DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
128


__ADS_3

Randi membukakan pintu mobil untuk Risha, keduanya kini sudah sampai didepan rumah Randi. Hari sudah mulai malam, dan mobil kedua orangtua Randi sudah terparkir digarasi yang berarti Mereka sudah pulang.


Awalnya Randi ingin mengenggam tangan Risha namun karena Risha menolak akhirnya Randi meminta Risha mengikuti langkahnya memasuki rumah.


"Waduh, ayunee... siapa ini den?" tanya Mbok Jum saat membuka kan pintu dan melihat Risha yang menunduk malu.


"Calon istri Randi dong mbok, cantik kan?" pamer Randi membuat Risha semakin tersipu malu.


"Ayuu tenan Den, duh si Anden pinter banget deh cari calon istri." puji Mbok Jum membuat Randi semakin tersenyum lebar.


"Papa sama Mama udah pulang kan Bi?" tanya Randi.


"Udah Den, lagi mandi kayaknya. tapi makan malam udah siap kok Den." kata Mbok Jum.


Randi hanya mengangguk lalu mengajak Risha memasuki rumahnya.


"Kamu duduk di sini dulu ya, aku mandi dulu." kata Randi yang langsung diangguki Risha.


"Mau aku ajakin nunggu dikamar tapi masih belum boleh ya." kata Randi sambil mengerling matanya nakal membuat Risha melotot sebal sementara Randi hanya terkekeh dan langsung pergi meninggalkan Risha.


Tak berapa lama Mbok Jum keluar membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan setoples kecil kue kering.


"Monggo Non, sambil nunggu pada selesai mandi." kata Mbok Jum.


"Makasih Budhe." balas Risha sopan yang langsung membuat Mbok jum terkekeh.


"Panggil Mbok Jum aja Non, jangan Budhe." pinta Mbok Jum membuat Risha tersenyum malu karena dirinya terbiasa memanggil wanita seumuran ayahnya dengan panggilan Budhe jika dikampungnya.


"Ya sudah di nikmati dulu ya Non, mbok mau ke belakang dulu." kata Mbok Jum.


Karena bingung akhirnya Risha mengikuti Mbok Jum ke dapur.


"Lho, ngapain Non kesini?" tanya Mbok Jum Heran.


"Aku ikut bantuin aja Mbok, kalau duduk malah bingung." jelas Risha sambil tersenyum.


"Ee jangan Non, nanti malah saya dimarahin sama Aden." kata Mbok Jum melarang Risha yang akan mengambil piring.


"Nggak apa apa mbok, dari pada cuma duduk malah jadinya sungkan." jelas Risha lagi.


"Eh siapa ini?" tanya seorang wanita yang masih terlihat cantik diikuti pria dibelakangnya yang juga masih tampan meskipun sebenarnya mereka sudah berumur.


Tangan Risha seketika bergetar, melihat penampilan Mama Randi yang terlihat glamour.


"Sa-saya..."

__ADS_1


"Dia calon mantu Mama." kata Randi membuat Risha langsung bernafas lega karena Randi datang.


Bianca dan Rangga menatap Randi melihat kejujuran dari ucapan Randi dan bergantian menatap Risha yang menunduk malu.


Dengan senyum mengembang, Bianca mendekati Risha, "Ini beneran calon mantu Mama?" tanya Bianca sambil merangkul Bianca.


"Iya dong Ma."


Rangga tersenyum ke arah Randi, "Pinter banget kamu cari jodoh." bisik Rangga sebelum akhirnya Ia duduk disalah satu kursi meja makan.


Randi tersenyum bangga mendengar ucapan sang Papa. sepertinya Risha memang pilihan yang tepat untuknya.


"Jadi kamu yang bekerja di kliniknya Vano?" tanya Bianca sambil melihat wajah cantik Risha penuh kagum.


"Iy-iya tante."


"Ya Ampun, jangan manggil tante sayang, panggil Mama aja kan sebentar lagi jadi mama kamu." kata Bianca sambil tertawa membuat Risha hanya tersenyum malu.


"Sudah Ma, jangan digodain terus. mendingan kita segera makan. Papa udah laper." ajak Rangga.


"Siap Pa." Bianca langsung mengandeng tangan Risha dan mengajak duduk untuk makan malam.


Awalnya Risha sangat sungkan dan takut namun melihat betapa baik dan ramahnya keluarga Randi, Ia sedikit lega dan bisa bersikap biasa.


Mereka mulai makan malam tanpa obrolan, karena memang dikeluarga Randi tidak ada yang obrolan jika sedang makan. Dan saat usai, Risha hendak membereskan piring kotor yang ada dimeja namun semua orang melarangnya.


"Masa calon mantu Mama disuruh cuci piring." kata Bianca.


"Nggak apa apa, saya sudah biasa." kata Risha sopan.


"Tapi kalau di sini tidak perlu melakukan itu karena sudah ada Mbok Jum yang bertugas membersihkan." kata Rangga membuat Risha akhirnya menurut.


Mereka bertiga akhirnya duduk diruang tengah,


"Jadi bagaimana? kapan kalian akan menikah?" tanya Rangga.


"Papa sama Mama merestui kami?" tanya Randi terlihat senang.


"Tentu saja merestui, jika saja bukan Risha yang kamu ajak pulang mungkin Mama nggak akan merestui." kata Bianca.


"Jadi lebih baik kalian segera menikah secepatnya, kalau perlu besok." kata Bianca.


"Secepat itu?" tanya Risha terkejut.


"Lebih cepat lebih baik kan? mengingat pekerjaan Randi sebagai artis, Papa nggak mau nanti ada berita aneh aneh lagi." kata Rangga membuat Risha hanya mengangguk.

__ADS_1


"Besok kita kerumah Risha ya Pah, buat lamar Risha." ajak Bianca yang langsung diangguki oleh Rangga.


"Yess, gue nikah." seru Randi membuat semua orang yang disana menatapnya heran.


"Nggak usah seneng seneng dulu kamu! ingat setelah menikah kamu sudah punya tanggung jawab nggak boleh main main lagi." kata Rangga mengingatkan.


"Iya, besok kalau Randi nakal bilang sama Mama biar Mama yang kasih hukuman ke dia." kata Biaca pada Risha.


"Ck, Mama sama Papa nggak percayaan amat sama anak. Randi kan sayang sama Risha nggak mungkinlah Randi nyakitin Risha." kata Randi membuat Risha tersipu.


"Terserah kamu, Papa hanya minta baiknya setelah menikah kamu berhenti saja jadi artis. cari kerjaan lain kalau kamu nggak mau nerusin perusahaan Papa."


"Papa nggak mau nanti rumah tangga kamu disorot dan jadi konsumsi publik." kata Rangga yang membuat Randi terdiam.


...


Setelah obrolan selesai kini Randi mengantar Risha ke kos karena sudah terlalu malam untuk pulang ke kampung. Lagi pula besok sebelum acara lamaran Risha ingin meminta cuti lebih dulu.


"Besok pagi aku anterin kamu." kata Rangga setelah keduanya hening cukup lama.


"Aku naik kereta aja nggak apa apa mas. baiknya mas bareng sama Papa mama." kata Risha.


"Nggak ada penolakan sayang, aku anterin pokoknya." kata Randi membuat pipi Risha memerah karena Randi memanggilnya sayang.


Mereka berdua kembali hening,


"Mas, apa nggak baiknya mas nurutin omongan Papa?" tanya Risha hati hati takut menyinggung perasaan Randi.


"Omongan yang mana?"


"Yang berhenti jadi artis." balas Risha membuat Randi menghela nafas panjang.


"Aku nggak akan maksa kalau mas nggak mau, aku cuma mikir omongan Papa ada benernya juga" kata Risha merasa tak enak.


"Aku pikirin lagi ya." kata Randi memaksakan senyumnya.


"Tapi kalau aku masih mau jadi artis, kamu masih mau kan sama aku?" tanya Randi membuat Risha tersenyum geli.


"Apapun yang mas lakuin selama itu halal aku mau kok." balas Risha membuat Randi lega.


"Rasanya pengen meluk kamu sekarang juga." kata Randi membuat Risha waspada langsung menyilangkan kedua tangan di dadanya untuk menghindari Randi.


Randi terkekeh "Tapi aku tau masih belum boleh, aku sabar kok."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2