
Sore ini Ander mengantar Eliya kerumah orangtuanya untuk mengambil barang barang Eliya yang ada disana. Setelah siang tadi mereka sudah puas berjalan jalan dan makan apapun yang di inginkan Eliya.
Sesampainya di rumah, Mereka berdua disambut hangat oleh Ayah dan Bunda.
"Rasa rasanya ada yang baru baikan Yah." sindir Bunda yang membuat Eliya tersipu malu, sementara Ander hanya tersenyum menampilkan gigi putihnya.
Eliya naik ke atas kamarnya untuk mengemasi barang barangnya dibantu Bunda dan kini Ander sedang duduk bersama Ayah Sandi.
"Jadi kesalahpahaman kalian sudah clear?" tanya Sandi yang tentu saja membuat Ander terkejut.
"Ayah tau?"
Sandi mengangguk "Apa sih yang tidak ku tahu dari kalian."
Ander menatap ke arah Sandi sebal, jika tahu kenapa tidak membantu mereka malah membiarkan saja batin Ander.
Seolah tau apa yang sedang di pikirkan Ander, Sandi terkekeh, "Sebenarnya aku ingin membantu kalian waktu itu namun Dad mu laj yang melarang."
"Dad?" Sandi mengangguk.
"Dad mu hanya ingin kalian menyelesaikan masalah kalian sendiri agar kalian bisa lebih dewasa dan matang dalam menjalani rumah tangga."
Ander hanya berdecak sebal.
"Tadi nya aku takut jika kamu menyakiti Eliya, tetapi malah sebaliknya. kau jatuh cinta pada Eliya." kata Sandi dengan nada mengejek.
"Ck, bagaimana jika sampai aku belum bisa jatuh cinta? bukan nya malah akan menyakiti Eliya yang salah paham?" tanya Ander dengan nada sebal.
"Jika kau sampai menyakiti Eliya, tentu kau akan berurusan dengan ku, dengan Dad mu." kekeh Sandi membuat Ander semakin sebal.
Para orangtua memang menyebalkan, batin Sandi.
"Jangan memandangku seperti itu, ingatlah aku ini ayah mertua mu." ejek Sandi.
"Ya ya, Ayah mertua yang menyebalkan." ketus Ander membuat Sandi semakin terbahak.
Sandi menghentikan tawanya, "Sekarang kupercayakan putriku satu satunya untukmu. jangan mencoba menyakitinya lagi. karena jika sampai itu terjadi aku tak akan membiarkan nya."
"Aku akan selalu memantau mu." kata Sandi membuat Ander memutar bola matanya malas.
"Tentu saja aku tak akan bertingkah, mana berani aku bertingkah jika ayah mertua ku saja tukang penguntit." giliran Ander yang mengejek namun nyatanya malah membuat Sandi semakin terbahak.
"Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Eliya yang baru saja datang menyeret koper. Eliya lantas duduk disamping Ander.
"Hanya obrolan dua pria dewasa." kata Ander.
"Mana bisa kau menyebut dirimu pria dewasa." protes Sandi membuat Ander kembali menatap Sandi sebal.
"Tentu bisa, aku bahkan sudah memberikan calon bayi di perut putrimu, apa itu masih belum bisa disebut pria dewasa?" kesal Ander.
__ADS_1
"Bocah saja sekarang sudah banyak yang pintar menghamili wanita, apa mereka juga sudah dewasa." Sandi tak mau kalah.
"Sudah sudah, berhenti mengoda Ander Ayah." Nisa baru datang membawa 3 cangkir teh hangat.
"Kalian makan malam di sini ya, Bunda sudah masak banyak hari ini." kata Nisa yang kini duduk disamping Sandi.
"Pulang saja, makan malam dirumah." bisik Ander yang sepertinya sudah malas berada di sini.
"Kalian harus makan malam di sini, kasian Bunda kalian sudah masak banyak untuk kalian." kata Sandi terdengar mengejek Ander.
"Tumben Bunda masak banyak?" tanya Eliya.
Sebenarnya Eliya ingin menuruti keinginan Ander untuk segera pulang namun mengetahui Bunda masak banyak tentu Eliya tak mungkin membiarkan Ayah dan Bunda menghabiskan sendiri.
"Kata Ayah, kalian akan datang berdua jadi Bunda masak banyak, eh ternyata bener." jelas Bunda membuat Eliya mengeryit heran sementara Ander sudah tak heran lagi.
"Kok Ayah tau?"
"Apa sih yang nggak Ayah tau." kata Sandi dengan nada sombong membuat Ander memutar bola matanya malas.
"Dasar penguntit." batin Ander kesal.
Dengan terpaksa Ander akhinya menuruti keinginan Bunda Nisa untuk makan malam disana.
Meski kesal karena Ayah Sandi yang terus saja mengoda nya, Ander sama sekali tak mengubrisnya hingga makan malam berakhir.
"Apa kamu kesal dengan Ayah?" tanya Eliya saat keduanya sudah berada didalam mobil untuk pulang ke apartemen.
Eliya tersenyum, "Kau terlihat kesal,"
"Ayah memang seperti itu, suka bercanda." jelas Eliya.
Ander menghela nafas panjang, "Kamu hanya belum tau saja ayahmu seperti apa." batin Ander.
"Apa ingin makan sesuatu lagi?" tanya Ander mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja tidak, aku sudah sangat kenyang, lebih baik kita segera pulang. aku lelah."
"Baiklah Tuan putri," balas Ander membuat Eliya terkekeh.
...
Revan memasuki apartemen Randi, Ia langsung berjalan menuju kamar Randi dan melihat Randi yang sudah terlelap segera Revan mengambil posisi tidur disamping Randi dan memeluknya.
Randi yang masih setengah sadar awalnya mengira Revan adalah guling namun saat sudah benar benar sadar dan melihat ternyata Revan, segera Randi mendorong Revan hingga jatuh ke bawah.
"Anjir... gila Lo ya?" sentak Revan memeganggi kepalanya.
"Abis Lo kayak setan, tiba tiba nonggol." balas Randi santai.
__ADS_1
"Gue mau nginep sini." Revan kembali berbaring di samping Randi.
"Sadar diri dong, tidur di sofa sana."
"Ogah, sini aja masih longgar." Revan pura pura memejamkan mata membuat Randi kesal.
"Lagi ribut sama bokap nyokap?" tany Randi karena tak biasanya tidur di apartemen nya.
Revan hanya menggeleng pelan namun masih memejamkan mata.
"Trus kenapa? kalau ribut sama cewek Lo nggak mungkin kan Lo nggal punya cewek." ejek Randi membuat Revan kesal dan melempar bantal ke wajah Randi.
"Sialan Lo, udah numpang juga." Randi kesal namun seketika Ia terkekeh melihat Revan yang biasanya cengengesan kini terlihat sensitive.
"Nggak usah banyak bacot, tidur aja!" ketus Revan kembali memejamkan mata.
"Gue baru pulang, capek, ngeliat Lo di sini bikin tambah capek." keluh Randi yang tak di gubris Revan.
"Oh ya Gue mau cerita, tadi gue pulang dari club nggak sengaja lihat Rania masuk club." Mendengar nama Rania, Revan seketika membuka matanya dan bangun.
"Gue nggak nyangka Rania ternyata ce-"
"Club mana?"
"Kenapa? masih naksir Lo?" ejek Randi.
"Nggak usah banyak bacot! club mana?"
"Anjir, galak bener."
Karena kesal, Revan bahkan menarik kerah baju tidur Randi.
"Santai bos... santai." Randi terkekeh.
"Di club depan hotel matahari, Lo mau nyam-"
Belum sempat Randi menyelesaikan ucapan nya, Revan sudah bangkit dan berlari keluar kamar Randi.
"Sialan tuh bocah ... bisa bisanya langsung pergi cuma gegara cewek." kesal Randi.
Sementara Dibawah, Revan segera melajukan mobilnya menuju Club malam yang di maksud Randi.
"Bener bener tuh cewek... bisa bisa nya dia datang ke tempat itu."
Ingin rasanya Revan tak ingin peduli, namun sepertinya mulai sekarang Revan harus dan wajib peduli karena Rania wanita pertama untuknya dan mungkin akan menjadi wanita terakhir untuknya.
Apalagi.mengingat kemarin dirinya pria pertama yang menyentuh Rania, tentu Ia tak akan melepaskan Rania semudah itu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen...