DIJEBAK PERJODOHAN

DIJEBAK PERJODOHAN
61


__ADS_3

Randi bingung dengan sikap Ander, bukannya Ia sibuk mengajak istrinya pulang malah menghubungi mereka dan mengajak mereka berkumpul di kafe Rania.


Pria itu benar benar, baru saja tadi siang mengatakan jika mencintai Eliya namun kenyataan nya tidak ada perjuangan batin Randi menatap kesal Ander.


"Tumben nih calon bapak ngajakin kumpul." goda Revan "kek nya lagi ada masalah."


"Nggak usah banyak bacot." balas Ander kesal.


"Hay kalian, duh udah lama banget nih nggak ngumpul paket komplit kayak gini." Kata Rania yang tiba tiba datang dan mengatakan dengan suara centil.


"Ada menu baru nggak Ran?" tanya Randi yang sedari tadi hanya membolak balikan buku menu namun tak kunjung memesan.


"Belum ada, soalnya lagi sibuk akhir akhir ini."


"Sibuk ngrusak rumah tangga orang." batin Ander menatap Rania sinis.


Sementara Rania duduk di tengah tengah antara Ander dan Revan. Mata Ander terus saja melihat gerak gerik Rania yang mencurigakan.


Hingga Ia akhirnya melihat Rania menempelkan sesuatu dibawah meja. Ander pun tersenyum puas karena berhasil menangkap basah Rania tanpa diketahui Rania.


Jadi selama ini Rania selalu mendengar apa yang mereka bicarakan dengan ini, namun satu hal yang membuat Ander bertanya tanya, untuk apa Rania melakukan ini semua?


"Oke, gue ke belakang dulu ya. kalian lanjutin lagi ngobrolnya biar ntar karyawan gue yang datang buat anter pesenan." kata Rania bergegas pergi dengan raut wajah tersenyum karena berhasil memasang alat perekam lagi.


Dulu saat mereka setiap hari datang, Rania memasang alat perekam saat sore hari sebelum mereka datang namun sekarang karena mereka jarang datang jadi Rania memasang saat mereka datang karena Rania takut jika orang lain yang menempati dan mengetahui alat perekam itu bisa membuat customer nya menuntut kafe miliknya karena telah menganggu privasi mereka.


"Semoga aku mendapatkan sesuatu yang bisa membuat rumah tangga Ander semakin hancur." batin Rania dengan senyuman licik.


...


"Urusan Lo sama bini Lo emang udah kelar? bisa bisanya Lo makan santai di sini." kata Randi dengan wajah kesal karena Ander sedari tadi malah asyik menikmati makanannya.


"Gue ketinggalan ya? kok gue nggak tau apa apa sih." heran Revan apalagi melihat wajah kedua saudara nya yang sama sama lebam.


Ander menghentikan makan nya, "Gue ada misi di sini."


"Misi apaan?"


Ander tersenyum lalu merogoh sesuatu dibawah meja dan Ia memperlihatkan sebuah alat perekam pada Randi dan Revan.


"Anjir... jadi selama ini kita direkam?"


"Siapa pelakunya?" tanya Randi.


"Pemilik kafe."

__ADS_1


"Rania?" Revan terlihat tak percaya. "Nggak usah ngaco." Revan membela Rania karena merasa tak ada sesuatu yang aneh yang di lakukan Rania selama ini.


"Lo ada bukti?" tanya Randi.


"Dia yang datengi Eliya dan ngasih rekaman sama Eliya."


"Rekaman apa sih?" Revan terlihat bingung tak mengerti maksud Ander.


"Lo tau dari mana?" Baik Randi dan Ander sama sama tak mengubris Revan yang terlihat kebingungan.


"Dari cctv toko."


"Gila banget tuh cewek, mau buat apa coba?" heran Randi masih tak percaya.


"Anjir, kalian ngomong apa sih? perasaan gue dari tadi kek orang bego nggak paham sendiri." kesal Revan.


"Ntar gue jelasin." kata Randi.


"Trus apa rencana Lo?" tanya Randi pada Ander.


Ander menghela nafas berat "Gue butuh ngomong sama tuh cewek."


"Oke, kita duluan kalau gitu."


"Mereka kenapa sih? aneh banget." kata Rania mendekati meja Ander saat melihat Randi yang keluar menyeret Revan.


"Makanan nya juga nggak di habisin lagi."


Ander tak menjawab, Ia menatap Rania membuat Rania gugup.


"Lo kenapa sih? ngeliatin nya gitu amat?" heran Rania.


Ander mengeluarkan alat perekam yang tadinya ada dibawah meja lalu memperlihatkan pada Rania.


Seketika Rania membegap mulutnya karena ketahuan,


"Apa maksud nya ini?" tanya Ander dengan nada santai tanpa amarah.


"It-itu..." Rania terlalu gugup hingga bibirnya sulit untuk menjawab.


"Jadi selama ini Lo rekam pembicaraan kita, buat apa?"


Rania menunduk diam, Ia bahkan sudah sangat malu sekali saat ini, bahkan bibirnya sulit untuk menjawab.


"Gue bisa tuntut kafe Lo karena ini." ancam Ander yang langsung membuat Rania memucat.

__ADS_1


"Jangan, jangan lakukan itu Gue mohon Ander, Gue merintis kafe ini dari nol. gue mohon jangan hancurkan kafe ini." Mata Rania mulai memerah seperti ingin menangis membuat Ander ingin menertawakan nya. Dia berani berbuat jahat tapi takut hanya karena sedikit ancaman saja padahal Ander bisa melakukan hal yang lebih jahat dari membuat kafe nya bangkrut.


"Jadi jelasin aja sekarang." kata Ander dengan nada suara mulai tinggi.


"Oke gue jelasin."


Rania menghela nafas berat , "Gue suka sama Lo. udah lama gue suka sama Lo, itu alesan gue rekam setiap kalian ngumpul di sini karena gue pengen denger suara Lo sebelum tidur. itu alesan gue."


"Tapi selama ini Lo sama sekali nggak ngelihat ke arah gue."


"Dan parahnya Gue denger Lo mau nikah, sejujurnya saat itu gue udah nyerah, gue udah mau move on."


"Trus gue denger suara rekaman Lo, Lo bilang nggak cinta sama istri Lo jadi gue usaha lagi dan Lo lagi lagi masih nggak peduli sama gue."


Rania tak kuasa menahan tangisnya "Dan akhirnya gue kasih rekaman itu ke istri lo, gue pikir itu bisa bantu Lo buat pisah sama istri Lo."


Ander terkekeh, "Lo terlalu ikut campur masalah gue dan itu udah bikin gue nggak lagi respect sama Lo."


Rania terkejut dengan ucapan Ander, Ia kembali menangis.


"Gue udah tau alesan Lo, jadi gue pikir kita udah selesai. kalau sampai rumah tangga gue hancur, Lo bakal tau akibatnya." ancam Ander lalu Ia bangkit dan meninggalkan Rania yang masih menangis.


"Kenapa Lo bisa sejahat ini sama Gue, padahal selama ini gue sayang sama Lo tulus." batin Rania masih duduk dan menangis membuat orang orang menatap ke arahnya heran.


....


"Jadi gitu ceritanya." ucap Randi kala usai menjelaskan permasalahan pada Revan.


"Gila..." gumam Revan.


"Gila kenapa?"


"Jadi selama ini kita cerita tentang cewek cewek bohay, Rania juga ikut denger?"


"Pastilah, nah Lo kenapa panik? naksir sama Rania? takut Rania tau gimana ganjen nya Lo sama customer." Ejek Randi membuat Revan gelagapan pasalnya apa yang Randi ucapkan itu benar.


"Tapi alesan nya apa?" heran Revan masih tak menyangka Rania senekat itu.


"Mana gue tau."


Bener bener udah nekat tuh cewek batin Revan.


Bersambung....


jangan lupa like vote dan komen ...

__ADS_1


__ADS_2