
Sesuai ide dari Ran, Kini Ander sudah sampai ditoko bunga Eliya dengan membawa beberapa camilan dan coklat.
Sebenarnya Ander ingin membawa bucket bunga namun mengingat Eliya saja menjual bunga mana mungkin Ia membawa bunga.
Ander berniat menjemput Eliya sebagai permintaan maaf atas perlakuan dirinya semalam, entahlah rasanya Ander tak ingin melakukan itu namun rasa bersalah pada Eliya membuat Ia harus melakukan ide Ran yang dirasa konyol itu.
"Sudah pulang?" Ander mengeryit heran kala salah satu karyawan toko mengatakan jika Eliya sudah pulang, mengingat ini masih sore dan toko saja belum tutup.
"Benar Tuan, Baru saja pulang memesan taksi online."
"Baiklah jika seperti itu."
Ander berjalan keluar dari toko dan segera memasuki mobilnya, dimana masih ada Ran yang menunggunya di dalam mobil.
"Ck, apa ini dia malah sudah pulang." gerutu Ander.
"Jika kamu memberi ide seharusnya sudah kamu pastikan jika Eliya belum pulang!" ketus Ander membuat Ran melonggo tak percaya.
"Mungkin Nona pulang lebih dulu untuk menyiapkan makan malam Tuan." hibur Ran.
"Benarkah? ya sudah ayo kita pulang saja."
Ran mengangguk dan segera melajukan mobilnya, "Semoga saja Nona memang sudah pulang biar Tuan Bucin ini tidak kembali mengomel padaku." batin Ran.
"Awas saja jika dia belum datang, semua ini salahmu!" kata Ander sebelum akhirnya keluar dari mobil karena sudah sampai didepan apartemen.
"Kenapa jadi salahku?" gumam Ran heran kala Ander sudah tak terlihat lagi.
Ander memasuki apartemen, berharap Eliya sudah ada disana namun nyatanya nihil. Apartemen nya masih gelap.
Ia mencari disemua penjuru namun tidak menemukan Eliya disana.
"Sial, kemana dia?"
Ander mengambil ponselnya disaku, hendak menghubungi Eliya sebelum akhirnya Ia sadar jika Ia tidak memiliki nomer ponsel Eliya.
Sempat ingin meminta nomer pada Bunda Eliya namun langsung Ia urungkan.
Bisa bisa Ia kena omel Mom gara gara tak memiliki nomer Eliya batin Ander.
Karena kesal, Ander membanting ponselnya diranjang dan Ia pun ikut berbaring disana.
"Gara gara Ran memberi ide seburuk ini, membuat kesal saja." gerutu Ander.
Sementara Eliya baru saja pulang dari rumah salah satu teman nya yang sedang berkabung gara gara Ibunya meninggal dunia.
Pukul 4 sore tadi Eliya mendapatkan kabar duka itu yang membuatnya segera pergi kerumah teman nya.
Dan sekarang Ia sudah sampai didepan Apartemen nya. Tadinya Ia ingin menghubungi Ander dan mengatakan jika Ia pulang terlambat Namun Ia lupa jika dirinya tak memiliki nomer ponsel Ander.
Eliya melihat jam tangan nya, Sudah pukul 8 malam.
__ADS_1
"Apa dia sudah pulang?" Batin Eliya.
Setelah memencet beberapa angka yang menjadi sandi apartemen, Eliya memasuki apartemen nya yang masih terlihat gelap itu.
"Apa dia belum pulang juga?" Eliya mendesah kesal dan melemparkan tasnya disembarang tempat.
Eliya memasuki kamar dan terkejut melihat Ander duduk di pinggir ranjang sambil bersedekap, Ander sudah mengenakan piyama bukan lagi baju kantor. Dan kini matanya menatap ke arah Eliya tajam.
"Ka-kamu sudah pulang?" tanya Eliya sedikit gugup apalagi melihat tatapan Ander yang tak biasa.
"Dari mana saja?"
"Ak-aku tadi mampir ke rumah teman, ibunya meninggal."
Ander bangkit mengambilkan handuk lalu memberikan pada Eliya,
"Mandi sana." kata Ander lalu melewati Eliya keluar dari kamar.
Seperginya Ander, Eliya menahan dirinya agar tak jatuh apalagi degup jantung yang berdetak kencang. Sungguh sikap Ander yang berubah ubah membuat Eliya bingung.
Sebenarnya ada apa dengan pria itu? kadang baik namun tak jarang juga membuatnya kesal batin Eliya keheranan dengan sikap suaminya.
Selesai mandi, Eliya segera keluar untuk membuatkan makan malam Ander. Namun saat sudah dimeja makan lagi lagi Eliya di buat terkejut karena dimeja makan sudah tersedia menu makan malam.
"Aku sudah memesan makanan, ayo makan aku sudah lapar." ajak Ander saat melihat Eliya keluar kamar.
"Padahal aku baru ingin memasak." Eliya menyeret kursi mundur lalu mendudukinya.
Eliya hanya menggelengkan kepalanya, lalu ikut menikmati makan malam.
"Terima kasih untuk makan siangnya tadi." kata Eliya dengan gugup.
"Hmm, kamu makan sampai habis kan?"
"Ya tentu saja, bagaimana kamu tau aku suka nasi padang mak enak?"
"Aku hanya menebak saja, syukur jika kamu suka." kata Ander terlihat lega melihat Eliya sepertinya sudah tak marah dengan nya.
Selesai makan malam, Eliya langsung mencuci piring kotor sementara Ander duduk didepan televisi.
"Kesini." Ander menepuk sofa disampingnya saat Eliya sudah selesai mencuci piring.
"Temani aku menonton televisi." Eliya hanya mengangguk dan menurut saja duduk disamping Ander.
Keduanya sama sama fokus dengan layar televisi hingga Eliya merasakan tangan Ander sudah merangkulnya meminta Eliya mendekat.
Dengan jantung yang berloncatan, akhirnya Eliya merapat hingga kini kepalanya bersandar dibahu Ander.
Awalnya Ander hanya mengelus elus pipi Eliya, lalu mencium kening dan saat Eliya sadar Ander sudah ******* bibir Eliya.
Perlakuan hangat yang sangat menghanyutkan, dan karena terkejut Eliya segera mendorong dada bidang Ander.
__ADS_1
"Kenapa?" Raut wajah Ander terlihat kecewa.
"Ak-aku nggak mau." Eliya hendak berajak namun terlambat karena Ander menarik tangan Eliya hingga jatuh ke pangkuan Ander.
Ander mengunci tubuh Eliya dengan kedua tangan nya membuat Eliya tak bisa bergerak dan kabur.
"Kenapa menolak?"
Pertanyaan Ander tentu membuat Eliya kesal bahkan sangat kesal.
"Apa dia lupa bagaimana dia memperlakukan ku semalam? seenaknya sekarang mau minta lagi!" batin Eliya kesal.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya Ander ingin kembali mencium Eliya namun gagal karena Eliya kembali menghindar.
"Bukankah dosa menolak permintaan suami?"
"Lalu apa tidak dosa jika suami berbuat kasar pada istri?"
Seketika Ander bungkam.
Ander pikir Eliya sudah memaafkan dirinya dan melupakan kejadian semalam namun nyatanya Ander salah, Eliya masih marah.
"Maaaf," Eliya memalingkan wajahnya kala Ander meminta maaf padanya.
"Maaf sayang, aku benar benar khilaf semalam."
Cih sayang, kenapa dia harus memanggil sayang! Eliya sudah tersipu malu.
"Apa salahku? kenapa semalam kamu seperti itu!"
Glek... Ander menelan ludahnya. rasanya tak mungkin Ia menceritakan yang sebenarnya pada Eliya. bisa bisa rencana nya gagal.
"Entahlah, ada sesuatu yang membuatku kesal hingga seperti itu. maafkan aku."
"Sesuatu seperti apa?"
"Sesuatu yang tak bisa kuceritakan."
"Maafkan aku sayang." ungkap Ander terdengar tulus membuat Eliya kembali tersipu.
"Aku sudah memaafkan mu, tapi aku tidak mau melakukan nya malam ini."
"Kenapa?" raut wajah Ander kembali terlihat kecewa.
"Rasanya masih sakit."
Ander mengecup kening Eliya lalu membisikan ditelinga Eliya,
"Aku janji akan pelan pelan sayang."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE VOTE DAN KOMEN DONG....