
Vano memasuki ruangan Revan, dimana Ia melihat Randi sudah duduk disofa.
"Hampir aja ketauan sama Mama kamu." kata Vano pada Revan.
"Mama ngapain kesini Pa? kok bisa ketauan?"
"Itu tuh gara gara orang itu, yang lagi duduk itu." Revan menatap ke arah Randi yang tengah cekikikan karena sindiran Vano.
"Alah, mentang mentang nggak jadi dapet jatah, aku kan yang disalahin."
"Lagian aku cuma mau nanya, itu Revan bedrestnya sampai kapan om? capek tau bantuin pipisnya trus." jelas Randi membuat Revan melotot ke arahnya.
"Yang ikhlas dong!" kesal Revan menatap Randi, "Kalau Lo nggak mau tinggal bilang, Gue bakal minta tolong sama-"
"Iya iya, gue ikhlas. awas aja Lo." Revan terkekeh mendengar kekhawatiran Randi.
"Lagian kenapa sih Om nggak bilang aja sama tante Riska? Ribet ntar kalau ketauan." kata Randi heran dengan Om nya yang kekeuh ingin menyembunyikan ini semua dari tante Riska.
"Ck, om Nggak mau Mamanya khawatir trus ntar kalau Mama nya Tau pasti bakal di sini nemenin Revan, lah om gimana dong?" kata Vano santai membuat Revan dan Rangga melonggo dibuatnya.
Jadi ini alasanya, mereka berdua pun geleng geleng kepala tak percaya. Bisa bisanya Vano tidak mau mengalah pada putranya sendiri.
"Tapi lihat aja Om, kalau sampai tante Riska tau bisa ri-"
Brakk.... Pintu terbuka kasar membuat ketiganya terkejut. Tak terkecuali Vano yang melotot melihat siapa yang datang dengan mata memerah.
"Tega kamu mas nggak bilang sama aku." kata Riska saat melewati Vano dan dibelakang Riska ada Ander dengan wajah sungkan merasa tak enak.
"Aku pikir tante udah tau, ternyata belum. maaf ya om." kata Ander dengan gaya cengegesan membuat Vano menatap sebal ke arahnya.
Riska menatap kondisi anaknya yang penuh luka dan perban, seketika Ia tak bisa membendung tangisnya. Riska terisak menangis.
Randi dan Ander pun memutuskan untuk keluar sejenak agar mereka bertiga bisa bicara. Dan Vano hanya bisa berdiri dibelakang Riska, seperti sudah siap dengan segala amukan yang nantinya akan Riska berikan padanya.
"Mama jangan nangis dong." pinta Revan dengan perasaan bersalah membuncah. Revan menyadari dirinya salah hanya karena rasa sakit hati nya membuatnya gelap mata hingga kini orang orang yang menyayanggi nya begitu terluka melihatnya sakit seperti ini.
Sepertinya memang benar, Ia harus move on dari Rania agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
"Kamu kenapa bisa seperti ini?" tanya Riska dengan suara terisak karena masih menangis.
"Kecelakaan mobil Ma." jawab Revan.
__ADS_1
Tak terduga, Riska malah memukul paha Revan "Makanya kalau naik mobil jangan ngebut ngebut." ucap Riska galak membuat Vano yang ada dibelakangnya tak bisa menahan tawa.
"Sakit Ma, huh anak lagi sakit juga masih aja disiksa." gerutu Revan.
Riska langsung saja menatap Vano yang terdengar cekikikan, "Nggak usah ketawa mas, aku marah sama kamu karena nggak bilang hal penting kayak gini!"
Seketika Vano bungkam dan sedikit panik "Ma, jangan marah dong. Papa nglakuin ini cuma nggak mau Mama khawatir berlebihan."
"Tapi Revan kan anak ku juga mas, harusnya kamu bilang. nggak disembunyiin gini." kesal Riska.
"Iya, aku tetep bilang tapi nggak sekarang, besok kalau keadaan Revan mulai membaik. ee malah sekarang Mama udah tau." jelas Vano mencari alasan "Jangan marah lagi ya sayang, nanti cepet tua lho, keriputan lho."
"Kenapa kalau tua keriputan? Papa mau cari istri lagi? yang lebih muda dan cantik?" dengus Riska menatap Vano sebal.
"Enggaklah mah, punya Mama aja udah cukup buat Papa." gombal Vano membuat Riska memutar bola matanya malas.
Meskipun memang benar, selama ini Vano tidak sekalipun melirik wanita yang padahal banyak wanita diluar sana yang mengoda dirinya minta dijadikan pelakor, tapi dengan tegas Vano menolak. Baginya sudah cukup memiliki seseorang yang pertama dan terakhir seperti Riska.
"Pa, Ma... kenapa malah kalian yang ribut di sini sih? aku lagi sakit lho." protes Revan melihat orangtuanya bertengkar didepannya. meski Revan sudah cukup terbiasa dengan kegilaan kedua orangtuanya yang tak pernah ingat berapa umur mereka hingga bertengkar layaknya anak muda yang baru kemarin pacaran.
Riska mulai fokus lagi menatap Revan, "Kepala kamu sampai diperban gini, apa parah banget?"
"Kok jadi Papa trus yang kena pukul." protes Vano.
"Makanya jangan bercanda mas, orang lagi serius juga."
"Aku juga serius mah."
"Pah, Mah, keluar aja deh kalau berisik trus." kesal Revan pada kedua orangtuanya. Ia merasakan seluruh tubuhnya nyeri, butuh istirahat malah kedua orangtuanya bertengkar masalah sepele didepannya membuatnya tambah sakit.
"Mama bakal jagain kamu di sini, 24 jam sampai sembuh." kata Riska membuat Vano melotot tak terima.
"Nggak bisa gitu dong Ma, Nasib Papa gimana?" protes Vano.
"Dirumah udah ada Bibik yang bisa masakin Papa sama siapin baju Papa." balas Riska santai.
"Trus kalau Papa pengen? harus sama Bibi juga?"
...
Rania keluar dari mobilnya, Ia lihat ban sebelah kiri bocor membuat Rania mengerutu kesal.
__ADS_1
Ia lihat kanan kiri, mencari bengkel terdekat. Dan mata Rania tersenyum lala melihat ada bengkel yang tak jauh dari mobilnya. Namun sesaat kemudian membaca nama bengkel itu, Vans car Rania baru ingat jika itu nama bengkel mobil milik Revan.
Dengan terpaksa Rania membawa mobilnya kesana, karena Ia juga tak begitu hafal daerah sini dan tak ingin berlama lama disini.
Sesampainya di bengkel, Rania disambut baik oleh para montir Revan, Rania melihat montir Revan masih muda muda. Dari sekian banyak montir Rania tak melihat Revan.
"Mungkin lagi sibuk ditempat lain." batin Rania.
"Mau servis kak?" tanya salah satu montir yang menghampirinya.
"Oh Enggak, ban saya bocor." Rania menunjuk Ban bagian kiri yang kempes.
Montir itu mengangguk dan langsung membawa mobil Rania menuju tempat eksekusi.
Rania menunggu disalah satu kursi yang disediakan disana. hampir 30 menit akhirnya selesai.
Saat ingin membayar, Rania iseng bertanya pada salah satu montir yang berjaga dikasir.
"Emm pemilik bengkelnya ada?"
"Mas Revan maksudnya?" tanya montir itu memastikan.
Rania mengangguk,
"Lagi sakit mbak." kata montir itu.
Rania terkejut, "Sakit apa?"
"Kecelakaan mbak, kemarin malem."
Deg... jantung Rania rasanya berhenti berdetak saat ini juga.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAA
makasih buat yang udah selalu nunggu cerita ini,...
Oh ya jangan lupa mampir ke cerita sebelah ya, judulnya IBU PENGGANTI UNTUK ZAHRA, insyaAllah bakal sering update bareng...
makasih semuanya...
__ADS_1