
Risha kembali ke kota, Ia pergi ke klinik untuk mengurus cuti sekaligus mengundang teman teman nya.
"Ya Ampun Sa, nggak nyangka aku, kamu jadi sama Doi." ucap Nindi terlihat senang.
"Aku udah ngira sih kalau Randi emang beneran sayang sama kamu. buktinya dia langsung ngajak nikah." kata Nindi lagi membuat Risha tersipu malu.
"Beruntung banget sih Lo sa, dapet calon artis." kata Rere.
"Doain aja ya temen temen, jangan lupa juga datang kerumah." kata Risha.
"Siap, ya udah sana kamu mendiangan keruangan pak Bos dulu."
"Minta cuti sebulan aja paling dikasih, secara kan kamu calon keponakannya." celetuk Nindi membuat Risha tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Selesai berbincang dengan temannya, Risha segera menuju ruangan Vano dimana Vano sedang duduk di kursinya sambil menatap layar tab.
"Dokter..." sapa Risha terdengar gugup karena ini untuk pertama kalinya Risha meminta ijin selama dirinya bekerja di klinik.
"Eh Risha... ngapain? kok nggak kerja?" tanya Vano melihat baju yang dipakai Risha bukan seragam klinik.
"Dok, saya kesini kan mau mengajukan cu-"
"Kamu mau cuti lagi?" tanya Vano membuat Risha terheran heran. Bukankah Vano tau jika Risha akan segera menikah dengan Randi dan kenapa sekarang Vano seolah tak mengetahui apapun. lupa atau hilang ingatan kah?
"Dok saya kan sebentar lagi akan menik-"
"Risha kamu kan kemarin sudah cuti, kenapa sekarang mau cuti lagi?"
Risha terlihat menghela nafas panjang, sedari tadi Ia bicara selalu saja dipotong oleh Vano.
"Tidak, kamu tidak boleh cuti." kata Vano membuat mata Risha membulat tak percaya.
"Ta-tapi Dok..."
"Sudah lebih baik kamu bekerja sana."
"Dok, tapi saya..."
"Atau kamu saya pecat."
Semakin pucat wajah Risha membuat Vano menahan tawa. Dengan anggukan lemah, Risha balik badan hendak meninggalkan ruangan Vano.
"Mau kemana kamu Risha?" tanya Vano sambil terkekeh.
"Bukan nya Dokter meminta saya bekerja?" Balas Risha terdengar kesal.
Vano kembali terkekeh, "Memang kamu tidak jadi menikah?" kata Vano yang membuat Risha tersadar jika dirinya baru saja dikerjai oleh Vano.
__ADS_1
"Harusnya kamu menikah dengan Revan, malah jadinya menikah dengan Randi." gerutu Vano membuat Risha tak bisa menahan senyum.
"Kan mas Revan lebih milih mbak Rania dok dari pada saya." balas Risha sambil tersenyum.
"Ck, kamu menikah dengan saya saja kalau begitu." goda Vano.
"Saya minta izin sama Bu Riska dulu kalau begitu."
"Ck, nggak kamu, nggak Randi selalu ngadu sama istri saya." gerutu Vano membuat Risha terkekeh.
Ya karena semua orang tahu jika kelemahan Vano adalah istrinya.
Seminggu kemudian....
"Saya terima nikah dan kawin nya Risha Astrianti binti Slamet Wahidin dengan mas kawin 1000 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah..."
"Sah..."
"Alhamdulilah."
Dengan tangan gemetar Risha mengambil tangan Randi lalu menciumnya dan saat Randi ingin mengecup kening Risha tiba tiba...
Uhukkk...
Uhukk...
Suara orang batuk yang sangat keras terdengar membuat semua orang terkejut tak terkecuali Randi yang mengurungkan niatnya untuk mencium kening Risha.
"Sorry, nggak tau kenapa tiba tiba mau batuk." ucap seseorang yang tak lain adalah Vano.
Alex dan Rangga terlihat menggelengkan kepalanya, sementara Ella dan Bianca terkekeh geli karena tahu jika Vano hanya bersandiwara dan Riska mencubit gemas suaminya karena membuatnya malu.
"Ya sudah, kita langsung keluar saja. Tamu sudah pada menunggu." ucap Vano tanpa dosa langsung saja melenggang keluar.
"Iya benar, ayo pengantin nya dibawa keluar." kata Slamet ikut berdiri membuat semua orang juga berdiri dan Randi menatap orang orang kesal karena tak ada yang memberi kesempatan untuk sekedar mencium kening Risha.
"Sabar, ntar malem langsung gass poll." bisik Ander ditelinga Randi.
"Sialan." gerutu Randi.
"Kamu ngomong apa mas?" Risha menatap curiga ke arah Randi.
"Eh, egh enggak apa apa kok."
__ADS_1
Keduanya pun keluar untuk menyambut tamu yang sudah berdatangan.
Pukul 8 malam acara resepsi sudah selesai, semua tamu dan keluarga terdekat juga sudah pulang kerumah masing masing.
Alex sekeluarga serta Vano sekeluarga juga sudah pergi meninggalkan kampung halaman Risha, tak tertinggal Rangga dan Bianca yang kini ikut pulang karena masih harus menyiapkan acara dikota karena 3 hari lagi Risha diboyong ke kota.
Randi yang baru saja selesai mandi dan giliran Risha yang mandi karena hanya ada satu kamar mandi dan itu pun berada didekat kandang sapi. melihat sapi sapi milik Ayah Risha mengingatkan Randi pada masa remajanya saat mendapatkan hukuman dari Keluarganya, dikirim ke kampung terpencil dan menjadi peternak sapi untuk menyambung hidup. terlihat sepele namun menjadi pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan untuk Randi.
Puas memandangi sapi dikandang, Randi pun segera memasuki kamar Risha. kamar yang sempit namun terlihat rapi. Kamar yang seukuran dengan kamar mbok Jum itu bertempel banyak hiasan hello kitty bahkan diranjang Risha juga banyak boneka hello kitty dari yang kecil sampai besar membuat Randi tersenyum mrngingat Risha yang cantik dan kalem memang cocok menyukai hello kitty.
"Aduh mas, maaf aku lupa beresin boneka boneka ku." kata Risha menghambur masuk langsung memindahkan boneka ke dalam keranjang kosong yang sepertinya memang sudah di siapkan.
"Nggak masalah sayang, nggak perlu diberesi juga."
Mendengar kata sayang membuat jantung Risha berdesir.
"Ehg, nggak apa apa." Risha terus melanjutkan memindahkan boneka yang akhirnya Randi pun membantu.
Setelah boneka masuk ke dalam keranjang, Randi mengangkat keranjang itu dan menaruhnya dipinggir setelah itu Randi bergegas mengunci pintu.
Randi berbalik dan melihat Risha yang mengenakan setelah piyama panjang juga jilbab instan nya masih saja sibuk memberesi sesuatu.
Randi duduk dipinggir ranjang, menunggu Risha selesai namun tak sabar akhirnya Ia menarik lengan Risha hingga membuat Risha jatuh ke pangkuan nya.
"Em, Ma-mas." suara Risha terdengar gugup.
Randi memandangi wajah cantik Risha yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. wajah yang kini berubah merah merona karena Randi terus menatap Risha.
Tangan Randi terangkat untuk melepaskan jilbab Risha secara perlahan.
Randi tersenyum, melihat wajah cantik Risha tanpa jilbab yang hanya dirinya saja yang bisa melihat. Rambut lurus hitam panjang yang wangi dan juga halus, sangat indah begitu indah sampai Randi terus mengelus rambut panjang Risha yang kini sudah terlepas kuncirnya.
"Cantik." gumam Randi lanjut mengelus pipi Risha yang kini kembali merah merona.
Suasana menjadi tegang, jantung Risha serasa ingin copot karena berdetak sedari tadi sementara Randi semakin kepanasan.
Randi menarik dagu Risha, membuatnya lebih dekat hingga bibir keduanya menempel.
Namun saat ingin mencium Risha....
Keduanya dikejutkan oleh ponsel Risha yang berdering dimeja.
"Arghhh, sial."
BERSAMBUNG.
jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1