
Eliya mengguyur tubuhnya dibawah air shower dingin. Ia benar benar ingin mendinginkan kepalanya yang mendidih karena ulah Ander yang sekarang gemar sekali mencium nya tiba tiba membuat dirinya gugup dan hanya bisa pasrah menikmati.
Setelah berciuman di walk in closet, Ander ingin meminta lebih namun Eliya segera kabur memasuki kamar mandi dan berakhirlah dirinya di sini.
"Sayang, kau melupakan handuk dan Jubah mandimu lagi." teriak Ander sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Sial, aku tidak membawanya lagi." kesal Eliya pada dirinya sendiri karena lagi lagi Ia tak membawa jubah mandinya.
"Basah lagi." gerutu Eliya melihat baju yang baru saja Ia pakai sudah basar terciprat air shower.
Selesai mandi, Eliya membuka sedikit pintu dan hanya kepalanya saja yang keluar,
"Berikan jubah mandi ku." pinta Eliya.
"Biarkan aku masuk sayang." kata Ander dengan tatapan nakal.
Eliya hanya menghembuskan nafas lelah, "Jangan sekarang, aku mohon! aku benar benar belum siap!"
"Kau tidak punya pilihan."
"Dan kau tak bisa memaksa, jadi mengertilah." kata Eliya membuat Ander mengalah dan memberikan jubah mandi nya pada Eliya.
"Sial, kenapa juga aku harus menuruti dia, seharusnya aku langsung masuk saja dan meminta hak ku!" kesal Ander saat setelah pintu kamar mandi kembali tertutup.
Eliya keluar dari kamar mandi dengan dua tangan yang memegang erat tali jubah mandi nya agar tak terlepas, takut jika Ander kembali menciumnya dan melepas jubah mandi nya lalu melihat tubuh polos Eliya, tidak! jangan sampai itu terjadi.
Namun saat keluar, Eliya malah tak menemukan Ander disana.
"Dimana dia?" batin Eliya.
Eliya mengelilingi kamar dan tak menemukan Ander, Ia akhirnya segera mengganti baju agar bisa keluar mencari pria mesum itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Eliya kala mendapati Ander berada di ruang tengah sedang memainkan ponselnya sambil berbaring disofa.
Hening, tak ada jawaban dari Ander membuat Eliya mengerutkan keningnya heran.
"Apa kau marah?" tanya Eliya.
Lagi, Ander tak menjawab.
Karena kesal, Eliya akhirnya meninggalkan Ander menuju dapur untuk mencari sessuatu yang bisa dimasak, namun sayangnya kulkas masih kosong tak ada apapun disana.
__ADS_1
Dengan langkah berat, Eliya kembali menghampiri Ander.
"Ayo kita belanja, tak ada bahan makanan sama sekali di kulkas." ajak Eliya namun Ander sama sekali tal bergeming.
Eliya memutar bola matanya malas, Lalu Ia ikut duduk disofa, "Apa kau marah sayang?" goda Eliya yang lagi lagi membuat Ander tak bergeming.
"Kau marah sayang?" tanya Eliya sekali lagi namun Eliya berani mengelitiki Ander hingga membuat Ander mencekal tangan nya dan menatap ke arahnya.
Tadinya Eliya pikir Ander akan menciumnya seperti tadi namun Eliya salah karena Ander segera berajak dan mengatakan "Aku antar jika ingin belanja." kata Ander dengan nada dingin.
Eliya hanya bisa melonggo dan merasa malu sendiri karena mengira Ander akan menciumnya.
"Ada apa dengan pria itu?" batin Eliya kesal.
Karena mobil Ander masih berada di mansion Alex, Keduanya pergi ke supermarket dengan memesan taksi online.
Sesampainya disupermarket, Ander membantu mendorong troli sementara Eliya sibuk memilih bahan makanan apa saja yang Ia beli.
"Apa yang kau sukai?" tanya Eliya "Aku bisa memasak apapun."
Ander hanya menatap malas Eliya "Beli saja apapun yang kau suka dan segera pulang."
Lagi lagi Eliya di buat melonggo dengan ucapan Ander,
Setelah ucapan Ander yang menyebalkan itu, Eliya sama sekali tak mengajak Ander berbicara bahkan sepanjang perjalanan pulang mereka saling diam.
Sesampainya diapartemen, Ander langsung memasuki kamarnya sementara Eliya sibuk di dapur untuk memasak makan malam.
Beruntung Eliya sempat tinggal bersama Neneknya karena disana Ia bisa menjadi mandiri dan sekarang bisa mengolah makanan apapun.
Makan malam sudah siap, Namun Ander masih juga belum keluar kamar. awalnya Eliya ingin mengacuhkan saja namun entah dorongan dari mana Eliya akhirnya memasuki kamar untuk mengajak Ander makan malam.
Eliya memasuki kamar berbarengan dengan Ander yang baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya melilitkan handuk di pinggangnya hingga terlihat otot kekar milik Ander yang sungguh mengoda mata Eliya.
Ander hanya melewatinya, tak mengubris Eliya yang berdiri disana.
"Makan malam sudah siap, aku tunggu diluar." kata Eliya segera keluar tanpa menunggu jawaban dari Ander karena Ia sendiri tak ingin terlalu lama mengaggumi punggung kekar berotot milik Ander.
"Dasar pria menyebalkan!" gerutu Eliya saat menutup pintu.
Eliya duduk lebih dulu sambil menunggu Ander dimeja makan. Tak berapa lama Ander datang dan lagi lagi dengan wajah acuhnya.
__ADS_1
"Ingin ku ambilkan apa ambil sendiri?" tanya Eliya.
Tanpa menjawab, Ander memberikan piring kosong pada Eliya yang artinya Ingin diambilkan oleh Eliya.
Eliya segera meladeni suaminya yang sedang mode marah itu.
Namun lama lama Eliya tak tahan juga, menatap wajah acuh Ander.
"Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Eliya yang sudah gatal ingin menanyakan itu sedari tadi.
"Aku? aku kenapa?" Balas Ander acuh dengan memasang wajah menyebalkan.
Eliya semakin kesal saja "Kau itu kenapa? marah karena aku menolakmu tadi?"
"Semua suami pasti akan marah dan kecewa jika istrinya menolak permintaan suaminya, maka dari itu dalam agama pun menjadi dosa besar jika istrinya menolak suaminya." jelas Ander membuat Eliya tercenggang.
"Apa dia sedang menceramahi ku sekarang?" batin Eliya menatap Ander tak percaya.
"Ak-aku, bukan nya aku menolak hanya saja aku masih belum siap." jelas Eliya.
"Apa yang membuatmu belum siap?"
"Kau tau, kita tidak dekat sebelumnya dan sekarang tiba tiba harus menikah seperti ini, aku takut jika nanti kita memiliki anak dan kita tak saling mencintai, aku takut kau akan meninggalkan kami." jelas Eliya dan kali ini Ander lah yang dibuat terkejut oleh ucapan Eliya.
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?"
"Aku sering melihat sinetron di Tv dan semuanya menceritakan seperti itu. jadi aku benar benar takut." jelas Eliya yang langsung membuat Ander terkekeh.
"Jadi kau ini korban sinetron emak emak?" ejek Ander.
"Hey, aku hanya berjaga jaga saja. setidaknya kita ini harus saling mencintai untuk membangun rumah tangga yang sehat." protes Eliya.
"Terserah kau saja." balas Ander langsung meninggalkan meja makan.
"Astaga, apa pria itu masih marah setelah ku jelaskan? apa dia masih belum mengerti juga?"
Sementara Ander menutup pintu kamar sedikit keras,
"Apa dia pikir sedang bermain sinetron? mengapa harus menyamakan ini semua dengan sinetron!" gerutu Ander menjatuhkan bokongnya di ranjang.
"Dan kenapa pula aku harus sekesal ini? apa aku sudah jatuh cinta padanya? oh ayolah Ander, apa kau melupakan rencanamu!" gumam Ander sambil memukuli pipinya dengan tangan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
like vote dan komen yuuuuuuu....