
Randi berjalan memasuki bar, Ia mencari seseorang dan matanya langsung menangkap Silla yang sudah duduk disana sudah menunggunya.
Randi langsung berjalan mendekati Silla dan duduk didepan Silla. Terlihat Silla sedang meneguk beberapa gelas minuman beralkohol.
"Lo bisa mabuk." kata Randi mengingatkan.
Silla tersenyum, "Gue tadi udah ketemu sama pihak perusahaan." ungkap Silla mengingat siang tadi setelah Randi menemuinya Ia segera pergi ke perusahaan yang menggunakan jasa Randi.
"Alot banget, mereka nggak bisa diajak negoisasi." lanjut Silla.
"Dan jika gue ambil cara kedua, karir Lo bisa hancur." Silla menerawang, menatap ke arah kerlap kerlip lampu dengan padangan kosong.
Randi menghembuskan nafas panjang, "Gue udah nggak peduli lagi masalah karir. Gue cuma mau hidup tenang dan nggak ada drama kebohongan publik."
"Lo yakin? udah siap kehilangan segalanya?" tanya Silla menatap Randi yang langsung saja mengangguk yakin.
Silla menghembuskan nafas berat, "Sorry Rand, semua karena ego gue, karir Lo hancur."
Randi malah terkekeh, "Nggak masalah."
Randi ikut menuangkan minuman dalam gelas,
"Ntar Lo mabuk." kata Silla mengingatkan.
"Gue emang pengen mabuk." ungkap Randi langsung meneguk isi gelas itu hingga habis.
"Ck, ntar ngrepotin gue." omel Silla membuat Randi terkekeh dan malah semakin banyak minumnya.
Silla diam, menatap lekat wajah Randi yang sudah merah mabuk.
"Lo lagi suka sama orang?" tanya Silla.
Randi tersenyum, "Dan dia salah paham karena masalah ini. bahkan dia nggak ngebolehin gue nemuin dia."
Silla langsung menghela nafas, seperti apa yang Ia pikirkan jika Randi memang sedang jatuh cinta.
Randi tak akan seperti ini jika sedang tidak jatuh cinta.
"Gue mau ke toilet dulu." kata Silla beranjak meninggalkan Randi.
Randi hanya mengangguk, tak memperdulikan apapun. Dia malah semakin banyak menuangkan minuman dan meminumnya hingga habis berulang ulang hingga kepalanya semakin berat dan pusing namun Ia seperti melayang tak ada beban apapun yang sebelumnya Ia rasakan.
Cup, seorang wanita duduk disamping Randi mengecup pipi Randi dan bergelayut manja disamping Randi.
__ADS_1
Randi yang sudah mabuk berat hanya tersenyum melihat wanita yang Ia pikir Risha.
"Kamu cantik." kata Randi membelai pipi wanita yang Randi pikir Risha itu.
Wanita itu tersenyum menyerigai, mengecup bibir Randi perlahan.
"Ke kamar aja yukk." bisik wanita itu yang langsung diangguki Randi.
Wanita itu membantu Randi bangun dan memapah Randi namun baru selangkah berjalan sebuah tangan sudah mencekal wanita itu.
"Mau lo bawa kemana?" tanya Silla pada wanita yang tak lain adalah Keisya.
"Bukan urusan Lo." kata Keisya acuh tetap memapah Randi.
"Jelas ini urusan gue!" Silla menarik tangan Randi hingga Randi berada dipelukan Silla.
"Nggak usah macem macem Lo atau gue bongkar semuanya." kata Silla menatap tajam ke arah Keisya yang kesal dengan nya.
"Brengsek!" Keisya segera pergi meninggalkan Randi dan Silla.
"Ck, udah gue bilang nggak usah mabuk, ngrepotin orang aja." gerutu Silla langsung membawa Randi keluar dari bar itu.
....
Paginya Risha pulang ke kosnya setelah sholat subuh. Risha memang sengaja pulang masih gelap karena tak ingin ada yang melihatnya.
Sesampainya dikamar, Risha mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat Risha menjawab panggilan yang ternyata dari keluarganya dikampung.
"Assalamualaikum ayah..."
...
Silla menguyur Randi dengan setengah gelas air, Ia kesal dengan Randi yang masih saja terlelap padahal ini sudah siang hari dan Silla sudah membangunkan berkali kali.
"Gila Lo ya!" teriak Randi membuka matanya dan merasakan wajahnya basah air juga kepalanya yang berdenyut merasakan pusing luar biasa.
"Lo tuh yang gila," balas Silla menatap Randi cuek.
Randi yang baru saja mengumpulkan nyawa, melihat sekeliling ruangan yang begitu asing untuknya.
"Kenapa gue bisa disini? dikamar Lo?" tanya Randi bingung mencoba mengingat apa yang terjadi semalam namun Ia sama sekali tak ingat.
"Makanya nggak usah mabuk kalau cuma mau nyusahin orang!"
__ADS_1
"Gue semalam mabuk?" Randi masih mencoba mengingat.
"Ngeselin emang Lo! coba semalem gue nggak cepet. udah habis Lo dikerjain sama tuh cewek gatel."
Randi mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan ucapan Silla.
"Dahlah, lebih baik Lo sekarang siap siap karena kita mau jumpa pers." kata Silla.
"Mau ngapain lagi sih?" tanya Randi dengan nada kesal.
Silla tak menjawab dan malah meninggalkan Randi begitu saja. Dan Randi meski kesal, Ia segera menuruti Silla bersiap untuk jumpa pers dadakan ini.
Dan kini Randi dan Silla sudah berada dihadapan banyak wartawan.
Randi yang tak mengetahui tujuan awal Silla mengajak hanya duduk diam sementara Silla yang berbicara.
"Disini saya bicara mewakili artis saya, Randi. Ingin meluruskan berita yang akhir akhir ini sedang viral."
"Saya sebagai asisten juga manager ingin meminta maaf sebesar besarnya karena semua berita yang beredar itu murni kesalahan saya." jelas Silla membuat Randi dan semua orang terkejut menatap ke arah Silla.
"Di sini saya ingin membuka semua, jika Randi artis saya sama sekali tak memiliki hubungan khusus dengan Keisya." ucap Silla lagi yang membuat semua orang lagi lagi terkejut.
"Hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja, dan mereka dekat juga karena memang permintaan dari perusahaan yang menyewa jasa mereka."
"Jadi di sini saya meminta agar semua pihak tidak lagi membesarkan masalah ini lagi." kata Silla mengakhiri ucapan nya.
"Tapi bagaimana dengan foto ciuman yang ada di instagram Keisya?" tanya salah seorang wartawan.
"Bisa dipastikan itu hanya kesalahpahaman. jado saya pikir cukup penjelasannya dan saya harap ke depan tidak ada lagi berita tentang Randi dan Keisya."
Silla pergi meninggalkan ruang pers diikuti oleh Randi.
"Thanks." ucap Randi pada Silla yang sudah berada diruangan mereka.
"Lo dapet masalah juga karena gue jadi ya emang sepantasnya gue nglakuin ini.''
"Dan untuk masalah kerugian perusahaan yang nyewa Lo udah selesai."
"Lo nggak perlu mikir lagi karena udah ada yang bertanggung jawab." jelas Silla.
"Siapa?"
"Ada lah pokoknya." kata Silla sambil tersenyum.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa like vote dan komen