
Paginya sepulang dari klinik Randi langsung bergegas menuju kantor Ander. Ia melirik jam ditangan nya dan masih memiliki 2 jam untuk menemui Ander sebelum jadwal pemotretannya.
"Tumben pagi pagi dah kesini?" tanya Ander menatap Randi dengan wajah heran saat Ia memasuki ruangannnya.
"Ada hal penting yang mau gue omongin."
"Penting banget pasti ini." Ander mulai duduk disamping Randi.
"Masalah apa?"
"Revan mau nikah sama Rania."
"What?" Ander menyadarkan bahunya disofa, "Udah gue duga."
"Lo tau?"
"Kemarin siang gue kesana ada tuh cewek." jelas Ander "Gue lihat mereka ngomongnya memang serius banget. nggak nyangka aja ternyata mereka ngomongin masalah nikah."
"Katanya Rania hamil." kata Randi.
"Brengsek banget tuh cewek! mentang mentang si Revan demen mau dikibulin."
"Gue setuju, gue juga yakin itu pasti bukan anaknya Revan. Gue pernah liat dia masuk hotel sama cowok." ungkap Randi sedikit mengebu membuat Ander mengepalkan tangannya.
"Mau telepon siapa?" tanya Randi saat melihat Ander menghubungi seseorang.
Bukan nya menjawab, Ander hanya menempelkan jari di bibirnya agar Randi diam.
"Cari tau tentang pria mana saja yang dekat dengan wanita yang ku kirim lewat emailmu. aku ingin kau segera menemukan sore ini." kata Ander lalu mematikan panggilan.
"Lo pake nyewa orang?"
Ander mengangguk, "Cara termudah, kenapa?" Ander terkekeh menatap Randi yang terkejut.
"Horang kaya mah bebas ya."
Ander hanya tertawa.
....
"Makan yang banyak biar cepet sembuh." kata Riska yang sedang menyuapi makan siang untuk Revan.
"Mah, cewek yang datang kesini kemarin gimana?"
Riska mengerutkan keningnya "Cewek yang mana?"
__ADS_1
"Ck, masa mama lupa sih. yang kemarin jenguk Revan." jelas Revan dan barulah Riska paham orang yang dimaksud Revan.
"Hmm, cantik sih. kayaknya baik juga ya." kata Riska yang langsung membuat Revan senang.
"Kenapa? kamu suka?" tanya Riska melihat putranya begitu bahagia.
"Boleh nggak mah Revan suka sama Rania?" tanya Revan dengan hati hati.
"Oh, jadi namanya Rania. Emm gimana ya? Mama sih terserah kamu aja. yang ngejalanin kan kamu." kata Riska.
"Mama nggak akan maksain sesuatu yang bukan pilihan kamu. Kamu berhak bahagia dengan pilihan kamu sendiri."
"Jadi Mama setuju kalau Revan pengen serius sama Rania?" tanya Revan lagi dan kali ini membuat Riska menatap Revan tak percaya.
"Apa mama sudah ketinggalan jauh? memang sejauh apa hubungan kalian?" tanya Riska menatap putranya yang kini menjadi salah tingkah.
"Egh, emm... bingung juga mau jelasin dari mana."
Riska tersenyum hangat, "Nunggu kamu sembuh dulu baru kita bicarain sama Papa, enaknya gimana." kata Riska membuat Revan sedikit tenang. Pasalnya Revan sebenarnya takut menjelaskan semuanya pada Mama dan Papanya. Takut jika Revan malah mengecewakan kedua orangtuanya. dan tentu akan mengecewakan. sangat mengecewakan.
"Jelasin apa sih? lagi pada ngomongin apa?" tanya Vano yang tiba tiba masuk keruangan Revan.
Revan mengedipkan sebelah matanya pada Riska agar Riska tak memberitahu Papanya sebelum sembuh.
"Oo jadi mau main rahasia nih sama Papa?"
"Udah belum nyuapin Revan? gantian Papa lah. udah ditunggu dari tadi juga." kata Vano membuat Revan melirik sebal ke arah Vano.
"Papa rese banget sih. kalau siang kan Mama waktunya buat Revan masih aja digangguin sama Papa."
"memangnya semalem masih kurang Pa?" kata Revan dengan nada kesal.
Vano terkekeh, "Papa kalau sama Mama selalu kurang lah. lagian kamu ini udah gede ngapain minta disuapin."
"Tangan aku masih sakit Pa."
"Manja." ejek Vano.
"Mas, udahlah. kamu nih lama lama kayak bocil." Riska ikut menatap kesal Vano.
"Bocil gini juga bisa bikin kamu mendesah tiap malam."
"Massss...."
....
__ADS_1
"Kalau mau makan tuh gini mas," Riska memperagakan cara makan sendiri mengunakan sendok.
"Gini masih nggak bisa? masih minta disuapin?"
Vano terkekeh mendengar kekesalan istrinya itu.
Vano memang sengaja mengoda Riska agar Riska menemaninya makan siang, Ralat menyuapi Vano makan siang. Entahlah jika berada didekat Riska memang membuat Vano bertingkah manja.
"Aku nggak suka wortel sayang, kenapa malah disuapin wortelnya terus sih." protes Vano.
"Biarin, biar mata mas sehat." ketus Riska.
'Kamu nggak takut? kalau mataku sehat trus ngelirik wanita wanita cantik." goda Vano yang langsung membuat Riska melotot.
"Coba aja kalau berani."
"Ampun nyai. mana mungkin kakanda berani." ucap Vano yang langsung saja membuat Riska tak bisa menahan tawanya.
Entahlah, suaminya memang bisa membuatnya awet muda. Kadang membuatnya kesal namun tak berapa lama langsung membuat tertawa.
"Mas kenal sama yang kemarin jenguk Revan?" tanya Riska mulai serius.
"Yang mana?"
"Yang cewek cantik kemarin itu loh."
Vano mengangguk, "Dulu pasienku. lemah jantung."
Riska cukup terkejut, "lemah jantung?"
Vano mengangguk,
"Bahaya nggak mas?"
"Bahaya gimana? ya bahaya lah. cuma kalau orangnya kuat mungkin bisa sembuh perlahan tapi kemungkinan tipis."
"Kenapa sih Ma?" heran Vano.
"Revan kayaknya suka deh mas sama dia."
Vano hanya diam saja,
"Mas, kok malah diem sih!" protes Riska.
"Nggak, Papa nggak setuju."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...