
Rania mencium punggung tangan Revan sebelum keluar dari mobil. Hari ini Revan sengaja mengantar Rania karena siang nanti ada jadwal pemeriksaan kandungan Rania diklinik Papanya.
Jika pertama periksa Revan absen, berbeda dengan sekarang, Revan sudah sangat antusias ingin mengantar Rania.
"Kalau ada apa apa langsung kabarin aku." kata Revan sebelum Rania keluar.
"Iya, kamu hati hati juga bawa mobilnya. nggak usah ngebut lagi. aku nggak mau jadi janda." kata Rania membuat Revan terkekeh.
Rania berjalan memasuki kafe setelah mobil Revan kembali melaju meninggalkan Rania.
Dan saat memasuki ruangannya, Rania dikejutkan oleh kehadiran Ricky sang Kakak yang sudah duduk disofa ruangan nya.
"Bang, kok tumben." kata Rania langsung menghampiri sang Kakak dan memeluknya.
"Abang seneng liat kamu sekarang, udah keliatan bahagia banget." kata Ricky setelah mereka berpelukan dan Ricky bisa melihat raut bahagia adik sambungnya itu.
"Abang juga harus cari jodoh biar bahagia juga sama kayak aku." kata Rania membuat Ricky terkekeh.
"Tapi suami sama mertua kamu gimana? baik kan sama kamu?"
Rania mengangguk "Baik banget bang, mereka sayang sama aku." kata Rania dengan sumringah.
Ricky tersenyum, dalam hatinya Ia sangat bersyukur. Adiknya memang pantas bahagia dan mendapatkan kasih sayang setelah selama ini Rania cukup menderita karena sang Mama.
"Mama apa kabar bang?" tanya Rania yang masih peduli dengan sang Mama padahal Mama nya saja tidak peduli pada Rania.
"Mama udah pindah keluar negeri sama pacarnya." jelas Ricky.
"Aku takut Mama kenapa kenapa, karena aku tau pacar Mama bukan pria baik baik. dia cuma mau uang mama saja." kata Rania dengan raut wajah sedih.
"Kamu nggak usah mikirin Mama, fokus sama kesehatan kamu dan calon baby kamu aja."
"Kalaupun nanti ada apa apa sama Mama, itu udah jadi resiko Mama." kata Ricky yang sudah sangat lelah dan menyerah menasehati sang Mama yang sangat keras kepala.
"Tapi tetep aja bang, dia itu Mama kita."
Ricky menghela nafas panjang, "Sepertinya sekarang memang sudah waktunya Rania mengetahui segalanya."
Ricky mengeluarkan selembar foto tua yang terlihat sangat lusuh lalu memberikan pada Rania,
"Ini Papa sama siapa bang?'' tanya Rania melihat foto sang Papa dengan wanita cantik tersenyum didepan kamera.
"Sama mama kandung kamu."
__ADS_1
Seketika Rania memandang Ricky dengan tatapan tak percaya.
"Ma-mama kandung aku?"
"Iya Rania, dia mama kandung kamu... kita ini bukan saudara sedarah." jelas Ricky yang sebenarnya tak tega menjelaskan pada Rania apalagi melihat raut wajah Rania sangat shock.
"Dulu Papa ninggalin aku dan Mama karena Mama kamu. setelah itu mereka kecelakaan dan Papa nitipin kamu sama Mama."
"Mungkin itu yang membuat Mama benci sama kamu."
Air mata Rania tak tahan akhirnya Ia menangis, Ricky berusaha mengenggam tangan Rania memberi kekuatan pada adiknya. Rania berhak tau semua ini karena Ricky tak ingin Rania terlalu berharap mendapatkan kasih sayang dari Mama nya. Meski Ricky terlambat mengatakannya namun Rania memanv harus tahu.
"Ja-jadi ini alasan Mama... nggak pernah suka sama aku? aku memang pantas dibenci." ucap Rania membuat Ricky tak tahan akhirnya memeluk Rania.
"Tapi abang sayang sama kamu, sayang lebih dari apapun." kata Ricky "Please jangan down. abang cerita sama kamu karena abang nggak mau kamu terlalu memikirkan Mama yang bahkan sama sekali nggak peduli sama kamu."
Rania semakin menangis sesenggukan,
"Kamu mau aku antar ke makam Mama kamu?" tawar Ricky berharap bisa sedikit membuat Rania tenang namun Rania malah menggeleng pertanda Ia tak mau.
"Ayolah, Mama kamu pasti seneng ngeliat putrinya datang." bujuk Ricky.
Dan akhirnya Rania pun mau, pagi itu juga mereka pergi ke pemakaman umum yang membutuhkan waktu satu jam dari kafe Rania.
"Makam Mama kamu ada disamping Makam Papa." Ricky menunjuk makam samping Papa yang bertuliskan Anissa Ridwan binti Eko Ridwan.
"Jadi itu..."
Ricky mengangguk dan mengajak Rania duduk disamping makam Mamanya.
Rania menatap makam Mama, dalam hatinya Ia mengingat selama ini Ia tak pernah melihat Mamanya bang Ricky pergi ke makam Papa dan sekarang Rania tahu alasan nya.
Karena Mama kandungnya, karena makam Mama berada disamping makam Papa. Datang ke makam Papa mungkin akan mengingatkan luka yang ditorehkan oleh sang Papa.
"Apa Mama bahagia? apa ini yang Mama inginkan? membuat Rania dibenci dan bahkan Rania tak tahu apa kesalahan Rania." gumam Rania dengan suara lirih. Ricky yang mendengar suara Rania pun mengelus punggung Rania, memberi kekuatan disana.
"Selama ini Rania selalu bertanya tanya, apa salah Rania? dan sekarang Rania tahu jawaban nya. semua karena Mama."
"Jika saja Rania boleh meminta, Rania tak ingin dilahirkan oleh Mama."
"Husstttt.... Rania nggak boleh ngomong gitu." kata Ricky memeluk Rania.
"Kita pulang aja ya." ajak Ricky yang langsung diangguki Rania, karena Rania juga tak ingin berlama lama disini.
__ADS_1
Rania kembali ke kafe diantar oleh Ricky namun Ricky segera pergi karena ada pekerjaan yang sudah menunggunya.
Dan saat membuka pintu ruangan, Rania terkejut melihat sudah ada Revan diruangan nya. barulah Rania menyadari jika ini sudah siang, sudah waktunya dirinya dan Recan check up kandungan.
''Sayang kamu dari mana?" tanya Revan dengan raut wajah khawatir.
"Kamu udah nunggu lama ya?" Rania terlihat gugup takut Revan mengetahui apa yang sudah terjadi.
"Suara kamu serak? mata kamu juga sembab? kamu habis nangis?" tebak Revan yang langsung membuat Rania bertambah gugup.
"Eng-enggak aku cuma-"
"Nggak usah bohong!" suara Revan terdengar marah.
Rania menghela nafas panjang, mengajak Revan duduk lalu menceritakan semuanya pada Revan.
Revan yang terkejut pun akhirnya memeluk Rania, "Kamu pasti kuat sayang, ada aku di sini yang akan selalu jagain kamu."
"Makasih mas."
Setelah menceritakan pada Revan membuat Rania sedikit tenang apalagi saat datang ke klinik dan mendengar guyonan lucu Papa mertuanya, membuat Rania sejenak melupakan tentang kenyataan yang menyakitinya.
"Sehat semua ini, babynya juga udah mulai kuat." jelas dokter indah, dokter obgyn yang menangani Rania.
"Kalau udah kuat berarti boleh ya dok sesekali gituan." kata Revan yang langsung membuat Rania, dokter indah dan Vano menatap Revan bersamaan.
"Gituan apa maksudnya?" tanya dokter indah.
"Berhubungan suami istri."
Seketika tawa semua orang membuncah kecuali Revan dan Rania yang terlihat kebingungan.
"Memang siapa yang bilang tidak boleh?" tanya dokter Indah masih tertawa.
"Papa bilang harus puasa dulu sampai janin nya kuat."
"Astaga dokter Vano jail banget sama anaknya." kata Dokter Indah menatap Vano yang masih terkekeh "Boleh, asal jangan main kasar. ya ampun berarti setelah menikah kalian puasa ya."
"Papa!" Revan menatap Vano kesal. benar benar kesal karena memang dirinya hanya melakukan sekali setelah pernikahan dan setelah itu puasa sampai saat ini.
Semua karena Vano sang Papa yang super duper menjengkelkan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen...