
Revan merasakan pusing dikepalanya, semuanya terasa gelap hingga Ia membuka kedua matanya dan langsung terkejut melihat 3 orang pria dan seorang wanita menatapnya bersamaan.
"Udah sadar dia om." Revan kenal sekali, itu suara Ander dan Revan membuka matanya lebar lebar barulah tau jika yang menatapnya itu Ander, Randi, Ugly dan juga Papa nya.
"Pada ngapain sih?" Ia merasakan suaranya serak dan tenggorokannya kering serta kepaa yang berdenyut pusing tak kunjung reda.
Saat Revan ingin bergerak entah mengapa rasanya begitu berat hingga Revan nenyadari ternyata ada selang infus yang menempel serta Ia yang berbaring di ranjang klinik milik sang Papa.
"Aku kenapa Pa?" tanya Revan masih bingung belum mengingat kejadian apa yang Ia alami.
"Kenapa coba hayoo tebak?" celetuk Vano sang Papa yang langsung saja membuat Ander, Randi dan Eliya tertawa bersama karena jawaban konyol Vano.
Mereka tak menyangka saja, Vano bisa mengatakaan candaan pada Revan padahal saat keluar dari ruang IGD tadi wajah Vano sangat pucat.
Revan mencoba mengingat apa yang terjadi tadi, Ia baru pulang dari kafe Rania dan melajukan mobilnya kencang lalu...
Ahh Revan ingat, Ia akan menabrak seseorang yang sedang menyebrang dan membanting setirnya kekanan membuat Revan menabrak entah apalah Revan juga tak tau.
"Udah ingat?" tanya Vano menatap ke arah Revan.
Revan mengangguk pelan,
"Nggak nyangka kan masih bisa hidup?" tanya Vano lagi yang membuat Revan menelan ludahnya.
Selama ini Vano memang tak pernah sekalipun marah pada Revan meski terkadang Revan melakukan banyak kesalahan namun entah mengapa malam ini aura Vano sedikit menyeramkan di mata Revan. Apalagi tatapan Papa nya yang sedikit acuh membuat Revan merasa bersalah sudah bertindak ceroboh hingga hampir saja menghilangkan nyawanya.
"Maaf Pa..." kata Revan lirih.
"Kenapa minta maaf sama papa, harusnya kamu minta maaf sama pohon yang kamu tabrak. dia pasti kesakitan saat ini dan nggak akan bisa gerak lagi."
Ander dan Randi yang ikut mendengarkan amarah Vano hanya bisa menatap Vano sambil melongo dan ingin tertawa. Mendengar celetukan Vano yang sangat menggelikan ditelinga mereka.
"Om, pohon kan emang nggak bisa gerak. kalau gerak gerak nanti pada takut." kata Randi menimpali ucapan Vano yang mengelikan.
"Kalau nggak gerak ke atas, gimana pohon bisa tumbuh sebesar itu? kamu ini mau ikut ikutan ngelawan Om?" hardik Vano pada Randi membuat Ander terkekeh.
Revan membuat gerakan mengunci bibirnya, "Ampun Om, aku diem bae lah."
Vano kembali menatap Revan yang masih menatap arah lain, tak berani menatapnya.
__ADS_1
"Sekarang Papa cuma mau nanya, kenapa kamu naik mobil ngebut ngebut? pasti ada alasan nya dan Papa cuma pengen tau alasan nya apa?"
Glek... Revan menelan ludahnya. Ia tak mungkin menceritakan sejujurnya pada Papa jika baru saja Ia ditolak oleh seorang wanita apalagi masih ada Ander dan Randi. mereka pasti akan menertawakan nya saat ini juga.
Ahh sial sekali, kenapa pula Ia harus seceroboh ini hanya karena Rania batin Revan kesal dengan dirinya sendiri.
"Papa nggak akan berhenti nanya sebelum kamu jawab dengan jujur!"
"Egh, anu Pa... tadi Revan cuma iseng aja." kata Revan namun Vano menatap Revan tak percaya.
"Revan abis ngotak atik mobilnya, trus nyoba seberapa kenceng mobil nya bisa jalan dan akhirnya kejadian ini."
"Yakin? nggak karena ditolak sama cewek kamu kayak gini?" tebak Vano membuat Revan terkejut dan salah tingkah karena tebakan Papa nya sangat lah benar.
"Enggaklah Pa, mana mungkin aku kayak gitu cuma karena ditolak cewek." Revan tertawa hambar.
Vano hanya menghela nafas panjang,
"Ya sudah, kamu istirahat dulu dan jangan banyak gerak. Papa juga mau istirahat. pusing kepala Papa baru saja dapet jatah dari Mama kamu malah ngeliat kamu kayak gini." celetuk Vano.
"Dasar mesum! inget umur om." kesal Ander mendengar ucapan tak berfaedah dari Vano.
"Gayamu Le ... kamu paling juga panik kalau nggak dapet jatah dari istrimu." Balas Vano dengan nada ejekan membuat Ander mendesah kesal sementara Eliya terlihat menunduk malu mendengar ucapan vulgar Vano.
"Kenapa? mau dikeloni Papa? nggak malu diliatin temenmu?"
Revan berdecak kesal menatap Papa, "Jangan bilang Mama ya?"
"Papa nggak bisa janji, Kamu nggak pulang dan Mama pasti khawatir." balas Vano santai.
"Bilang aja aku nginep di apartemen Randi."
"Sorry Son, Papa nggak jago bohong kayak kamu." balas Vano segera membuka pintu dan keluar.
Revan kembali menelan ludahnya, Apa ini berarti Papa tau jika Revan sedang berbohong?
Maafkan aku Pa, aku nggak punya pilihan lain batin Revan.
"Kamu duduk gih, capek kan dari tadi berdiri terus." bisik Ander ditelinga Eliya. Eliya pun mengangguk dan menuruti Ander karena sejak tadi kakinya memang sudah pegal berdiri dan mendengarkan ocehan Vano.
__ADS_1
"Gimana bisa kejadian kayak gini? kayak bukan Lo aja!" celetuk Randi pada Revan.
"Gue juga nggak tau. jalan aman aman aja sampai ada orang nyebrang bikin gue harus banting stir." jelas Revan.
"Rania tau Lo kayak gini?" giliran Ander bertanya.
"Nggak, jangan lah dikasih tau." jawab Revan yang membuat Ander dan Randi langsung curiga.
"Why? apa ini ada hubungannya sama Rania?" tanya Ander.
"No, enggaklah. seperti yang gue bilang tadi sama bokap. Gue emang lagi iseng aja nyobain bahan yang tadi gue pasang." jelas Revan terlihat jelas sangat gugup.
"Yakin nggak ada hubungan nya?" tanya Randi tak percaya.
"Lo bisa bohongin Bokap Lo tapi nggak sama kita."
"Gue haus, ambilin minum dong." Revan mengalihkan pembicaraan.
Randi segera bergerak menuju galon dispenser yang ada diruangan itu, mengambilkan segelas air dan mengulurkan pada Revan.
"Tangan gue sakit." keluh Revan yang tak bisa menerima uluran gelas Randi.
"Manja!" Randi pun segera membantu Revan meneguk segelas air hangat itu.
"Lega nya, gue haus dari tadi. nggak ada yang pengertian sama sekali ngambilin minum malah pada ngintrogasi mulu." keluh Revan.
"Dan nggak usah banyak bacot! mendingan Lo jelasin aja ke kita atau kita bakal nyari tau sendiri?" tawar Ander membuat Revan sedikit panik.
Revan khawatir jika Ander dan Randi mencari tau dan menjadi tau segalanya bisa membuat Mereka berdua murka tentunya dan hal yang paling Revan takutkan jika kedua saudaranya itu menyakiti Rania.
Tidak... jangan sampai itu terjadi lagi. meskipun Rania menyakitinya Ia tak ingin Rania disakiti oleh siapapun.
"Gimana nih? masih nggak mau jelasin ke kita?"
Revan menatap Ander dan Randi kesal.
"Iya iya, gue jelasin."
"Tapi besok kalau gue udah sembuh." Revan tersenyum tengil memperlihatkan giginya ke arah Randi dan Ander.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAAASSS....