
Vano yang baru saja membuat Riska tepar diranjang dikejutkan oleh dering panggilan diponselnya.
Segera Ia mengecup kening istrinya untuk penutupan hidangan malam ini dan Ia bangkit menghampiri ponsel yang sedang Ia charger.
Risha Calling...
Vano mengerutkan alisnya heran, Ia sempat melirik jam dinding sudah hampir pukul 12 malam Risha berani menelepon nya.
Ada apa? tidak biasanya batin Vano segera menggeser tombol warna hijau untuk menerima panggilan.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa Ris?"
Mendengar suara Risha yang terdengar panik seketika membuat Vano menjatuhkan ponselnya hingga menimbulkan suara.
"Ada apa mas?" tanya Riska yang nyatanya kembali bangun saat mendengar suara ponselnya jatuh.
"Aku harus ke klinik sekarang." wajah Vano yang terlihat panik membuat Riska menatapnya heran.
"Harus sekarang? jam berapa ini?" tanya Riska yang sudah berdiri menghampiri Vano yang sedang mengancingkan bajunya.
"Memang ada pasien dadakan ya mas?" tanya Riska lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Vano.
"Ya, nggak ada yang bisa datang jadi harus aku yang kesana."
Vano mengecup kening istrinya sebelum akhirnya Ia keluar kamar meninggalkan Riska yang masih terlihat keheranan.
Vano memasuki mobilnya, Ia sempat menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Setelah itu Vano segera melajukan mobilnya.
Hingga sampai di kliniknya, Ia melihat Risha begitu cemas berada didepan ruang IGD milik kliniknya.
"Pak..." Risha menatap kedatangannya dengan wajah pucat dan jelas sekali Ia khawatir, disamping Risha ada seorang pria paruh baya yang menemani Risha.
"Ada beberapa perawat yang sedang membersihkan luka ma... mas Revan didalam." jelas Risha yang langsung saja diangguki oleh Vano.
Vano memasuki ruang IGD, dan benar saja Ia melihat putra satu satunya tengah berbaring disana dengan darah yang berceceran.
"Bagian mana yang parah?" tanya Vano dengan jantung yang berloncatan. pertama kalinya untuk Vano, pasien yang harus Ia tangani adalah putra nya sendiri. mungkin jika tak ada orang lain di sini, Vano sudah menangis melihat keadaan putranya sekarang.
"Bagian kepalanya harus di jahit dok, selebihnya hanya bagian tangan saja ada beberapa luka lecet."
"Seberapa parah luka di kepalanya?"
"Hanya sobek sedikit dan memar juga."
__ADS_1
Vano bisa sedikit lega melihat putranya tidak begitu parah, meski Ia benar benar masih shock saat ini.
"Bersihkan dulu luka nya, panggil aku jika sudah siap."
"Baik dok."
Vano segera keluar, sebelum Ia menanggani putranya lebih lanjut.
"Masih di sini?" tanya Vano pada Risha yang masih berdiri didepan IGD. "Apa kamu tau bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Vano pada Risha karena Risha orang pertama yang menghubunginya dan memberitahu perihal Revan.
"Saya baru pulang dari toko dok, trus Bapak tukang parkir itu ingin menyebrang dan mobil mas Revan melaju kencang dari jauh. mungkin ingin menghindar agar tidak menabrak bapak itu dan malah menabrak pohon pinggir jalan, waktu saya dekati dan saya terkejut ternyata itu mas Revan putra dokter jadi saya telepon dokter malam malam." jelas Risha.
"Alhamdulilah banyak yang nolongin dok jadi saya bawa kesini tapi mobilnya masih disana katanya buat diperiksa polisi dulu."
Vano menganggukan paham, Lalu mendekati pria paruh baya yang menemani Risha sejak tadi.
"Saya mewakili putra saya ingin meminta maaf karena hampir saja putra saya menabrak anda pak." kata Vano dengan penuh penyesalan.
Bapak itu tersenyum ke arah Vano sebelum akhirnya mengangguk "Ini musibah, alhamdulilah saya masih bisa terhindar."
"Semoga lekas sembuh untuk putra dokter." ujar pria paruh baya itu.
"Terima kasih pak."
Vano kembali mendekat ke arah Risha, "Pulang sha..."
"Sudah larut ini, saya nggak mau besok kamu terlambat bekerja."
"Nggak ada tolerir meskipun sekarang kamu sudah membawa anak saya kesini." kata Vano dengan sedikit candaan membuat Risha yang tadinya tegang kini sedikit mencair.
"Baik dok, saya permisi dulu." pamit Risha yang langsung diangguki Vano.
"Sha..."
Risha berbalik kala Vano memanggilnya lagi,
"Terimakasih banyak, kamu memang calon mantu idaman."
Ucapan Vano membuat pipi Risha semu merah. Ia terlihat malu malu dan langsung pergi tanpa menjawab Vano.
Vano menatap Risha yang kembali berbalik dan pergi meninggalkan klinik, Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
Selesai menelepon, Vano kembali memasuki ruang IGD untuk segera mulai menanggani Revan.
__ADS_1
Vano menerima jarum yang di ulurkan suster padanya dengan tangan bergetar, rasanya Ia benar benar tak sanggup menjahit luka putranya sendiri.
Dengan penuh kelembutan, Vano menjahit luka putranya pelan dan mulai mengobati setiap luka yang ada ditubuh Revan.
Sedikit bersyukur karena tak ada luka parah, Selesai dengan itu Vano segera memberikan para perawat nya intruksi agar Revan segera dipindahkan ke ruang inap.
Setelah itu Vano keluar dan melihat dua pria yang kini berjalan cepat ke arahnya serta wanita hamil yang mengikuti dua pria itu dibelakang.
"Gimana Om?" tanya dua pria itu bersamaan.
Jelas sekali raut wajah dua pria yang tak lain adalah Ander dan Randi itu sangat khawatir.
"Gimana om keadaan Revan?" tanya Ander sekali lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Vano.
"Om? Revan baik baik saja kan?" kini giliran Randi yang bertanya dan Vano masih saja diam.
"Om..." sentak keduanya dengan wajah kesal menatap ke arah Vano yang sedari tadi hanya diam.
"Sabar kenapa sih! om ini udah tua, ngeliat Revan kecelakaan masih shock jadi kalian kalau nanya sabar dong." balas Vano yang langsung membuat Ander dan Randi sedikit merasa bersalah.
Vano ingin tertawa rasanya melihat dua keponakannya terlihat menunduk merasa bersalah namun Vano harus sadar posisi, saat ini putranya sedang sakit jadi bukan waktunya untuk Vano bercanda sekarang.
"Revan hanya ada luka dikepala tapi nggak parah, udah Om jahit. sekarang masih belum sadar. mungkin sebentar lagi. jadi kalian nggak perlu khawatir." jelas Vano langsung saja membuat wajah Vano dan Randi terlihat lega.
"Syukur deh." celetuk Ander "Tapi om lucu juga kalau pas pucet takut gini." ejek Ander yang langsung saja membuat Eliya kembali mencubitnya ditambah Vano yang memukul lengan nya membuat Ander terkekeh.
"Dasar ponakan kurang ajar!"
Mereka pun segera berjalan menuju ruang rawat Revan, melihat Revan terbaring lemah dengan perban dikepalanya membuat Ander dan Randi tak tega.
"Om nggak bilang sama tante?" tanya Randi yang langsung saja digelengi Vano.
"Om nggak tega ngeliat Tante kalian sedih."
"Bilang aja lah om dari pada nanti nggak dapet jatah aauww- apa sih cubit cubit terus.'' protes Ander pada Eliya.
"Mulutnya dijaga kalau ngomong." bisik Eliya dengan nada kesal.
"Amuk aja tuh suami kamu, kurang aja emang sama om." adu Vano pada Eliya.
"Nggak usah bercanda deh om, inget om nanti kalau tante Riska tau om nggak bilang. siap siap nggak dijatah sebulan."
Auwww.. sayang apa sih...
__ADS_1
BERSAMBUNG ..
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA