DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
66


__ADS_3

Seorang pria berjalan mendekati sebuah sedan hitam lalu memasukinya, dimana sudah ada pria lain yang menunggunya didalam mobil.


"Bagaimana?"


"Beres bos!" ucap pria itu sambil mengacungkan jempolnya.


Pria didepan nya yang tak lain adalah Sandi tersenyum puas, Ia lantas mengeluarkan sebuah amplop pada pria itu membuat pria itu menerima amplop dengan raut wajah senang.


"Makasih bos, besok kalau ada kerjaan lagi Calling aja." kata pria itu sebelum keluar dari mobil Sandi.


Sandi hanya mengangguk,


Setelah pria itu keluar, Sandi tersenyum senang. Rencana pertama berhasil lalu Ia melanjutkan rencana kedua.


....


Revan baru saja selesai menutup bengkelnya, Ia ingin segera pulang karena seharian ini Ia sedikit kewalahan dan kelelahan dengan banyaknya orang yang datang.


Revan sudah berada didalam mobil, mendengar ponselnya berbunyi Ia lantas mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.


085777xxxxxx


"Nomor siapa ini?" gumam Revan menolak panggilan karena Ia merasa tak mengenal nomer itu.


Baru ingin menyalakan mobilnya, ponsel Revan kembali berdering dan nomor yang sama yang kembali menelepon nya.


Karena penasaran, Akhirnya Revan menjawab panggilan dari nomer tak dikenal itu.


"Siapa?"


"Aku karyawan kafe."


"Karyawan kafe? maksudnya?" Revan terlihat bingung dengan maksud si penelepon.


"Pergilah ke kafe. Rania membutuhkan mu."


Mendengar nama Rania, barulah Ander paham jika yang menelepon karyawan kafe milik Rania.


"Memang ada apa?"


klik... panggilan dimatikan sebelum menjawab pertanyaan Revan.


"Ck, dasar sialan!"


Karena penasaran dengan apa yang terjadi akhirnya Revan memutuskan untuk pergi ke kafe Rania. meskipun Revan masih belum tau siapa yang menelepon nya dan bagaimana bisa karyawan Rania mendapatkan nomer ponselnya padahal Rania saja tak mempunyai nomernya.


Benar benar aneh, namun demi rasa penasaran nya Ia tetap akan pergi ke kafe.


...

__ADS_1


Rania yang tertidur di ruangan nya setelah puas menangis, terkejut kala mendengar suara ketukan yang keras dari luar kafe.


Dan saat Rania keluar tak ada seorang pun disana namun mata Rania melihat sebuah box yang ada didepan pintu.


Meski sedikit takut, Rania lantas mengambil box itu dan membawanya ke dalam.


"Ada suratnya," gumam Rania mengambil selembar note yang ada diatas box.


"Semoga bisa menghiburmu boss."


Rania tersenyum, ternyata dari karyawan kafe.


Rania membuka dan terkejut ternyata isinya adalah sebotol minuman beralkohol.


Rania mengambil botol minuman dengan merek yang cukup terkenal. Ia tersenyum menatap ke arah botol itu.


Sudah lama sekali... batin Rania.


Rania tak menampik, Ia dulu memang sering minum jika sedang dilanda stress berat. Namun Rania bisa memastikan jika Ia hanya minum tidak melakukan hal lain yang bisa merusak masa depan nya.


Mengingat dulu Ia berasal dari keluarga broken home yang kurang kasih sayang membuat Rania sering mengonsumsi minuman haram itu.


"Sepertinya memang aku membutuhkan ini malam ini." gumam Rania.


Rania berjalan ke dapur untuk mengambil gelas serta es batu.


Rania duduk disalah satu kursi, lalu mulai menuangkan isi botol itu hingga memenuhi gelasnya.


"Sangat nikmat." oceh Rania kembali menuangkan isi botol ke dalam gelasnya dan kembali meminumnya.


Sementara diluar, Revan baru saja keluar dari mobil. melihat mobil Rania masih berada disana membuat Revan tau jika Rania masih berada didalam.


Tanpa Revan sadari ada sepasang mata yang mengawasi dirinya dari luar dan tersenyum puas ke arahnya.


Tak menunggu lama, Revan segera memasuki kafe yang sebagian ruangan sudah gelap.


Baru memasuki selangkah ke dalam pintu, Revan mendengar musik dj yang berasal dari dalam. Revan segera mencari sumber musik yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan terkejut melihat Rania berdiri disana dengan gelas ditangan nya serta Rania yang asyik mengoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik dj yang berasal dari ponsel Rania.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Revan melihat ada sebotol minuman keras di meja.


Rania yang terkejut mendengar suara seseorang pun menoleh ke belakang. kepalanya yang sudah merasa pusing sedikit kesulitan melihat siapa yang datang. Yang Rania lihat adalah seorang pria tampan yang menatapnya dengan tatapan khawatir.


Khawatir? sejak kapan ada yang mengkhawatirkan dirinya, Rania menertawakan dirinya sendiri.


"Lo gila ya? ngapain sih kayak gini?" teriak Revan segera mematikan musik di ponsel Rania lalu mengambil gelas yang ada di tangan Rania.


"Ck, sini minuman nya, gue masih mau minum." protes Rania yang tak terima gelasnya diambil oleh Revan.


"Gue anter pulang." ajak Revan mengambil barang barang Rania lalu memasukan ke dalam tas milik Rania.

__ADS_1


"Gue nggak mau pulang, siapa sih Lo ngantur ngatur gue!" balas Rania sengit.


"Gue emang bukan siapa siapa Lo, tapi gue nggak bisa lihat Lo kayak gini."


Deg... ucapan Revan sontak membuat Rania menatap ke arah Revan.


"Udah buruan, ampun dah cewek kok suka mabok!" keluh Revan mulai menyampirkan lengan Rania ke lehernya agar Ia bisa memapah Rania berjalan keluar kafe.


Setelah membawa masuk Rania ke dalam mobilnya tanpa perlawanan, Revan kembali untuk mengunci kafe sebelum akhirnya Ia memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan kafe.


Kali ini Rania hanya diam, Tidak sebawel dan secerewet biasanya, "Manis juga lo kalau lagi mabok gini." kekeh Revan sesaat setelah menatap ke arah Rania yang juga menatapnya.


Baru setengah perjalanan, Revan melihat ke arah Rania yang sedari tadi bergerak seolah ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman.


"Kenapa Lo?" tanya Revan memelankan laju mobilnya.


"Pa-panas..." keluh Rania membuat Revan menghentikan mobilnya.


Revan mengambil sebotol air putih yang masih tersegel, setelah membuka tutupnya, Revan memberikan pada Rania.


Rania hanya meminum satu tegukan selebihnya Ia gunakan untuk menyiram kaosnya membuat Revan terkejut.


"Woi Lo gila ya?" teriak Revan histeris melihat kaos putih milik Rania basah hingga membuat Revan bisa melihat bra hitam yang menerawang.


"Gue bilang pa-nas... gue butuh air."


"Tapi nggak gini juga." Revan ingin mengambil botol dari tangan Rania, tanpa sengaja kulit mereka bersentuhan membuat Rania merasakan sesuatu yang berbeda.


Rania mulai mendekat ke arah Revan, Ia memajukan wajahnya hingga wajah keduanya sangat dekat.


Lalu.... Cup.


Bibir Rania dan Revan menyatu.


Sadar dan tak ingin melakukan lebih, Revan melepaskan ciuman Rania.


"Gue butuh Lo." ucap Rania dengan mata yang di penuhi hasrat.


"Sial... Lo yang mulai duluan." Revan segera melajukan mobilnya menuju hotel terdekat.


Selesai memesan kamar, Mereka memasuki kamar. Baru selangkah memasuki kamar Rania sudah merangkul Revan dan kembali menciumnya.


Revan hanya pasrah, Ia tentu tak menolak rejeki malam ini.


Namun sebelum itu Revan mengajak Rania ke kamar mandi dan disana Revan menguyur tubuh Rania berharap Rania sadar dan tak mengajaknya melakukan dosa ternikmat.


Bukan nya menunggu Rania sadar, Revan malah tergoda dengan lekuk tubuh Rania yang kini terlihat karena kaos Rania basah. Apalagi saat Rania dengan santainya melucuti pakaiannya hingga tersisa bra dan ****** *****, pria mana yang tahan.


Tak menunggu lama, Revan segera menyerang Rania. Persetan dengan masa depan, Ia pasti akan mempertanggung jawabkan semuanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...


__ADS_2