DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
44


__ADS_3

Eliya dibuat heran dengan kedatangan pria tampan yang membawakan makanan kesukaan nya, nasi padang mak enak. Warung nasi padang yang sudah Ia sukai sejak dulu. bahkan semenjak Eliya kembali ke kota ini, hampir setiap hari Eliya membeli makanan disana tanpa bosan sedikitpun.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Eliya kala pria tampan itu sudah berada di ruangan nya.


"Perkenalkan Nona, Saya Ran asisten pribadi Tuan Ander." jelas Ran pada Eliya namun sepertinya Eliya masih belum bisa mempercayai Ran.


"Kenapa aku baru tau jika suamiku memiliki asisten pribadi?"


"Karena saya baru memulai bertugas pagi ini Nona."


Eliya mengangguk, "Ah seperti itu."


"Saya diperintakan Tuan Ander untuk mengantarkan makan siang yang sudah dibelikan oleh Tuan dan memastikan Nona menghabiskan makan siangnya." jelas Ran yang langsung membuat Eliya tersipu.


"Benarkah Ander melakukan semua ini?" batin Eliya. Mengingat semalam Ander begitu kasar padanya kenapa sekarang Ander berubah baik lagi? apa karena Ander merasa bersalah padanya? entahlah Eliya juga tak mengerti.


"Aku akan menghabiskan makanan nya, jadi kamu sudah boleh kembali bertugas pada Tuanmu." kata Eliya.


"Tapi Nona,.." Ran merasa ragu karena tugasnya belum selesai.


"Jangan membantahku, aku tak suka dibantah." tegas Eliya.


"Baiklah Nona."


Ran hendak berbalik meninggalkan ruangan Eliya,


"Tung-tunggu."


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Ran kembali berbalik mendekati meja Eliya.


"Katakan terimakasih pada Tuan mu." kata Eliya sambil tersipu malu.


"Baiklah Nona, saya permisi." kata Ran lalu keluar dari ruangan Eliya.


Ran kembali menuju mobilnya, Ia tersenyum mengingat kedua majikan barunya itu yang sangat lucu dan beda dari yang lain.


Apalagi dengan Ander tadi sebelum Ia ke kantor Eliya,


"Makanan kesukaannya? untuk apa?" tanya Ander heran saat dirinya menanyakan makanan kesukaan Eliya.


"Sebentar lagi jam istirahat Tuan, mungkin Tuan bisa mengirimkan makan siang kesukaan Nona itu salah satu tips mengambil hati wanita Tuan, meskipun hanya perhatian kecil namun bisa membuat wanita jatuh hati." jelas Ran dengan penuh percaya diri.


"Ck, jika cuma itu idemu. sudah terpikirkan olehku sejak tadi." kata Ander dengan wajah malas. "Kamu mencuri ideku." tambah Ander membuat Ran menciut.


"Maafkan saya Tuan." kata Ran dengan kepala menunduk.


Ander hanya menghembuskan nafas panjang, "Tapi aku tak tau apa makanan kesukaan nya."


Ran melotot ke arah Ander, bagaimana bisa Tuan nya tak tau apa makanan kesukaan istrinya batin Ran.


"Hey, apa maksud pelototan mata mu itu?" sewot Ander membuat Ran kembali menunduk.

__ADS_1


"Kami menikah karena perjodohan, jadi wajar kan jika aku tak tau apa yang disukainya." kata Ander membela diri.


"Maafkan saya Tuan."


"Jadi apa kau punya ide untuk mencari tau apa makanan kesukaan istriku?" tanya Ander.


"Bagaimana jika kita menghubungi Ibu Mertua Tuan?"


"Ah iya, aku juga berpikiran seperti itu tadi. kenapa kau selalu mencuri ideku?" protes Ander membuat Ran menatap malas Tuan nya itu.


Sebenarnya siapa yang mencuri ide disini, dia terlihat masih awam dalam percintaan kenapa malah dia yang menuduhku batin Ran kesal.


Ander mengambil ponselnya lalu Ia menghubungi Mom nya untuk meminta nomor Ibu Mertuanya.


"Kenapa meminta nomer Nisa?" heran Ella saat Ander meneleponnya.


"Ada sesuatu Mom, ayo Mom berikan saja." pinta Ander mencoba menghindari pertanyaan Mom nya.


"Apa terjadi sesuatu pada Eliya?"


"Tidak Mom, tentu saja tidak. aku menjaganya dengan baik."


"Ya sudah, awas saja jika membuat menantu kesayangan Mom menangis." ancam Ella.


"Tidak akan, sudahlah Mom cepat berikan."


"Ya, Akan ku kirim setelah ini."


Ander memutuskan panggilan nya dan tak berapa lama Ia mendapatkan pesan berisi nomer milik ibu Mertuanya.


"Ini Ander bund." kata Ander kala Nisa mengangkat teleponnya.


"Ada apa?" tanya Nisa heran, ini pertama kalinya Ander menelepon dirinya dan juga sekarang Ander sudah terbiasa memanggilnya Bunda seperti Eliya memanggil dirinya.


"Ander hanya ingin tau makanan kesukaan Eliya." kata Ander terdengar malu malu membuat Nisa terkekeh.


"Dia menyukai nasi padang mak enak, Apa kau tau tempatnya dimana? hanya ada satu tempat karena tidak membuka cabang." jelas Nisa.


"Sepertinya Ander pernah mendengar nama tempat itu, ya sudah bund biar nanti dicarikan Ran."


"Jangan beri lele dan udang karena Eliya alergi." jelas Nisa.


"Iya bunda, makasih bunda." kata Ander terdengar imut membuat Nisa kembali terkekeh.


"Aku sudah mendapatkannya." kata Ander setelah menutup telepon.


"Jadi apa Tuan?"


"Nasi padang mak enak, jangan beri udang dan Lele katanya dia alergi." jelas Ander.


"Jadi saya yang harus membelikan Tuan?"

__ADS_1


"Lalu siapa jika bukan kamu?"


"Saya pikir Tuan akan membelikan sendiri sebagai bentuk perjuangan cinta Tuan untuk istrinya."


Ander menatap malas ke arah Ran, "Dan aku tak perlu memperkerjakan mu?"


"Maafkan saya Tuan, Saya akan membelikan makanannya sekarang juga." kata Ran segera bergegas sebelum Ia benar benar dipecat.


"Tunggu..."


"Katakan pada istriku jika aku yang membeli sendiri dan juga jangan kembali sebelum melihat dia menghabiskan makanannya."


Ran tentu saja melotot tak terima,


"Apa kau ingin dipecat?"


"Ah tidak Tuan, maafkan saya."


Segera Ran berlari keluar ruangan Ander.


Dan di sinilah Ran sekarang, setelah antri makanan hingga satu jam dan memberikan pada istri Tuan nya yang cantik kini Ia sudah akan kembali ke kantor Ander.


Ran tersenyum geli juga sedikit kesal dengan tingkah bos barunya, namun jika di rasa sepertinya mereka berdua orang yang baik.


Ran segera melajukan mobilnya meninggalkan toko bunga Eliya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ander kala Ran baru sampai diruangan Ander.


"Warung nasi padang nya ramai sekali dan saya antri hampir 1 jam. maafkan saya Tuan."


"Ck, begitu saja mengeluh. kau ini harus tahan banting jika ingin bekerja dengan ku." kata Ander santai sementara Ran sedikit kesal.


Padahal Ran hanya membalas apa yang Ander tanyakan, kenapa malah Ia yang di tuduh mengeluh.


Tidak hanya tahan banting sepertinya Ran juga harus memiliki kesabaran extra lagi.


"Saya tidak mengeluh Tuan, saya han-"


"Sudah sudah jangan dibahas lagi. Bagaimana dengan istriku? apa dia menyukainya?" tanya Ander memotong ucapan Ran.


"Nona menyukainya Tuan, dia terlihat sangat senang."


"Bagus, lalu apa lagi yang harus ku lakukan agar kembali membuat nya senang?" tanya Ander.


"Tuan yakin menanyakan pada saya? maaf Tuan, saya takut jika menjawab nanti saya dituduh mencuri ide Tuan lagi." sindir Ran.


"Ah jadi begitu, kau tak mau bekerja lagi dengan ku? ya sudah tak apa apa lagi pula masih banyak yang akan menganti-"


"Maafkan saya Tuan, baiklah saya memiliki ide yang bisa membuat Nona senang." kata Ran sedikit kesal karena Ander selalu mengancam ingin memecatnya di hari pertama kerja.


Ander tersenyum puas,

__ADS_1


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA....


__ADS_2