuk bahu Randi.


Ander mengajak Eliya duduk disamping Randi,


"Mau aku beliin minuman?" tanya Ander pada Eliya.


Eliya hanya menggelengkan kepalanya pelan,


"Gue mau dong dibeliin." cibir Randi disamping Ander.


"Lo aja sana yang beli, gue nitip. kasian nih bini gue lagi hamil nggak bisa ditinggal kemana mana." kata Ander yang membuat Randi terkekeh dan langsung kesal.


"Sialan, gue nggak bisa nolak." Randi berdiri dan segera berjalan keluar untuk mencari minuman.


Eliya mencubit pinggang Ander kala Randi sudah tak terlihat, "Aduh, sakit sayang."


"Kamu tuh aneh aneh aja deh mas, orang lagi khawatir juga malah disuruh beli minum."


"Ck, aku tadi nggak maksa lho, dia nya yang mau sayang." balas Ander santai membuat Eliya kembali mencubit Ander.


"Adohh.. sakit sayang!"


"Baby nya yang mau nyubit sayang." Eliya menirukan suara Ander membuat Ander gemas dan ingin mencium pipi Eliya.


Namun belum sempat Ander mendaratkan bibirnya di pipi Eliya,


Ekhemm...


Suara deheman dari Randi membuat Ander mengurungkan niatnya.


"Disamping klinik ada hotel kalau udah nggak tahan." cibir Randi membuat Ander terkekeh sementara Eliya menunduk malu.


"Thanks brother." kata Ander kala Randi mengulurkan dua botol air mineral dan seplastik camilan.


Mereka menunggu hingga 1 jam lamanya sambil sesekali berbincang hingga pintu IGD sudah terbuka membuat Ander dan Randi segera bangkit menghampiri Om Vano yang keluar dengan langkah lemas.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2