
Randi masih menatap ke arah Revan tak percaya. benar benar masih tak mempercayai ucapan Revan.
"Nikah sama Rania? masih waras nggak sih Lo?"
Revan terlihat membersihkan wajahnya dengan tisu karena semprotan air yang baru saja dimuncratkan oleh Randi.
"Lo bilang mau move on, kenapa tiba tiba mau nikah?"
"Gila, mulut Lo bau banget. nggak gosok gigi nih pasti." kata Revan usai membersihkan wajahnya.
"Nggak usah ngalihin omongan gue Lo! sekarang lo jelasin semua ke gue."
"Rania hamil."
Randi langsung saja tertawa, "Dan Lo diminta tanggung jawab gitu? Lo mau aja?"
Revan menghela nafas panjang, "Itu anak gue Ran."
"Lo udah pernah ngelakuin sama Rania?" Randi menatap Revan tak percaya.
"Gue yang pertama, udah 2x juga. dan gue yakin itu anak gue." jelas Revan yang lagi lagi hanya bisa membuat Randi melonggo tak percaya.
"Bisa aja kan dia nglakuin sama cowok la-"
"Dia bukan jalang Ran, dan gue percaya sama dia." geram Revan menatap Randi.
"Lo lupa, dia cinta sama Ander bahkan dia-"
"Gue cinta sama dia, nggak peduli siapa yang dia cintai. yang jelas dia udah hamil anak gue dan gue bakal tanggung jawab." jelas Revan terlihat mantap sementara Randi nampak menggeleng tak percaya seolah ragu jika Rania hamil anak Revan.
"Serah Lo dah, gue nggak bisa ngomong apa apa lagi buat nyadari Lu. jadi semua ditangan Lo, gue ngikut aja. Apapun yang jadi keputusan Lo gue pasti dukung." kata Randi akhirnya memilih duduk disofa sambil memainkan ponselnya karena tak ingin memperpanjang perdebatan.
Sementara Revan hanya diam, menatap kosong . benar benar tak menyangka hanya ingin bersama Rania saja rasanya sesulit ini. banyak orang yang tak menyetujui, namun Revan berharap kedua orangtuanya akan setuju nantinya.
Risha memasuki ruangan untuk mengganti infus, melihat dua orang yang sama sama diam dan duduk berjauhan dengan wajah sama sama kesal membuat Risha heran. Biasanya jika Ia masuk akan mendengar canda tawa dan celotehan kedua orang ini namun berbeda sekali dengan malam ini.
Terasa tatapan keduanya dingin menusuk saat Risha memasuki ruangan Revan.
"Sa-ya mau ganti infus nya." kata Risha malah gugup sendiri kala Ia mendapat tatapan tajam dari dua saudara ini.
Randi mengangguk, "Masuk aja."
__ADS_1
Sementara Revan hanya diam seperti tak mengubris ucapan Risha.
Selesai mengganti infus Risha pamit keluar, tak disangka Randi mengikutinya dari belakang.
"Kenapa?" tanya Risha saat Randi semakin mendekat.
"Apa kamu tidak takut berjalan sendirian? disini gelap." kata Randi membuat Risha tersenyum geli. Risha bahkan sudah terbiasa sepeerti ini.
"Enggak, kamu takut?"
"Enggaklah, mana mungkin aku takut. aku itu ya cowok pemberani diantara Revan sama Ander." kata Randi dengan sombongnya.
"Gitu ya. ya udah cuma mau bilang aja disebelah kamar rawat mas Revan itu kan ada ruangan kosong, biasanya kalau tengah malam ada cewek nyanyi. katanya sih yang dulu meninggal disitu." seketika Randi pucat mendengar ucapan Risha.
"Trus dipojok situ biasa ada yang berdiri lama bawa pentungan."
"Eh nggak usah nakut nakutin dong." kata Randi semakin mendekat namun Risha malah berjalan mundur.
"Kok tau sih mas, katanya nggak takut." ejek Risha seperti ingin menertawakan Randi.
"Tuh lihat udah ada yang berdiri disana."
Randi pun langsung saja bersembunyi dibelakang tubuh Risha tanpa menyentuh Risha dan mendengar kekehan Risha.
Astaga, Randi tak menyangka gadis seimut dan semenggemaskan Risha bisa mengerjainya seperti ini.
"Seneng banget ya udah ngibulin aku." kata Randi pura pura kesal.
"Katanya nggak takut mas." ejek Risha lalu kembali berjalan meninggalkan Randi.
"Nggak takut lah kalau nggak ada. kalau ada ya takut." Randi tertawa membuat Risha ikut tertawa.
"Kamu di sini sendirian?" tanya Randi kala Risha sudah sampai di mejanya.
"Nggak, banyak temen nya mah disini." balas Risha yang lagi lagi membuat Randi bergindik.
"Mana? sepi gini."
Risha mulai menatapi sekeliling ruangan dan sesekali tersenyum membuat Randi semakin takut.
"Lagi pada tidur mas." kata Risha kembali menata kertas kertas yang ada dimeja.
__ADS_1
"Cantik cantik demen banget dah nakutin orang." gerutu Randi yang membuat Risha tertawa lagi.
"Aku nggak nakutin, memang mas aja kan yang penakut." kata Risha memanggil Randi Mas membuat Randi terlihat senang.
Randi mengambil satu kursi dan dibawa mendekati meja Risha. Randi duduk disana membuat Risha menatap heran ke arah Randi.
"Ngapain mas di sini?"
"Nemenin kamu."
"Nggak usah, mendingan mas balik ke ruangan Mas Revan aja. kasian nanti kalau mas Revan butuh apa apa gimana?"
"Nggak ah males, mendingan di sini enak ngeliatin bidadari lagi kerja." ucap Randi membuat Risha tersipu malu.
Risha diam, kembali fokus pada pekerjaan nya. Namun lama lama semakin tak nyaman apalagi saat Ia menatap Randi, ternyata Randi sedang menatapnya membuat mereka beradu pandang.
"Mas balik keruangan mas Revan aja, kasian mas Revan nya."
"Nggak apa apa, lagian dia udah nggak bedrest kan? bisalah ngapa ngapain sendiri."
"Tapi tetep aja mas, kan..."
"Kamu kalau lagi bawel gini tambah cantik tau nggak."
Blush... seketika merona wajah Risha mendengar gombalan Randi.
Risha pun bangkit dan berjalan pergi disusul Randi, "Lho mau kemana?"
"Keruangan mas Revan, kalau mas nggak mau nemenin biar aku yang nemenin disana."
"Ck, iya iya biar aku aja! kamu lanjutin pekerjaan kamu aja."
Risha tersenyum senang karena akhirnya Randi mau menuruti ucapnya. lagipula siapa juga yang tak gugup jika bekerja ditemani oleh pria tampan yang berprofesi sebagai artis pula.
Sementara Randi berjalan cepat menuju kamar Revan, mengingat cerita cerita horor Risha siapa pula yang tak akan takut.
Namun kening Randi mengkerut kala melihat disamping kamar Revan tak ada kamar lagi atau ruangan seperti yang diceritakan Risha tadi.
Randi langsung saja terkekeh merasa dikerjai oleh seseorang yang membuatnya merasa tertarik itu.
"Emang minta dicubit pipinya."
__ADS_1
Bersambung....
janga lupa like vote dan komen yaaaa