
Revan segera melajukan mobilnya menuju rumah baru pemberian orangtuanya. Awalnya Revan dan Rania menolak namun karena orangtua Revan memaksa akhirnya mereka menuruti sambil menunggu rumah impian yang sedang dibangun Revan selesai dikerjakan.
"Bener ini kayaknya," gumam Revan melihat nomor rumah dari dalam mobil.
"Yakin? ntar salah rumah malah malu." balas Rania.
Revan kembali mengecek alamat serta nomor rumah pada selembar kertas yang tadi Vano berikan.
"Bener kok sayang, A 403. bener kan?" Revan memperlihatkan nomor pada Rania yang langsung diangguki Rania.
"Iya sih, tapi kok kayaknya besar banget ya."
"Udahlah, masuk dulu aja." Revan keluar dari mobil diikuti Rania.
Mereka baru ingin membuka pintu gerbang namun sudah terbuka dari dalam.
"Ini Aden Revan sama Non Rania ya?" sapa pria tua yang baru saja membuka gerbang.
"Kok tau?" Revan mengerutkan keningnya heran, menatap pria tua yang tak dikenalinya itu.
"Saya mang Ujang Den, yang diutus bersih bersih rumah sekaligus jagain rumah ini." jelas pria bernama Mang Ujang itu.
"Loh bukan nya ini rumah baru ya?" tanya Revan heran.
"Baru den karena belum pernah ditempati. aslinya ini rumah sudah dibeli Tuan Vano setahun yang lalu." jelas mang Ujang.
"Duh horror dong rumahnya." bisik Rania pada Revan.
"Kenapa? kamu takut? ck tenang aja sayang kan ada aku." balas Revan terkekeh melihat wajah pucat Rania.
"Hayoo Aden sama Non, liat dulu rumahnya. nanti kalau kurang apa apa bilang saja sama Mamang."
Revan mengangguk, mengandeng tangan Rania dan mengajaknya masuk.
"Ck, gila gede banget." celetuk Revan melihat rumah yang hampir menyamai mansion milik Alex.
"Tapi nanti kalau serem kita pindah ke rumah aku aja ya." pinta Rania sambil mengenggam erat lengan Revan.
Dulu waktu masih sekolah, Rania bukan gadis penakut, namun seiring bertambahnya umur Rania malah menjadi gadis penakut.
"Tenang aja sayang, kita nggak sendirian kok tinggal disini. ada Mamang juga."
"Eh maaf Den, saya kalau sore pulang." jelas Mang ujang yang sedari tadi mengikuti langkah Revan dan Rania.
"Lah kok gitu sih Mang, nggak nginep aja?"
__ADS_1
"Egh, kalau masalah itu nanti saya tanya dulu sama Tuan Vano."
"Ck, Papa gampang. kan sekarang yang bayar Mamang aku bukan Papa lagi." jelas Revan.
"Baik Den, tapi saya mulai tidur disini besok aja ya Den soalnya mau ambil perlengkapan dulu." jelas Mang Ujang yang langsung diangguki Revan.
"Eh kulkasnya juga udah ada isinya." Rania membuka pintu kulkas sultan yang sudah penuh dengan bahan makanan.
"Tadi pagi sudah di isi sama Bik Rum Non."
"Siapa Bik Rum?" tanya Revan.
"Bik Rum yang nanti kerja di sini Den, tapi hari ini mendadak izin pulang karena anaknya kecelakaan."
"Jadi udah di siapin asisten rumah tangga juga sama Papa?" Rania merasa senang mendapatkan perhatian yang begitu berlebihan dari Papa mertuanya itu.
"Ya dong, kan mereka nggak mau kamu kecapekan sayang." kata Revan sambil mengelus rambut Rania.
"Tapi apa kamu yakin malam ini berani nempati rumah ini berdua aja? nggak nunggu besok kalau udah pada stay di sini?"
"Ck, apa sih sayang. kamu pikir aku penakut." kata Revan membuat Rania memutar bola matanya malas.
"Terserah lah."
Malam harinya,
"Itu kenapa pintu nya nggak ditutup mas?" tanya Rania saat memasuki kamar, melihat pintu keluar balkon masih terbuka dan terlihat pohon besar yang ada disamping kamar mereka. karena kamar mereka lantai dua jadi terlihat sekali daun lebat yang ada dipohon besar itu.
"Ntar aku tutup sayang, biar agak ademan dikit lah."
"Kan ada Ac juga mas, bisa di nyalain." kesal Rania karena dirinya benar benar takut.
"Gini lebih sejuk." balas Revan tanpa melihat Rania karena matanya asyik menatap layar ponselnya.
"Ck, serah deh mas." Rania berbaring memunggungi Revan karena tak ingin melihat ke arah luar.
Tak terasa satu jam berlalu, suara dengkuran Rania mulai terdengar menandakan jika Rania sudah terlelap.
Sementara Revan masih asyik bermain game diponselnya.
Hingga permainan Revan terganggu saat telinga nya mendengar suara dari luar.
Kresek... kresek...
Awalnya Revan tak begitu memperdulikan namun karena terdengar lagi dan lagi akhirnya Revan meletakan ponselnya dan melihat suara apa itu.
__ADS_1
Revan keluar ke balkon namun tak ada apapun disana. Ia akhirnya memutuskan untuk menutup pintu kaca dan saat Ia ingin menutup gorden, Tak sengaja mata Revan melihat kain putih yang ada dipohon.
"Apaan tuh." karena penasaran Revan melihat sedikit lama hingga Revan hampir terjungkal karena terkejut. Buru buru Revan menutup gorden.
"Sial, gorden nya terawang lagi." gerutu Revan buru buru berbalik ke ranjangnya tak peduli jika Ia masih melihat ke luar.
Baru ingin memakai selimut, mata Revan menatap ke gorden dan melihat bayangan putih yang berjalan.
"Setan brengsek!" jerit Revan yang langsung mengejutkan Rania hingga membuat Rania bangun.
"Apa sih mas?" heran Rania dengan mata terkantuk.
"T-tadi ada bayangan putih lewat."
"Ck, mana nggak ada?" Rania yang masih mengantuk akhirnya kembalu berbaring.
"Kamu jangan tidur lagi sayang, temenin dulu."
"Katanya tadi berani." cibir Rania lalu memejamkan matanya tak peduli dengan gerutuan Revan.
"Setan sialan." ucap Revan dengan tangan merinding melihat bayangan itu masih saja mondar mandir didepan pintu balkon. Revan memunggungi pintu dan berusaha memejamkan mata. Dia benar benar ketakutan sekarang.
Sementara diluar, "Gimana? udahan ya... kayaknya den Revan udah tidur soalnya nggak denger suara jeritan lagi." kata Mang ujang yang sedang mengayun ayunkan bambu yang diatasnya diberikan boneka besar agar terlihat seperti orang berjalan.
Sementara Rian anak mang ujang terlihat sibuk mengaruk badanya yang gatal, "Aku nggak mau lagi pak naik ke atas pohon, banyak semutnya." keluh Rian yang berdandan ala kuntilanak.
Mang Ujang terkekeh "Nggak apa apa, besok kalau Bapak dapet bayaran dari Tuan Vano kita bagi dua."
Mata Rian langsung berbinar "Bener ya pak, awas kalau bohong."
Mang ujang tersenyum, mengingat apa yang Ia lakukan sekarang adalah perintah dari Tuan Vano.
Sementara dirumahnya Vano tersenyum puas melihat pesan dari Mang Ujang, "Rasain, dasar anak bandel bikin bunting anak orang." gumam Vano sambil terkekeh.
"Mas ngomong apa sih?" tanya Riska yang baru keluar dari kamar mandi.
"Nggak ngomong, lagi hafalan nama obat nih."
"Buruan sayang, udah nggak tahan nih." Vano menepuk nepuk kasur disebelahnya.
"Ck, dasar."
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN
__ADS_1
MAAF KALAU NGARET HEHE