
Setelah semalam sempat ada drama, kini baik Eliya maupun Ander sama sama bangun kesiangan.
Eliya yang baru saja selesai mandi tak menemukan Ander diranjangnya padahal sebelum Eliya memasuki kamar mandi, Ander masih terlelap diranjangnya.
Baru saja Eliya selesai mengenakan baju, Ander memasuki kamar sambil membawa bungkusan plastik kecil berwarna hitam.
"Aku baru saja meminta Ran membeli ini." kata Ander membuat Eliya penasaran.
"Apa itu?"
Eliye menerima kantong plastik itu dan membukanya. betapa terkejutnya Eliya saat melihat isi plastik itu.
"Tespack?"
Ander mengangguk, "Coba pakai. kita sudah menikah sebulan dan selama itu kita selalu berhubungan."
"Kata Mom, apa yang aku alami akhir akhir ini bisa jadi tanda kehamilanmu."
"Ta-tapi... bagaimana bisa kamu yang merasakan?" Heran Eliya yang belum mengetahui banyak tentang kehamilan.
"Ck, aku juga tidak tau. pakai saja."
Eliya mengangguk paham, "Bagaimana caranya?"
"Lihat saja dalam kemasan biasanya ada keterangannya."
Eliya mengangguk lagi dan berbalik menuju kamar mandi.
"Mau ku temani?"
"Tidak, jangan. biar aku sendiri saja." Eliya buru buru masuk dan menutup pintu membuat Ander terkekeh.
"Apa yang dia takutkan, setiap malam aku juga sudah melihatnya." gumam Ander masih terkekeh.
Eliya membolak balikan kemasan tespack, ada 5 tespack dengan merek berbeda yang keterangan nya sama saja. Akhirnya Eliya membuka salah satu dan mengikuti intruksi dari tespack itu.
Satu menit dua menit, Eliya menunggu sambil memejamkan mata. Ia sungguh sangat gugup.
Dua garis...
Eliya terpaku menatap tespack yang ada ditangan nya. Ia kembali melihat keterangan di tespack yang menjelaskan jika garis dua berarti hamil.
"Benarkah?" gumam Eliya mengelus perutnya yang masih rata.
"Benarkah akan ada bayi di sini."
Karena masih ragu dan takut kecewa, Eliya kembali mengunakan tespack yang lainnya dengan merek berbeda.
Dan hasilnya kelima tespack yang di gunakan Eliya bergaris dua.
Eliya tersenyum bahagia, meskipun Ia sendiri masih belum mengetahui bagaimana perasaannya pada Ander yang pasti sekarang sudah ada benih cinta mereka berdua.
Eliya hanya berharap hanya kebahagiaan yang datang pada rumah tangganya setelah kehadiran calon baby mereka.
Eliya segera keluar dari kamar mandi, Ia tak sabar melihat bagaimana reaksi Ander mengetahui dirinya hamil.
__ADS_1
"Bagaimana?" Ander sudah berdiri didepan pintu kamar mandi menunggu Eliya keluar.
Eliya segera memberikan kelima tespack pada Ander membuat Ander mengerutkan keningnya.
"Apa artinya garis dua ini?"
"Aku hamil." ucap Eliya tersenyum bahagia.
Dengan jantung berdegup, Eliya menunggu respon dari Ander.
Satu detik, dua detik dan akhirnya Ia melihat Ander tersenyum lebar lalu mengelus perutnya.
"Benarkah ada baby kita di dalam sini?" tanya Ander yang membuat hati Eliya menghangat.
Eliya mengangguk, "Apa kamu bahagia?"
Ander segera merengkuh Eliya dalam pelukan nya, "Tentu saja aku bahagia sayang." Senyum licik Ander dibalik pelukan Eliya.
"Dan semua akan segera berakhir." batin Ander tersenyum puas.
Berbeda dengan Eliya yang merasakan sangat bahagia. keluarga kecil mereka sebentar lagi akan lengkap dengan kehadiran malaikat kecil yang masih ada diperutnya. semoga selalu seperti ini batin Eliya.
...
"Kita tidak jadi honeymoon?" Eliya cukup terkejut dengan pernyataan Ander saat keduanya tengah makan malam. Ander yang tiba tiba ingin mengembalikan tiket honeymoon pemberian dari Dad Alex.
"Mau bagaimana lagi? kamu sudah hamil dan masih hamil muda. katanya jika hamil muda masih rentan dan aku tidak mau terjadi apapun." kata Ander cuek.
"Ta-tapi aku ingin pergi." sudah lama sekali Eliya tidak pergi berlibur dan Eliya memang sudah menanti saat mereka akan honeymoon yang sudah disepakati setelah resepsi namun sekarang semua keinginan Eliya itu pupus.
Oh tidak, Ander marah. Eliya segera menunduk.
"Terserah kamu saja. jika memaksa ingin pergi akan kuturuti tapi jika terjadi sesuatu pada Baby kita, itu salahmu!" Ander bangkit dan segera meninggalkan meja makan membuat Eliya semakin merasa bersalah.
"Bukan itu maksudku. kenapa harus semarah itu." gumam Eliya sedih.
Ander menutup pintu kamar sekeras mungkin agar Eliya tau jika dirinya sedang marah. dan didalam kamar Ia tersenyum puas karena berhasil membuat Eliya kecewa.
"Dan sebentar lagi kamu akan merasakan kecewa lebih dari ini." gumam Ander senang.
Ander segera berbaring di ranjang memunggungi Eliya, tak berapa lama Eliya memasuki kamar dan berbaring disampingnya.
"Maaf, maafkan aku." lirih Eliya namun Ander masih tak bergeming.
"Aku memang egois, sekali lagi maafkan aku."
Entah mengapa mendengar suara Eliya yang hampir menangis membuat Ander tak tega lalu membalikan badan menatap Eliya.
"Maafkan aku." ucap Eliya dengan mata memerah.
Ander menghela nafas lalu memeluk Eliya, Entah apa yang Ia lakukan ini namun Ia benar benar tak tega melihat raut wajah Eliya yang hampir menangis.
"Besok pagi sebelum berangkat kerja kita periksa dulu, okey." ajak Ander membuat Eliya mengangguk senang karena Ander sudah tidak marah lagi padanya.
Dan paginya, sebelum berangkat ke kantor dan ke toko, Mereka berdua menyempatkan periksa kandungan di klinik yang cukup terkenal bagus.
__ADS_1
"Wah pasangan baru menikah ya?" tanya dokter bernama Clara itu.
Baik Ander dan Eliya hanya mengangguk dan tersenyum.
"Pasti bahagia ya baru menikah sudah hamil."
"Periksa saja dokter jangan terlalu banyak bicara." Entah apa yang merasuki Ander hingga Ia bisa berbicara seketus itu membuat Eliya merasa tak enak.
"Maafkan suami saya dok." kata Eliya saat Dokter Clara sedang berada diruangan periksa bersama Eliya.
Dokter Clara hanya tersenyum "Tidak masalah, aku sudah biasa menghadapi orang orang seperti itu."
"Tapi, tidak biasanya dia bersikap kasar seperti itu." Eliya masih membela Ander.
"Mungkin mood nya sedang buruk." kata Dokter Clara.
"Apa dia masih marah tentang semalam." batin Eliya.
"Jangan lupa makan banyak sayur dan buah, dan yang paling penting jangan terlalu banyak pikiran karena usia kandungan masih sangat rentan." kata Dokter Clara sebelum mereka pergi dari klinik.
Didalam mobil, keduanya saling diam hingga Eliya memberanikan diri bertanya pada Ander.
"Kenapa harus bersikap seperti itu?"
"Aku tidak suka, dia terlalu banyak bicara!"
"Tapi tidak seharusnya kamu seperti itu."
Ander tak menjawab hanya diam saja, kini giliran Eliya yang kesal.
Sesampainya di toko, Eliya segera keluar tanpa mencium tangan Ander.
"Hey dia belum mencium tanganku!" kesal Ander yang sudah terbiasa dengan kebiasaan Eliya.
"Turun saja Tuan, minta Nona melakukannya." kata Ran yang mengetahui Tuan dan Nona nya sedang bertengkar.
"Kau memerintahku!" ketus Ander.
"Ti-tidak Tuan, saya kan hanya memberi solusi."
"Sudahlah, segera kita ke kantor."
"Baik Tuan."
"Dasar bucin." batin Ran.
Bersambung...
Haloo semuanya....
sekali lagi aku mau ngingetin, aku buat cerita ini agak santai alurnya jadi kalau kalian nunggu konflik sabar yaa...
Orang sabar disayang Tuhan😁
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1