DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
50


__ADS_3

Ander berjalan memasuki sebuah kafe yang tidak terlalu ramai sore ini. Setelah fitting baju pengantin dan makan siang bersama, Ander meminta ijin pada Eliya untuk berkumpul bersama kedua adiknya karena sudah lama Ia tak menemui adiknya itu.


Dan beruntung Eliya memahami dan tidak mempermasalahkan itu. Dan berakhirlah Ander di sini, duduk diantara dua pria yang menatapnya penuh heran ke arahnya.


"Siapa sih ni orang, nggak kenal kok duduk sini." cibir Revan dan Randi hanya terkekeh.


"Kita maklumi aja, dia lagi anget angetnya punya istri jadi wajar kalau kita dilupakan." Randi ikut nimbrung.


Ander hanya membalas dengan senyuman sinis, Ia mengambil satu batang rokok dan menyalakan lalu menghisap rokok itu penuh perasaan.


"Kenapa istri nggak diajak?" tanya Randi.


"Nggak takut nanti nggak dapet jatah?"


Ander hanya membalas dengan kekehan,


"Udah mulai jatuh cinta sama si ugly? ups bukan ugly kan sekarang udah berubah jadi beautiful!" ejek Revan membuat Ander mendesis kesal.


"Gimana nggak jatuh cinta, tiap hari dapet jatah." Randi tak mau kalah.


Sementara Ander mematikan rokoknya yang masih separuh di asbak, lalu tersenyum sinis ke arah dua adiknya yang mengejeknya sedari tadi.


"Kalian nggak tau apa yang gue rencanain." kata Ander dengan nada santai.


Randi terkejut "Lo nggak akan nerusin bales dendam kan?"


Ander kembali terkekeh "Nggak perlu gue jawab kalian pasti udah tau jawabannya."


"Gila..."


"Brengsek!"


Ander kembali tertawa mendengat umpatan dua adiknya itu.


"Lo itu udah nikah, dia juga udah elo tidurin. bisa bisanya masih ada pikiran buat bales dendam."


"Ayolah Brother, jangan kekanakan. semua udah berlalu lama." kata Randi dengan nada dewasanya.


"Emangnya apa rencana Lo?" tanya Revan penasaran.


Ander tersenyum membayangkan rencana nya yang sudah berjalan apik, "Gue cuma mau buat dia jatuh cinta, bertekuk lutut sama gue habis itu... gue buang."


"Gila! Lo udah nikah bukan pacaran lagi. gimana bisa masih mau lanjutin rencana brengsek Lo itu!" kata Randi dengan nada kesal.


"Jangan lupakan apa yang udah dia lakuin ke kita dulu!" geram Ander.


"Semuanya hanya salah paham man, ayolah jangan jadi brengsek!"


Andeer hanya tersenyum masam,

__ADS_1


"Gimana kalau sampai Eliya nanti hamil? apa Lo juga tega mau ninggalin dia?" tanya Revan.


"Begitu malah lebih bagus, biar dia lebih menderita lagi." balas Ander santai.


"Gila, nggak waras!" umpat Revan mulai tak terima.


"Gue pastiin Lo udah jatuh cinta sebelum niat busuk Lo berhasil."


Sontak ucapan Randi membuat Ander terbahak, "Itu nggak akan mungkin."


"Let time answer, biar waktu yang menjawab semuanya."


"Dan gue pastiin Lo nyesel udah punya niat kayak gini." kata Randi langsung meninggalkan Ander dan Revan.


"Bener kata Randi, nggak seharusnya Lo sampai kayak gini, coba aja dulu Eliya tau apa yang kita lakuin dulu pasti dia juga nggak akan ngad-"


"Eh ada Ander, tumben ikut nongkrong." suara wanita dari belakang Ander membuat ucapan Revan terpotong.


Wanita yang tak lain adalah Rania itu duduk disamping Ander lalu memberika kode mata pada Revan yang masih disana.


Dengan raut wajah malas, Revan bangkit dari duduknya "Gue ke kamar mandi dulu."


Revan pergi meninggalkan Ander dan Rania.


"Congrats." Rania mengulurkan tangannya pada Ander membuat Ander menatapnya penuh keheranan.


"Buat apa?"


"Datang aja." Ander mengulurkan sebuah undangan pada Rania.


"Aku masih nggak nyangka kamu bakal nikah secepat ini, apa kamu bahagia?" tanya Rania.


Ander hanya mengangguk malas, dalam hatinya Ander mengumpat karena kedua adiknya meninggalkan dirinya dengan Rania.


"Apa kalian sudah lama berpacaran?" tanya Rania kepo.


"Sejak sekolah."


Rania terkejut, "Tapi bukannya kamu dulu bilang tak memiliki kekasih?" tanya Rania.


"Aku hanya tak ingin mengumbar hubungan ku dengannya."


"Benarkah?" tanya Rania dengan nada tak percaya.


Ander mengangguk lalu Ia bangkit dari duduknya "Katakan pada Revan dan Randi jika aku pulang lebih dulu. aku tak ingin membuat istriku menunggu." Ander segera pergi meninggalkan Rania tanpa menunggu balasan Rania.


Rania mengepalkan tangan nya, Ia benar benar merasa sakit hati dengan Ander. Rania mengambil sebuah benda kecil yang menempel di meja lalu meninggalkan meja dengan perasaan kesal.


"Kenapa cepat sekali? mana Ander?" tanya Revan saat berpapasan dengan Rania.

__ADS_1


"Bukan urusan Lo!" ketus Rania melanjutkan langkahnya meninggalkan Revan yang melonggo.


"Dasar cewek aneh."


....


Ander memasuki apartemen, Ia melihat Eliya yang terkejut melihatnya.


"Katanya mau nongkrong? kenapa cepat sekali?" heran Eliya.


"Aku pikir kamu akan senang melihatku pulang lebih cepat." gerutu Ander membuat Eliya terkekeh.


"Tentu saja aku senang, hanya merasa aneh saja. aku pikir kamu akan pulang larut malam."


"Mana mungkin aku membiarkan istriku merasa kesepian di sini." Ander memeluk Eliya dan menciumi leher istrinya.


"Ck, biasanya juga pulang tengah malam." cibir Eliya kini giliran Ander yang terkekeh.


"Aku mau mandi." kata Ander manja.


"Ya sudah sana mandi, aku akan menyiapkan makan malam."


"Bagaimana jika makan malam dulu di kamar mandi?" bisik Ander membuat Eliya meremang.


"Aku sudah mandi, aku tidak mau mandi lagi!"


"Ayolah sayang, kita cari suasana baru hmm." Ander memasang wajah memohon membuat Eliya tak tega dan akhirnya menuruti hasrat suaminya itu.


Mereka melakukan aktifitas panas di kamar mandi, dilanjutkan dimeja makan setelah makan malam dan terakhir diranjang saat keduanya akan tidur.


Eliya yang kelelahan pun segera terlelap berbeda dengan Ander yang masih berbaring miring menatapi wajah istrinya itu.


Ia belai wajah istrinya, wajah yang dulu dipenuhi jerawat kini sudah mulus terawat, wajah yang dulu sangat menyebalkan kini berubah menenangkan.


Entah apa yang Ander rasakan, Ander ingat ucapan Randi saat dikafe tadi,


Benarkah Ia bisa jatuh cinta pada Eliya? jatuh cinta pada wanita yang Ia benci, bahkan wanita yang ingin Ia hancurkan? sanggupkah Ander?.


"Brengsek! berhenti menganggumi dan lanjutkan semua rencana yang sudah hampir 75℅ berhasil. oh ayolah Ander jangan jatuh cinta pada wanita ini!" batin Ander melepaskan tangan yang sedari tadi menempel di pipi Eliya.


Paginya, Eliya setengah sadar, Ia mendengar suara aneh dari kamar mandi. Dengan mata lengket yang masih mengantuk Ia akhirnya berbalik menghadap ke arah Ander.


Ia melihat di sampingnya sudah tak ada Ander disana. Ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi disana.


Dan betapa terkejutnya Eliya melihat suara itu adalah suara Ander yang kini sudah berada di kamar mandi.


"Mas... kamu kenapa?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAAA...


__ADS_2